gloopic.net
Artikel / Kuliner

Bisakah Kopi Menjelma Jadi Wine?

Menikmati wine seolah tak bisa dipisahkan dari gaya hidup modern. Aroma khas dengan perpaduan rasa manis, pahit dan asam tepat dinikmati saat santai.

Mencicipi wine seusai kerja, makan malam hingga menikmati liburan sudah lazim di kota-kota besar, terutama metropolitan di seluruh penjuru dunia. Menyeruput wine bagi sebagian orang bukan sekadar menikmati rasa melainkan sebuah seni.



Wine kini tak sekadar minuman untuk mengiringi santapan lezat saat makan malam istimewa, tetapi juga menjadi bagian dari pergaulan sosial. Menikmati wine dalam suasana santai membuat otak dan otot lebih rileks. Kepenatan dalam pekerjaan terlupakan jika menikmati wine dalam takaran yang pas. Oleh karena itu wine dikatakan bisa memiliki efek menenangkan bahkan membius (tranquilizing).

Kadar alkohol yang tidak terlalu tinggi membuat wine tepat dipilih dalam mengisi pembicaraan bisnis. Sensasi minum wine akan terasa nikmat bila dimulai dengan mencium aroma lalu menggoyang-goyangkan gelas wine.



Hirup aroma yang keluar dan rasakan sensasi wine di mulut perlahan-lahan untuk menikmati rasa wine. Alangkah nikmatnya menyeruput wine tanpa tergesa- gesa.

"Dalam mengonsumsi tidak berlebihan akan memberikan dampak posiitf bagi tubuh. Banyak penelitian melansir manfaat wine bagi kesehatan tubuh," kata Manajer Fave Hotel Rembang, Stefanus Agung. Namun memang tidak dapat dipungkiri, kadar alkhol berapapun dan pada tingkatan apapun, tentunya tidak bisa diterima oleh banyak orang dengan alasan religius maupun budaya. Tentunya kalau ada wine tidak beralkohol atau ada minuman berefek seperti wine dan tidak beralkohol akan sangat menyenangkan bagi penggemar wine (wine lovers).

Kopi Bersensasi Wine

Aromanya sangat khas. Berbeda dari aroma kopi umumnya. Saat lidah mengecap, menyiratkan sesuatu yang lain. Sensasi fermentasi unik dan asing. Toga Coffee menyebut kopi ini sebagai Toga Gaya atau Toraja Classic Wine. Sebagai "wine coffee" hasil kreasi ini jelas mampu memberi kekayaan rasa baru dalam tradisi minum kopi di Indonesia bahkan dunia .

"Bahan bakunya sama, kopi jenis arabika. Hanya perlakuannya yang berbeda, sehingga menimbulkan sensasi wine," tutur Hamdani, seorang petani/peneliti kopi dari Toga Coffee. Hamdani memperlihatkan dua genggam bijih kopi yang menurutnya adalah kopi konvensional dan kopi klasik.

Hamdani telah mengirim biji kopi rasa wine itu ke sejumlah tempat di Jawa dan Sumatera dan sejumlah pihak telah menyatakan minatnya untuk memesan massal produk tersebut.

Saat ini Hamdani sedang merintis produk olahannya itu sebagai kopi dengan citarasa berbeda. "Kita tidak masuk di produk premium ataupun specialty tapi kita membuka pasar klasik," ujar Hamdani. Dengan berani ia mengatakan, dirinya tidak menjual biji kopi, tapi citarasa kopi. Kopi olahannya merupakan hasil eksperimen selama 6 tahun dia bekerja sebagai petani kopi konvensional. Pria ini ingin mendapatkan citarasa baru dari minuman kopi. Bagi penikmat kopi, inovasi dan kekayaan rasa menjadi salah satu unggulan.

Menurut Hamdani, para penikmat kopi menginginkan sensasi tertentu saat minum kopi. Ide cemerlang mendapatkan kopi dengan citarasa berbeda, merupakan warisan leluhur di Gayo. "Dengan pemanasan 90 derajat ternyata telah memberi rasa kopi yang cukup manis tapi khas apalagi kalau pemanasan ditingkatkan," kata Hamdani.

"Jenis bijih kopi (bean) dengan bentuk pea berry merupakan bean yang cocok dikembangkan menjadi classic wine coffee," ujar Hamdani.

Kopi yang dijadikan sebagai Toga Gaya atau classic wine coffee itu biasanya biji kopi dari perkebunan di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut (dpl). Memiliki getah biji yang lebih banyak dibanding biji kopi yang ditanam di bawah 1500 m dpl. "Kopi sebaiknya dipetik sebelum jam 11.00 agar kadar getahnya sesuai," jelas Hamdani.

Keunggulan lainnya kandungan airnya juga lebih banyak dan kulit biji yang lebih tebal. Sensasi rasa diperoleh dari getah biji tadi yang sudah melewati proses fermentasi.

Hamdani menyatakan bisa menjual lebih mahal dari kopi umumnya untuk jenis kopi yang bisa digunakan sebagai wine coffee. Karena tumbuh di ketinggian 1500 m dpl dan masa panen lebih lama dengan produksi terbatas. Untuk mendapatkan kopi dengan citarasa "wine" diperlukan waktu relatif panjang.

Hamdani menjual produknya hingga Rp 300 ribu dalam bentuk bijih hijau atau "green bean." sedangkan dalam bentuk bubuk dijual sampai Rp 1 juta/kg.

Tanpa Alkohol
Sejauh ini sudah dilakukan uji laboratorium terhadap kopi olahan sejenis wine coffee. Sama sekali tidak ditemukan kandungan alkohol atau benda-benda lain dalam kopi jenis ini.

Hasil cupping Gayo Cupper Team (GCT) kopi klasik wine tersebut memiliki "cupping score" 86,25. Melihat angka ini produk klasik dari Toga Coffee akan unggul karena kemungkinan pengembangan bijih kopi dan juga memiliki peluang diversifikasi usaha di hilir seperti produk wine ini. (ferry putra utama)

Komentar

Artikel Terkait
gloopic.net
Visitor Online :75
Visitor Today :3.017
Visitor Total :6.362.428

BERLANGGANAN NEWSLETTER

Dengan berlangganan NEWSLETTER anda akan menerima info tebaru dari situs kami.