IMG-LOGO
Home Teknologi Apakah Kemampuan ‘Membaca Kepribadian Orang’ Benar-Benar Ada?
Teknologi

Apakah Kemampuan ‘Membaca Kepribadian Orang’ Benar-Benar Ada?

- 2018-08-07
IMG

\"\"

ARCHIVE PHOTOS/GETTY IMAGES Image caption Tokoh fiktif seperti Sherlock Holmes diceritakan memiliki kemampuan luar biasa dalam membaca kepribadian orang lain.

Cerita fiksi dipenuhi tokoh jagoan dan penjahat dengan kemampuan ajaib untuk memahami karakter orang lain—misalnya Hannibal Lecter atau Sherlock Holmes. Di kehidupan nyata juga banyak orang (termasuk seorang pemimpin negara) merasa punya kemampuan ini.

Tapi apakah beberapa orang di antara kita benar-benar memiliki kemampuan luar biasa dalam menilai kepribadian orang lain?

Para psikolog menyebut orang-orang seperti itu atau ide tentang mereka sebagai penilai yang baik. Dan selama lebih dari seabad, mereka berusaha menjawab pertanyaan apakah para penilai yang baik ini benar-benar ada, dilansir dari laman BBC.

Sampai belakangan ini, kesimpulannya ialah konsep tersebut hanya mitos belaka.

Menurut penelitian kebanyakan dari kita cukup berbakat dalam menentukan karakter satu sama lain. Namun hampir tidak ada variasi dalam kemampuan tersebut dari satu orang ke yang lain.

Bagaimanapun, sebuah laporan ilmiah terbaru memaksa para ilmuwan berpikir ulang dengan menyodorkan bukti baru dan kuat bahwa penilai yang baik memang ada.

Namun kemampuan mereka baru jelas ketika membaca orang-orang ekspresif yang mengungkapkan tanda-tanda jujur tentang karakter mereka.

\"Singkatnya, laporan yang menyoroti ketidaksesuaian penilai yang baik mungkin terlalu berlebih-lebihan,\" kata Katherine Rogers dari Universitas Tennesse dan Jeremy Biesanz dari Universitas British Columbia.

\"\"

HARTSWOOD FILMS/BBC Image caption Orang yang pandai menilai kepribadian dan karakter orang lain mungkin memang benar-benar ada.

Salah satu upaya pertama untuk mengidentifikasi \'penilai yang baik\' dipublikasikan oleh psikolog asal Amerika Serikat, Henry F. Adams, pada 1927.

Adams meminta delapan tim yang terdiri dari 10 perempuan muda, yang saling mengenal satu sama lain, untuk menilai kepribadian masing-masing. Ia juga meminta mereka menilai kepribadian mereka sendiri.

Adams merata-ratakan nilai yang diterima setiap sukarelawan dari sukarelawan lainnya untuk mendapatkan kepribadian mereka yang \'sebenarnya\'.

Kemudian Adams mengolah angka itu untuk melihat apakah beberapa individu memiliki kemampuan tak biasa untuk menilai karakter secara akurat, baik karakter orang lain, maupun diri sendiri.

Adams menemukan bahwa menjadi \'penilai yang baik\' bagi orang lain tidak selalu membuat Anda disukai. Ia berkata, mereka, kendati secara mental cepat dan lincah, \"cenderung mudah tersinggung, gampang marah, muram, dan kurang keberanian\".

Teori Adams, secara paradoks, menyebut \'penilai yang baik\' atas karakter orang lain adalah pribadi yang egosentris: mereka hanya melihat orang lain sebagai alat untuk mencapai tujuan mereka.

Para perempuan yang menilai diri mereka dengan baik, kebalikannya, ia anggap bijaksana, sopan, dan populer, serta lebih tertarik pada bagaimana mereka bisa melayani orang lain.

Namun pada dekade 1950-an, konsep tentang penilai yang baik mulai tampak meragukan. Pertama muncul kritik tajam terhadap metode yang digunakan James dan koleganya untuk mengidentifikasi penilai yang baik.

Kemudian data yang dipublikasikan menunjukkan, kemampuan luar biasa dari orang-orang yang disebut penilai yang baik tidak bisa digunakan dalam situasi lain.

Selama berpuluh-puluh tahun setelahnya, usaha lebih lanjut untuk menunjukkan eksistensi penilai yang baik setidaknya bisa dibilang inkonsisten.

\"\"

GETTY IMAGES Image caption Sebuah penelitian menunjukkan bahwa penilai yang baik dalam satu situasi mungkin tidak demikian di situasi lainnya.

Di sinilah Rogers dan Biesanz berperan. Mereka menilai ada dua alasan utama untuk bukti yang lemah tentang penilai yang baik.

Pertama, para peneliti tidak konsisten terhadap hal yang mereka maksud sebagai \'penilai yang baik\'. Kadang-kadang yang mereka maksud ialah kemampuan untuk membaca kepribadian, tapi di waktu yang lain mereka mengamati kemampuan lain seperti membaca emosi atau mendeteksi kebohongan — kesalahan yang signifikan karena bukti menunjukkan bahwa ini semua kemampuan yang berbeda.

Kedua, para peneliti luput mempertimbangkan peran dari orang yang kepribadiannya dibaca.

Rogers dan Biesanz mengungkap, bukan hanya ada \'penilai yang baik\', tapi juga \'target yang baik\' — orang yang menunjukkan tanda-tanda relevan dan berguna tentang kepribadian mereka. Kemampuan para \'penilai yang baik\' baru akan muncul ketika membaca target yang baik.

\"Seperti buku teks kalkulus di Amazon yang tidak menyediakan konten sampel dan tidak akan dipahami oleh dosen maupun mahasiswa yang tidak paham aritmatika, buku teks kalkulus yang memuat contoh akan dipahami dengan baik oleh dosen kalkulus daripada si mahasiswa aritmatika,\" tulis mereka.

\"\"

SUNSET BOULEVARD/GETTY IMAGES Image caption Riset terbaru menaksir kemampuan partisipan untuk menilai karakter seseorang dalam waktu tiga menit setelah menemui orang tersebut.

Untuk menguji argumen mereka, Rogers dan Biesanz merekrut ribuan mahasiswa untuk menonton video atau mengobrol dengan seseorang yang tidak mereka kenali selama tiga menit, kemudian menilai kepribadian orang tersebut.

Nilai dari mahasiswa lantas dibandingkan dengan \'kepribadian sebenarnya\' si target, berdasarkan deskripsi dirinya sendiri dan penilaian dari kawan atau saudara yang mengenalnya dengan baik.

Selain menganalisis data untuk melihat dapatkah beberapa partisipan secara luar biasa akurat dalam menilai kepribadian orang lain, Rogers dan Biesanz juga mengategorikan para mahasiswa itu, berdasarkan seberapa akurat, secara rata-rata, partisipan bisa menilai mereka.

\"\"

GETTY IMAGES Image caption Penilai karakter yang baik memang ada—tapi bakat mereka hanya muncul ketika menghadapi individu yang memberikan tanda-tanda kuat tentang karakter mereka.

Data menunjukkan, terdapat penilai yang baik — sebagian kecil partisipan yang secara signifikan lebih baik dari peserta lainnya.

Namun data tersebut juga menunjukkan bahwa kecenderungan yang ada hanya benar dalam konteks menilai target yang baik.

\"Kami menemukan bukti yang jelas, konsisten, dan kuat bahwa penilai yang baik memang ada\", Rogers dan Biesanz menyimpulkan.

Tapi inti penemuan mereka ialah keterampilan ini hanya bisa diterapkan dalam menilai beberapa individu yang lebih terbuka.

Ini berarti bahwa anggapan akan adanya \"kemampuan ajaib untuk menilai kepribadian orang lain, seperti diperlihatkan oleh tokoh seperti Sherlock Holmes atau The Mentalist, tidak didukung oleh penelitian ini.\"

\"\"

Tokoh seperti Sherlock Holmes, yang bisa membaca kepribadian \'asli\' seseorang dengan tanda-tanda yang sangat halus, mungkin hanya ada dalam fiksi.

Dengan membandingkan kemampuan yang ditunjukkan para \'penilai yang baik\' dalam interaksi langsung dan video, para peneliti juga mempertimbangkan apakah keterampilan \'para penilai\' ini murni dalam mendeteksi tanda-tanda yang diperlihatkan atau dalam memengaruhi target untuk memperlihatkan tanda-tanda itu.

Hasilnya samar-samar — keterampilan itu tampaknya lebih sering berupa kemampuan membaca tanda, meskipun performanya sedikit lebih tinggi dalam interaksi langsung, yang mengindikasikan mungkin ada pengaruh dari kemampuan untuk menampakkan tanda-tanda itu.

Namun setidaknya untuk interaksi singkat, \'senjata\' utama seorang penilai yang baik ialah \"kemampuan untuk mendeteksi dan menggunakan informasi yang disediakan oleh targetnya secara tepat.\"

Yang menarik dari penemuan baru ini, sekarang kita tahu, orang yang pandai menilai karakter orang lain memang ada dan bagaimana cara mengenali mereka diuji dengan \'target yang baik\'.

Ini berarti bahwa kita bisa melakukan penelitian lebih lanjut tentang cara mereka melakukannya, orang-orang seperti apakah mereka dan apakah kemampuan ini bisa diajarkan.

(Apakah Kemampuan ‘Membaca Kepribadian Orang’ Benar-Benar Ada?/www.bbc.com/indonesia/Gloopic.net/Jala).

Tags: