IMG-LOGO
Home Teknologi Tentang mansplaining: Cara pria menjelaskan (dengan unsur melecehkan)
Teknologi

Tentang mansplaining: Cara pria menjelaskan (dengan unsur melecehkan)

- 2018-08-22
IMG

\"\"

Kim Goodwin diminta untuk membantu beberapa rekan kerjanya mengetahui apakah mereka sedang membantu atau meremehkan. Jadi dia membuat sebuah diagram yang sederhana - yang ternyata menjadi viral, dilansir dari laman BBC.

Dua rekan pria baru-baru ini bertanya kepada saya, dengan tak terduga, \"Bagaimana saya tahu jika saya sedang mansplaining?\"

Mansplaining berasal dari man (pria) dan explaining (menjelaskan) adalah saat seorang pria menjelaskan sesuatu dengan cara meremehkan kepada perempuan.

Kedua rekan ini adalah pakar yang sering diminta untuk menjelaskan konsep-konsep kepada rekan kerja di luar bidang mereka.

Keduanya khawatir akan penjelasan yang diambil dengan cara yang salah.

Saya bertanya-tanya: Apakah benar-benar sulit untuk mengetahui perbedaan antara merendahkan atau hanya sekedar menjelaskan oleh pria?

“Ribuan pengguna Twitter yang diduga perempuan mulai membagikan diagram itu, meminta untuk mencetaknya di kartu nama atau menempelkannya ke dahi laki-laki.”

Ketika orang-orang (hampir selalu pria) menjelaskan metode desain produk dalam buku saya sendiri kepada saya, saya mengatakan saya kenal baik dengan mereka, sambil dalam hati mencibir, dan terus maju.

Saya belum mengembangkan penjelasan singkat tentang apa yang membedakan mansplaining, jadi saya menghabiskan beberapa menit menyusun diagram, seperti yang sering saya lakukan untuk memeriksa atau menjelaskan ide dalam pekerjaan saya.

Saya menyadari bagian \"-splaining\" dapat dibagi atas tiga faktor:

  • Apakah mereka menginginkan penjelasan itu? Jika seseorang mengajukan pertanyaan kepada Anda, jelaskan!
  • Apakah Anda membuat asumsi buruk tentang kompetensi? Menjelaskan hal-hal kepada orang-orang yang berpengetahuan tidak hanya membuang-buang waktu semua orang.
  • Bagaimana bias mempengaruhi interpretasi Anda terhadap poin-poin di atas? Kedua pertanyaan itu dipersulit oleh seksisme dan jenis-jenis bias lainnya.

Ketika seorang rekan lain menceritakan kekhawatirannya akan mansplaining, saya memutuskan untuk memposting diagram di Twitter, media sosial tempat komunitas profesional saya sering membahas masalah komunikasi.

Saya tidak siap atas tanggapan yang viral — 3.300 komentar, 50.000 retweet, dan 120.000 like, pada Jumat pagi.

Saya telah melihat cerita di beberapa blog, dan seseorang bahkan menerjemahkannya ke bahasa Serbia.

Ribuan pengguna Twitter yang diduga perempuan mulai membagikan diagram itu, meminta untuk mencetaknya di kartu nama atau menempelkannya ke dahi laki-laki. (Beberapa menambahkan: menanyakan terlebih dahulu adalah perilaku sopan untuk jenis kelamin apa pun).

\"\"

Tanggapan dari pengguna Twitter yang diduga pria lebih beragam. Beberapa orang merespon dengan mansplaining, baik menjelaskan seksisme kepada perempuan atau menanyakan bagaimana perempuan akan belajar jika pria tidak membagikan pengetahuan mereka.

Banyak yang mengatakan diagram itu bermanfaat. Yang lain bertanya-tanya apakah ini benar-benar perilaku terkait gender; beberapa berpendapat (cukup adil, saya pikir) bahwa ayah sering diremehkan oleh ibu.

Cukup banyak tanggapan yang mengatakan: pria melakukan ini pada pria lain juga - itu menjengkelkan, tetapi perempuan seharusnya hanya menanggapi seperti pria.

Dengan kata lain: pria setuju bahwa pria sering melakukan hal ini, tetapi pria tidak akan berubah, jadi wanita harus mengadopsi norma \"maskulin\". Asumsi menarik.

Ada banyak kecemasan tentang kata \'pria\': apakah itu seksisme terbalik? Maaf, tapi tidak.

Beberapa perempuan menggunakan istilah gender ini untuk mengekspresikan frustrasi mereka dengan norma-norma komunikasi yang seksis, tetapi itu tidak membuat pesan itu menjadi tidak valid.

Kata kasar juga tidak sepadan dengan seksisme sistemik, yang terutama menargetkan perempuan sementara juga membatasi kehidupan manusia.

\"\"

TWITTER/KIM GOODWIN; TWITTER/GEOFF BILLS Image caption Tweet Goodwin yang viral meninggalkan impresi yang dalam, sehingga sebagian orang bahkan mencetaknya sebagai referensi.

Dan bukankah aneh bahwa tidak ada yang tersinggung ketika perilaku \"mother-henning\" atau perilaku yang terlalu protektif layaknya seorang ibu digambarkan terkait gender?

Banyak bukti mendukung gagasan bahwa perilaku komunikasi sering dikaitkan dengan gender dalam berbagai cara.

Di sekolah, anak laki-laki didorong untuk mengambil lebih banyak kesempatan berbicara di publik. Pria dewasa kemudian berbicara lebih banyak dalam kelompok, yang menambah pengaruh mereka.

Perempuan lebih sering diinterupsi dibanding laki-laki, baik oleh laki-laki maupun perempuan, tetapi perempuan jarang mengganggu laki-laki.

Perempuan dalam posisi senior dapat belajar menginterupsi, tetapi cenderung terlihat lebih kasar dan kurang cerdas. Wanita asertif disebut \"abrasif\" dalam ulasan kinerja.

Meskipun mungkin ada konsekuensi bagi perempuan yang mengadopsi perilaku komunikasi stereotip maskulin, studi menunjukkan bahwa laki-laki dihargai lebih ketika mereka mengadopsi perilaku \"perempuan\" tertentu di tempat kerja.

Karena itu, saya pikir itu adil untuk bertanya: jika bagi laki-laki mansplaining adalah sesuatu yang kontraproduktif, mengapa, tepatnya, haruskah setiap dari kita menerimanya sebagai norma?

Manslaining mungkin tampak seperti masalah sepele dalam isolasi, tetapi cara kita berkomunikasi memberi tahu orang lain seberapa besar atau kecil nilai mereka.

Dan dalam pengalaman saya, manusia merasa lebih baik, bekerja lebih efektif, dan berperilaku lebih baik ketika merasa dihargai.

(Tentang mansplaining: Cara pria menjelaskan (dengan unsur melecehkan)/Kim Goodwin/www.bbc.com/indonesia/Gloopic.net/Jala).

Tags: