gloopic.net
Artikel / Militer

Kekuatan Militer Indonesia Era Presiden Soekarno

Foto : Soekarno dengan Yuri Gagarin, Nikita Khruchev dan Leonid Brezhnev di Kremlin (Moscow, Juni 1961)

Hanya berselang dua bulan sejak proklamasi kemendekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, tepatnya tanggal 5 Oktotober 1945 Presiden Soekarno membentuk Tentara Keamanan Rakyat, yang sekarang dikenal sebagai hari jadi TNI. Tentara Keamanan Rakyak  beberapa kali mengalami perubahan nama dan terakhir kita kenal sebagai Tentara Nasional Indonesia sampai saai ini, yang populer dengan singkatan TNI.

Indonesia sebagai negara baru pada saat itu,  dalam kurun waktu singkat dapat membangun kekuatan militer  yang mencengangkan dan membuat banyak negara ciut melihat perkembangan Indonesia tidak terlepas dari kepiawaain Bung Karno memainkan  perannya dalam konstelasi    politik  dunia.

Setelah berakhirnya perang dunia kedua, dunia mulai diguncang perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet yang masing-masing mengusung ideologinya. Bung Karno sangat cerdik bermain diantara keduanya dengan mempelopori terbentuknya gerakan Non Blok.

Uni Soviet memberi bantuan kepada Indonesia bukan hanya dalam bidang militer, tapi juga pada berbagi sektor termasuk industri baja cilegon yang dipersiapkan untuk mendukung pengembangan industri berat dan industri lainnya.

Lalu kenapa Uni Soviet bersedia membantu Indonesia dalam banyak hal yang demikian besar pada saat itu, karena Uni Soviet butuh tambahan  pijakan di kawasan Asia Pasifik khususnya Asia Tenggara untuk berhadapan dengan Amerika dan Sekutunya baik perebutan pengaruh ideologi maupun kepentingan Militer.

Keberadaan dan posisi Indonesia  mungkin adalah paling ideal dari berbagai segi bagi Uni Soviet. Tidak pernah Uni Soviet memberi bantuan perlengkapan Militer dan lain sedemikian besar kepada negara manapun, kecuali Indonesia.

Indonesia yang baru merdeka dengan segala keterbatasan membutuhkan bantuan untuk mewujudkan “Revolusinya“ yang belum selesai yang sering didedungkan oleh Bung Karno.  Salah satunya adalah  usaha Indonesia menyembalikan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi,  kala itu Presiden Soekarno melakukan kunjungan ke berbagai negara untuk mencari dukungan politik maupun lainnya termasuk perlengkapan militer.

Dalam kunjungan ke Amerika Serikat,  Presiden Soekarno mendapat sambutan hangat dan sempat berpidato di beberapa  tempat, namun berkaitan dengan Irian Barat,  Amerika bersikap dingan dan cenderung membela Belanda.  

Sangat berbeda dengan kunjungan ke Uni Soviet bukan saja diterima dengan begitu hangat tapi saat itu dijalin kerjasama antar ke dua negara dan Uni Soviet mengucurkan dana 100 juta dollor US, dan menyatakan mendukung penuh terhadap perjuangan nasional Indonesia.

Dalam  pidato balasannya di Moscow saat kunjungan tersebut pada tahun 1961, Presiden Soekano mengatakan bahwa Asia-Afrika mengarahkan mukanya kepada Soviet karena mengetahui bahwa negeri ini menghendaki kebebasan seluruh bangsa yang telah memproklamasikan kemerdekaannya, dan menyebut Soviet sebagai “mercusuar” dalam perjuangan mencapai kemerdekaan.

Bantuan yang diberikan Uni Soviet kepada Indonesia senilai 2,5 dollor US memperkuat militernya saat ini, karena satu-satu negara yang siap memberi bantuan dengan syarat-syarat yang dapat diterima Indonesia kata "Laksamana Martadinata" kala itu.  Tentu masih belum hilang diingatan kita bagaimana bantuan atau pinjaman oleh negara-negara barat yang sarat dengan berbagai persyaratan.

Sejak itu ribuan personi TNI dikirim ke Uni Soviet dan Negara sekutunya untuk dipersiapkan mengawaki dan merawat Alutsista yang dipersiapkan untuk Indonesia.  Bukan hanya personil TNI, tetapi mahasiswa pun ikut dikirim berguru ke sana dari berbaga bidang keilmuan, untuk mengongsong era industrialisasi sebagai bagian dari kesepakatan Indonesia dengan Uni Soviet.

Adapun kekuatan militer Indonesia pada Era Presiden Soekarno :

Salah satu kapal perang terbesar dan tercepat di dunia buatan Soviet dari kelas Sverdlov. Kapal perang itu memiliki 12 meriam raksasa kaliber enam inci. Setelah tiba di Indonesia, kapal ini berganti nama menjadi KRI Irian. Kapal dengan bobot raksasa 16.640 ton itu memiliki awak sebanyak 1.270 orang, termasuk 60 perwira. Jika dibandingkan dengan kapal-kapal terbaru Indonesia sekarang, dari kelas Sigma, hanya berbobot 1.600 ton

Tak cuma kapal perang, Indonesia juga mempunyai 12 kapal selam kelas Whiskey yang juga bantuan dari Uni Soviet. Salah satu dari ke-12 kapal selam ini diberi nama Pasopati dan sekarang dijadikan monumen kapal selam (monkasel) di Surabaya. 
 
Puluhan kapal tempur kelas Corvette juga diberikan kepada pemerintah Indonesia di masa itu. Fungsi Corvette pada masa itu ialah sebagai penjaga atau pengiring dari kapal perang KRI Irian. Jumlah kapal tempur keseluruhan Indonesiasaat itu yakni 104 unit.

Angkatan Udara Indonesia (AURI) sendiri memiliki lebih dari 100 pesawat tercanggih saat itu. Armada ini terdiri dari pesawat tempur (Fighter). Diantaranya; 20 pesawat pemburu supersonic MiG-21 Fishbed, 30 pesawat MiG-15, 49 pesawat tempur high-subsonic MiG-17, dan 10 pesawat supersonic MiG-19

MiG-19 (kode NATO "Farmer") adalah pesawat tempur jet Uni Soviet. Ini adalah pesawat pertama Uni Soviet yang mampu terbang dengan kecepatan supersonik

Pesawat ini pertama kali terbang pada tahun 1953. Indonesia pernah memiliki pesawat jenis ini yang pada akhirnya disumbangkan kepada Pakistan untuk selanjutnya digunakan untuk menghadapi India dalam perang India-Pakistan.

Pesawat ini bahkan lebih hebat dari pesawat tercanggih Amerika saat itu, pesawat supersonic F-104 Starfighter dan F-5 Tiger.

Indonesia juga memiliki armada 26 pembom jarak jauh strategis Tu-16 Tupolev (Badger A dan B). Ini membuat Indonesia menjadi salahsatu dari hanya 4 bangsa di dunia yang mempunyai pembom strategis, yaitu Amerika, Rusia, dan Inggris. Pangkalannya terletak di Lapangan Udara Iswahyudi, Madiun.

Indonesia juga mendapat bantuan berupa helikopter. Di antaranya sembilan helikopter terbesar di dunia MI-6, dan 41 unit helikopter MI-4. Mi-4 adalah helikopter yang bertugas di dua peran berbeda, sipil dan militer. 

Mi-4 dibangun untuk menyaingi H-19 Chihckasaw milik Amerika Serikat pada perang Korea. Mi-4 sangat mirip dengan H-19 Chickasaw, tapi Mi-4 memiliki kapasitas dan mampu mengangkat beban yang lebih besar dibandingkan dengan H-19 Chickasaw.
 
Mi-6 (kode NATO, Hook) adalah helikopter buatan Rusia yang diproduksi oleh biro Mil yang dipimpin oleh Mikhail L. Mil. Helikopter ini yang terbesar di dunia, dan memecahkan berbagai rekor dunia. Rekor terbesar disandang sampai muncul penggantinya pada awal 1980-an, Mil Mi-26 Halo.
 
Berbagai pesawat pengangkut termasuk pesawat pengangkut berat Antonov An-12B juga diberikan kepada Indonesia.

Untuk kekuatan di darat, Indonesia mendapatkan bantuan berupa senapan serbu terbaik saat itu, AK-47, kendaraan tempur dan angkut militer lain.

Dengan berbagai alutsista yang dimiliki  saat itu, menjadikan Indonesia sebagai kekuatan militer terbesar di bumi bagian selatan, dan salah satu kekuatan militer besar di dunia.

Bukan hanya alutsista tapi kemampuan personel TNI pun yang sudah teruji dalam dalam perang kemerdekaan dan pada operasi militer lainnya, yang terkenal dengan kemampuan individunya dan mampu survive  dalam kondisi paling buruk, membuat banyak negara ciut melihat kekuatan militer Indonesia.

Seorang Jenderal Inggeris pernah mengatakan bahwa pasukan yang terburuk logistiknya di dunia adalah pasukan Indonesia, tapi dia heran melihat bahwa pasukan Indonesia mampu bertempur secara prima dalam kondisi demikian, mungkin Jenderal ini melihat pasukan Indonesia pada saat konfrontasi dengan Malaysia.

Inggeris terpaksa harus mengerahkan beberapa skuadron tempur, armada laut termasuk kapal induk, pasukan darat dan tak ketinggalan devisi gurka kebanggaan Inggeris, untuk melindungi Negara bentuknya "Malaysia" yang disebut Bung Karno sebagai "Negara Boneka". itu akibat  ketakutan negara lain melihat kekuatan Militer Indonesia yang dibangun Preside Soekarno.

Dengan kekuatan militer Indonesia kala itu dan berjubelnya antrian rakyat untuk ikut sebagai sukarelawan, membuat Amerika Serikat harus rela memaksa sekutunya Belanda hengkang  dari Irian Barat, menghindari perang terbuka dengan Indonesia. dan menyatakan dalam forum PBB bahwa peralihan kekuasaan di Papua, dari Belanda ke Indonesia adalah sesuatu yang bisa diterima. Dan bukan hanya itu yang peroleh tapi Indonesia punya posisi tawar tinggi dalam banyak hal dengan berbagai negara.

 

(Berbagai sumber/Kekuatan Militer Indonesia Era Presiden Soekarno/Widjaja Lagha/Gloopic.net).

 

Komentar

Artikel Terkait
gloopic.net
Visitor Online :57
Visitor Today :2.754
Visitor Total :6.362.165

BERLANGGANAN NEWSLETTER

Dengan berlangganan NEWSLETTER anda akan menerima info tebaru dari situs kami.