IMG-LOGO
Home Penerbangan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP)
Penerbangan

Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP)

- 2020-01-06
IMG

oleh : Bagoes Poetra R

\"\"

Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) adalah tanah dan/atau perairan dan ruang  udara di sekitar bandar udara yang dipergunakan untuk kegiatan operasi penerbangan dalam rangka menjamin keselamatan penerbangan.

Sesuai dengan ICAO Annex 14 Vol. I Aerodromes, Chapter 4, disebutkan bahwa : “The objectives of the specifications in this chapter are to define the airspace around aerodromes to be maintained free from obstacles so as to permit the intended aeroplane operations at the aerodromes to be conducted safely and to prevent the aerodromes from becoming unusable by the growth of obstacles around the aerodromes. This is achieved by establishing a series of obstacle limitation surfaces that define the limits to which objects may project into the airspace.”

Kawasan keselamatan operasi penerbangan (KKOP) adalah untuk menentukan wilayah udara sekitar bandar udara yang dipertahankan bebas dari hambatan (obstacle) sehingga dapat menjamin keselamatan operasi pesawat udara yang akan mempergunakan bandar udara dan untuk mencegah tumbuhnya penghalang (obstacle) baru di sekitar bandar udara. KKOP ditentukan dengan membentuk serangkaian permukaan yang mebatasi  ketinggian objek yang mungkin tumbuh di wilayah sekitar bandar udara.

Kawasan keselamatan operasi penerbangan (KKOP) di bandar udara dan sekitarnya diukur dan ditentukan dengan bertitik tolak pada rencana induk bandar udara dan berdasarkan persyaratan permukaan batas penghalang sesuai ICAO Annex 14 dan dinyatakan dalam system koordinat geografis dalam referensi World Geodetic System 1984 (WGS’84).

Ketinggian kawasan keselamatan operasi penerbangan ditentukan dan dihitung dari ambang landas pacu terendah sebagai referensi (Aerodrome Elevation System / AES) dan jarak terluar masing-masing kawsan ditentukan sebagaimana dalam tabel 1 dan tabel 2 di bawah.

Penentuan kawasan keselamatan operasi penerbangan terdiri atas :

\"\"

Untuk menentukan kawasan keselamatan operasi penerbangan di bandar udara dan sekitarnya, analisis kawasan berdasarkan pada klasifikasi landas pacu yaitu : 

  1. Instrument Precision Approach, category I, Code number 1 and 2;
  2. Instrument Precision Approach, category I, Code number 3 and 4;
  3. Instrument Precision Approach, category II or III, Code number 3 and 4;
  4. Instrument Non Precision Approach, Code number 1 and 2;
  5. Instrument Non Precision Approach, Code number 3;
  6. Instrument Non Precision Approach, Code number 4;
  7. Non Instrument, Code number 1;
  8. Non Instrument, Code number 2;
  9. Non Instrument, Code number 3;
  10. Non Instrument, Code number 4;

 \"\"

Tabel 1. Dimensi dan slope kawasan keselamatan operasi penerbangan – Approach runways

 

Dimensi fisik take-off climb OLS surfaces untuk take-off runways harus ditentukan dengan menggunakan Tabel 2 sebagai berikut :

Runway yang digunakan untuk operasi transportasi udara pada malam hari menggunakan pesawat terbang dengan massa take-off maksimum (maximum take-off mass) tidak melebihi 5,700 kg disyaratkan untuk memenuhi standar kode 2.

  1. Semua dimensi diukur secara horisontal kecuali ditentukan lebih lanjut.
  2. Panjang inner edge dapat dikurangi menjadi to 90 m jika runway ditujukan untuk digunakan oleh pesawat terbang dengan massa kurang dari 22,700 kg dan beroperasi dalam VMC pada siang hari. Dalam kasus ini lebar akhir adalah 600 m, kecuali flight path perlu dirubah heading-nya melebihi 15°.
  3. Take-off climb surface dimulai dari ujung clearway, jika adanya clearway diperlukan.
  4. Lebar akhir dapat dikurangi menjadi 1.200 m jika runway hanya digunakan oleh pesawat terbang dengan prosedur takeoff yang tidak memerlukan perubahan dalam heading hingga lebih besar dari 15° untuk operasi yang dilakukan dalam IMC atau pada malam hari.
  5. Karakteristik operasional dari pesawat terbang yang menjadi pengguna utama runway harus diuji untuk mengetahui apakah perlu mengurangi kemiringan untuk mengantisipasi kondisi operasi yang kritis. Jika kemiringan yang ditetapkan dikurangi, perubahan selanjutnya pada panjang take-off climb juga harus dibuat untuk memberikan perlindungan hingga ketinggian 300 m. Jika tidak ada objek yang mencapai 2% take-off climb surface, objek-objek yang baru harus dibatasi untuk mempertahankan obstacle free surface yang telah ada saat ini, atau dilakukan penurunan permukaan dengan kemiringan 1.6%

Hambatan (obstacle) didefinisikan sebagai :

(a) sebarang objek, bangunan atau benda tumbuh yang berdiri pada, atau berdiri di atas, permukaan tertentu pada obstacle restriction area yang terdiri dari runway strip, runway end safety area, clearway dan taxiway strip; dan

(b) sebarang objek, bangunan atau benda tumbuhyang memasuki kawasan keselamatan operasi penerbangan (KKOP) / obstacle limitation surfaces (OLS) yaitu suatu rangkaian permukaan yang menetapkan batasan tinggi objek, di sekitar bandar udara.

Peralatan dan instalasi yang dibutuhkan untuk tujuan navigasi udara dibuat seminimum mungkin massa dan ketinggiannya, didisain dan dibangun agar tidak mengganggu pandangan, dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga mengurangi gangguan terhadap pesawat terbang hingga ke taraf sekecil mungkin.

 

Pengertian Umum

  1. Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) adalah tanah dan/atau perairan dan ruang udara di sekitar bandar udara yang dipergunakan untuk kegiatan operasi penerbangan dalam rangka menjamin keselamatan penerbangan.
  2. Kawasan Ancangan Pendaratan dan Lepas Landas adalah suatu kawasan perpanjangan kedua ujung landasan, di bawah lintasan pesawat udara setelah lepas landas atau akan mendarat, yang dibatasi oleh ukuran panjang dan  lebar  tertentu.
  3. Kawasan Kemungkinan Bahaya Kecelakaan adalah sebagian dari kawasan  pendekatan yang  berbatasan  langsung  dengan  ujung-ujung landasan  dan mempunyai ukuran tertentu, yang  dapat  menimbulkan kemungkinan  terjadinya kecelakaan.
  4. Kawasan Di bawah Permukaan Horizontal  Dalam adalah bidang datar di atas dan di sekitar bandar udara yang dibatasi oleh radius dan ketinggian dengan  ukuran tertentu untuk kepentingan pesawat udara melakukan terbang  rendah pada waktu akan mendarat atau setelah lepas landas.
  5. Kawasan Dibawah Permukaan Horizontal  Luar adalah bidang datar di sekitar bandar udara yang dibatasi oleh radius dan ketinggian dengan ukuran tertentu untuk kepentingan keselamatan dan efisiensi operasi penerbangan antara lain pada waktu pesawat melakukan pendekatan untuk  mendarat  dan gerakan setelah tinggal landas atau gerakan dalam hal  mengalami  kegagalan  dalam pendaratan.
  6. Kawasan Di bawah Permukaan Kerucut adalah bidang dari suatu kerucut yang bagian bawahnya dibatasi oleh garis perpotongan dengan horizontal dalam dan bagian atasnya dibatasi oleh garis  perpotongan dengan permukaan horizontal luar, masing-masing dengan radius dan ketinggian  tertentu  dihitung  dari  titik referensi  yang ditentukan.
  7. Kawasan Di bawah Permukaan Transisi adalah bidang dengan kemiringan tertentu sejajar dengan dan berjarak tertentu dari poros landasan , pada bagian  bawah dibatasi oleh titik perpotongan dengan garis - garis  datar yang ditarik  tegak  lurus pada  poros landasan dan pada bagian  atas dibatasi  oleh  garis  perpotongan dengan permukaan horizontal dalam.
  8. Permukaan Utama adalah permukaan yang garis tengahnya berhimpit dengan sumbu landasan yang membentang sampai panjang tertentu diluar setiap ujung landasan dan lebar tertentu, dengan ketinggian untuk setiap titik pada permukaan utama diperhitungkan sama dengan ketinggian titik terdekat pada sumbu landasan;
  9. Kawasan  di sekitar  Penempatan  Alat  Bantu  Navigasi  Penerbangan adalah kawasan di sekitar penempatan alat bantu navigasi penerbangan di dalam dan/atau diluar Daerah Lingkungan Kerja, yang penggunaannya harus memenuhi persyaratan tertentu guna menjamin kinerja/efisiensi alat bantu navigasi penerbangan dan keselamatan penerbangan;
  10. Permukaan Kerucut pada Alat  Bantu  Navigasi  Penerbangan adalah kawasan di atas permukaan garis sudut yang dibatasi oleh garis jarak dengan radius dan ketinggian tertentu dihitung dari titik referensi yang ditentukan pada masing-masing peralatan;
  11. Elevasi Dasar pada Alat  Bantu  Navigasi  Penerbanganadalah ketinggian dasar suatu titik atau kawasan terhadap permukaan laut rata-rata (MSL);
  12. Aerodrome Reference Point (ARP)adalah titik koordinat bandar udara yang menunjukkan posisi bandar udara terhadap koordinat geografis;
  13. Koordinat Geografis adalah posisi tempat / titik di permukaan bumi yang dinyatakan dengan besaran Lintang (L) dan Bujur (B) dengan satuan derajat, menit dan detik yang mengacu terhadap bidang referensi World Geodetic System 1984 (WGS\'84);
  14. Sistem Koordinat Bandar Udara atau Aerodrome Coordinate System (ACS)adalah sistim koordinat lokal pada bandar udara yang menggunakan sistim kartesius  dengan  referensi  titik  koordinat  (X = + 20.000 m ; Y = + 20.000 m)  terletak  pada garis perpotongan  sumbu X yang berhimpit dengan salah satu garis sumbu  landasan  dan  garis sumbu Y tegak lurus garis sumbu X yang terletak pada ujung landasan tersebut (yang diperkirakan tidak mengalami perubahan perpanjangan landasan).
  15. Sistim  Elevasi  Bandar  Udara atau Aerodrome Elevation System (AES)adalah sistim ketinggian lokal bandar udara dimana ambang landas pacu (ujung over run) terendah yang dipergunakan sebagai titik referensi terhadap ketinggian titik-titik lainnya dengan besaran ketinggian ambang landasan terendah adalah  0,00 m AES.

Tags: