IMG-LOGO
Home Ekonomi Bersatu Menggalang Rupiah
Ekonomi

Bersatu Menggalang Rupiah

- 2018-09-04
IMG

\"\"

Oleh Gatot Manan

Angin keuangan bertiup kencang. Beberapa negara dibuat kelimpungan, yaitu Argentina dan Turki. Pengelolaan ekonomi secara disiplin menjadi kunci.

Pembalap Argentina

Ekonomi Argentina dibawa ngebut dengan kecepatan penuh. Mesinnya kepanasan membuat harga barang berterbangan. Momok inflasi belum membuat pemerintah jera, demi target pertumbuhan. Pemerintah masih ingin ngebut. Adrenalin Mario Andretti (pembalab Argentina era 1980-an) mengalir dalam nadi pemimpinnya.

Dua mesin ekonomi dinyalakan, defisit fiskal dan neraca berjalan. Bank sentral  dikendalikan pemerintah. Independensinya tanggal di laci. 

Dampaknya mudah diduga. Ekonomi Argentina menabrak batas pengaman. Hantu inflasi dan kejatuhan peso mencengkeram warga. Kisah negeri Messi memberi pelajaran negara lain. Abai kehati-hatian berujung badai bertiup kencang. 

Turki mengalami nasib mirip. Presiden Erdogan mengerahkan semua tenaga demi pertumbuhan. Yang berseberangan diminta mundur. Menteri Keuangan dipercayakan anak menantu. Gubernur bank sentral dipangkas masa jabatannya. Independensi kelembagaan dilepas satu persatu. Utang luar negeri menggunung diatas batas  aman.

Untung punya tetangga baik. Qatar hadir tepat saat ekonomi Turki akan membentur karang. Lagi-lagi pelajaran berharga dari negeri asal leluhur Mesut Ozil. Displin menjaga kehati-hatian ekonomi tak bisa ditawar lagi.

Pandemik

Badai ekonomi saat ini bersifat pandemik. Terjadi melanda seluruh negara tanpa kecuali. Cuaca memang sedang buruk. Tak guna menyalahkan kondisi. Kemampuan adaptif diperlukan agar cepat menyesuaikan dengan situasi.

Nusantara menghadapi ujian. Belum habis Lombok berduka. Sumba menyusul nestapa. Sebagai konsekuensi tinggal di lempengan gempa. Pastinya hanya orang terpilih yang menjadi penduduknya. Ujian susul menyusul membuat lebih kuat, tahan banting.

Jepang maju karena warganya teruji gempa ratusan tahun. Eropa maju karena penduduknya ditempa musim dingin panjang. Indonesia akan tangguh karena lulus ujian untaian gempa.

Gempa bukan hanya tektonik. Gempa keuangan berdampak lebih masif. Terasa dari jantung Jakarta sampai pedalaman Papua. Seluruh elemen masyarakat terkena getahnya.

Berat memang tapi dibalik nestapa tersimpan permata. Perlu tak kenal lelah mengambil hikmah. Untuk menemukan permata yang hilang. 

Episenter Gempa 

Episenter gempa keuangan berada di negeri Paman Sam. Presiden Trump menginjak habis pedal gas ekonomi. Stimulus pajak rendah ditempuh. Ekonomi AS ngebut sendirian, meninggalkan negara lain di belakang.

Agar ekonomi tidak melaju kecepetan, bank sentralnya (Federal Reserves) kalang kabut menaikkan suku bunga. Kebijakan Fed ini menjadi sumber penguatan super dolar.

Mata uang di seantero dunia rontok, tanpa terkecuali. Negara Asia umumnya produsen pencetak surplus ekspor. Singapura, Malaysia, Thailand, Korea, China, Jepang, dikenal sebagai eksportir tangguh. Ekspor mereka menelorkan penerimaan dolar. Namun mata uangnya juga terhempas.

Pelemahan mata uang menjalar ke seluruh penjuru bumi. Tak ada negara berhasil lolos. Meski sembunyi di balik jerami. 

Berat dirasakan masyarakat dunia. Namun mereka terbiasa dengan mata uang yang bergerak fleksibel. Dinamika pasar membentuk keseimbangan baru. Dari waktu ke waktu harga menyesuaikan kesepakatan baru, antara pembeli dan penjual. Kegiatan pasar bergerak dinamis 24 jam, lintas batas benua dan waktu.

Galang Rupiah

Pelemahan matauang menghukum negara yang tak disiplin mengelola ekonomi. Pemerintah Indonesia berkomitmen menjaga indikator makro secara hati-hati.

Pembangunan infrastruktur meningkatkan impor barang modal. Memang neraca berjalan mencatat defisit. Perlu dicermati bahwa defisitnya berkualitas.

Infrastruktur memperkuat kapasitas ekonomi dan produksi. Skala produksi besar memangkas biaya menjadi efektif. Produk ekspor menjadi kompetitif dan bersaing kedepan.

Kebijakan ekonomi mendukung kegiatan produktif. Di awal menjadi pil pahit. Bak obat akan membuat ekonomi tangguh kedepan.  Pengelolaan ekonomi bukanlah gula-gula manis tapi akhirnya diabetes.

Bentuk kehati-hatian berupa penjadwalan ulang infrastruktur. Proyek yang belum jalan ditunda. Komponen lokal digunakan sebagai bahan baku ekspor. Solar dicampur 20% biodisel atau B20.  Semua dilakukan untuk menghemat dolar.

Destinasi wisata digarap apik, melanjutkan impresi Asian Games. Defisit neraca berjalan harus dikendalikan. Program stabilisasi merupakan gawe nasional.

Semua pihak perlu menggalang lengan membentuk kekuatan rupiah. Pemerintah menerapkan disiplin kehati-hatian. Korporasi tak perlu membabi buta memborong dolar.  Perorangan tak perlu kalang kabut melarikan rupiah. Biasa saja, hari-hari perorangan gunakan rupiah sebagai media transaksi. Bank turut menjadi agen stabilisasi. Depresiasi rupiah perlu disikapi wajar.

Mari saling bergandeng tangan. Memang level psikologis rupiah menciutkan nyali. Tapi itulah perubahan, terus bergulir seiring waktu. Bersama-sama  kita bisa melalui. Lulus ujian untuk menjadikan lebih baik kedepan.

Adaptif

Soalnya bagaimana menjadi adaptif. Cepat menyesuaikan diri dengan kondisi terkini. Bangsa besar selalu belajar dari pengalaman. Tidak mengulang lobang kesalahan sama.

Rupiah menjadi representasi kemampuan bersaing entitas domestik. Bagaimana perusahaan lokal bersaing dengan asing. Kasat mata kita paham gerai mall penuh brand asing. Starbuck, McDonald, KFC. Porsi keuntungan mengalir kembali ke negara asal. 

Bagaimana dengan brand lokal. Ada gudheg Yu Djum, Ayam Kalasan, Bakwan Malang, tidak menjadi tuan di negeri sendiri.  Konsumen mestinya berpikir dua kali menggunakan brand luar. Produsen domestik pastinya habis-habisan meningkatkan kualitas. Gak rela kalah mutu dengan asing.

Semua bangga Indonesia. Asian Games 2018 membuktikan Indonesia hebat. Indonesia kuat. Kami bangga Indonesia. Kami bangga rupiah. Garuda di dadaku, rupiah di sakuku.  

Salam Garuda

(Bersatu Menggalang Rupiah/Gatot Manan/Gloopic.net/Jala).

Tags: