gloopic.net
Artikel / Nasional

Memahami Jonan, Belajar dari KAI

(Jakarta, Gloopic) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan apresiasi positif terhadap akuntabilitas dan kinerja keuangan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Apresiasi tersebut disampaikan anggota BPK Agung Firman Sampurna pada acara Penyerahan Ikhtisar Hasil Audit Triwulanan (IHAT) di Jakarta, Kamis 14 Januari 2016. Menurut Agung Firman, Kemenhub adalah satu-satunya kementerian dan lembaga yang sudah melembagakan penyampaian Ikhtisar Hasil Audit Triwulan (IHAT) sebagai wujud kepatuhan terhadap UU No 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Keuangan Negara.

Menurut Agung Firman, hal itu adalah bukti bahwa pimpinan Kemenhub memiliki komitmen untuk menerapkan dan menjaga akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan negara. "Patut menjadi contoh bagi kementerian dan lembaga lainnya," katanya.

Hal lain yang mendapat apresiasi Agung Firman adalah penyerapan anggaran dan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Kemenhub tahun 2015. Penyerapan sebesar 71,67 persen dari pagu anggaran 2015, menurut Firman, adalah pencapaian yang patut diapresiasi. Memang dari sisi persentase lebih rendah dibanding 2014 sebesar 75,38 persen. Namun, pagu anggaran 2015 mencapai Rp 65,12 triliun, sementara 2014 hanya Rp 37,26 triliun.

Secara absolut penyerapan anggaran Kementerian Perhubungan tahun 2015 sebesar Rp 46,68 triliun, sementara tahun 2014 Rp 28,08 triliun. Di samping penyerapan sebesar 71 persen, tahun 2015 Kemenhub berhasil melakukan efisiensi anggaran senilai Rp 3,15 triliun, atau 4,83 persen dari total anggaran. "Ini adalah pencapaian yang patut untuk diapresiasi," kata Agung Firman Sampurna. Hal lain yang mendapat apresiasi adalah realisasi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Kemenhub tahun 2015 sebesar Rp 4,21 triliun. Realisasi tersebut melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp 3,26 triliun. "Ini prestasi luar biasa," ucap Agung Firman tegas. Di samping pencapaian 129 persen dari target, realisasi PNBP Kemenhub tahun 2015 jauh lebih tinggi dibanding realisasi 2014. Tahun 2014 target PNBP sebesar Rp 1,99 triliun, atau hanya 67 persen dari target sebesar Rp 2,94 triliun.

Inspektorat Jenderal Kemenhub juga mendapat apresiasi tinggi atas capaian ISO 9001-2008 dan peningkatan kapabilitas internal auditor (IACM) level 3. "Baru tiga aparat pengawas internal yang memperoleh IACM level 3, yaitu Itjen Kemenkeu, BPKP, dan Itjen Kemenhub," papar Cris Kuntadi, irjen Kemenhub. Pada kesempatan tersebut, Menhub Ignasius Jonan juga menerima sertifikat Chartered Accountant dari Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), yang diserahkan anggota Dewan Nasional IAI Cris Kuntadi, dan sertifikat Register Negara Akuntan (RNA) dari Pusat Pembinaan Profesi Keuangan Kementerian Keuangan. Menhub Ignasius Jonan mendapatkan sertifikat RNA dengan nomor RNA 11.541.

Kemenhub taat Lapor LHKPN Selain accountable, pegawai Kemenhub menempati peringkat teratas yang paling patuh melaporkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) ke KPK. Tingkat kepatuhan mencapai 93,68 persen dari 3.576 pegawai. "Sedangkan sisanya sebanyak 241 pegawai atau atau 6,32% belum pernah melaporkan LHKPN. Pada tahun-tahun sebelumnya tingkat kepatuhan pegawai Kemenhub dalam melaporkan LHKPN hanya mencapai 18% dari 3.816 pegawai wajib lapor," jelas Kepala Biro Komunikasi Kemenhub JA Barata, Kamis 17 Maret 2016. Data tingkat kepatuhan ini sesuai laporan dari KPK dengan data per Januari 2016.

"Pencapaian tersebut menempatkan Kementerian Perhubungan pada peringkat pertama dalam kepatuhan pelaporan LHKPN di antara Kementerian, Lembaga, Pemerintah, Provinsi, Kota, dan Kabupaten se-Indonesia," urai Barata. Barata melanjutkan, berdasarkan hasil itu, Kementerian Perhubungan tahun 2016 ini dipilih KPK sebagai pilot project dalam implementasi aplikasi e-LHKPN. Kritik Atas Jonan Di tahun 2015, Center for Budget Analysis (CBA) dalam siaran pers Rabu 5 Agustus melansir sejumlah kementerian yang dinilai rendah daya serap anggarannya selama masa awal roda pemerintahan Joko Widodo.

Kementerian perhubungan menempati peringkat kelima dalam data ini. Masih terkait daya serap ini, Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi NasDem, Muhammad Ali, menyatakan pihaknya kecewa dengan kinerja Menteri Perhubungan Ignasius Jonan lantaran dianggap tidak mampu meningkatkan serapan anggaran. Kekecawaan itu ditumpahkannya saat bicara di hadapan Jonan dalam rapat kerja Komisi V DPR dengan Kementerian Perhubungan, Rabu 20 Mei 2015.

Salah satu penyebab utama kurangnya daya serap ini menurut Ali seringnya rotasi di tubuh kemenhub. Menhub Jonan sendiri kala itu menjelaskan, serapan anggaran 4,5 persen itu sebenarnya masih lebih tinggi bila dibandingkan periode sama pada tahun lalu ketika pemerintahan SBY masih berkuasa, yakni sebesar 3.6 persen. "Saya mohon maaf, dari 34 kementerian yang dilaporkan oleh menteri keuangan pada presiden tentang daya serap baru-baru ini, Kementerian Perhubungan nomor enam paling tinggi. Jadi yang lain dari 34 itu banyak yang jauh lebih rendah," ujar Jonan.

Dia melanjutkan, pihaknya akan melakukan percepatan dengan cara mengakselerasi proses Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) dan master plan dalam melaksanakan pembangunan pelabuhan dan bandara. "Sepanjang Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) bertanggung jawab, pada saat penyelesaian fisik Amdal dan master plan harus selesai.

Dimasa sebelumnya ada banyak sekali bandara dan pelabuhan Amdal dan master plannya belum selesai, ini kan juga menjadi tantangan sendiri," ujar Jonan. Mengenai rotasi staf Kemhub, Jonan mengatakan dirinya telah bekerja dengan benar serta mengacu ketentuan UU Aparatur Sipil Negara (ASN). Memang diprogramkan agar dalam tiga tahun, dilakukan pemindahan staf untuk penyegaran. Selain itu, dalam setahun, yang memasuki masa pensiun sekitar 800-1000 orang, dimana setengah dari jumlah itu menduduki jabatan struktural. Belajar dari PT KAI Melihat catatan kementerian perhubungan di tahun 2015 dan tahun 2016 bisa memberikan bagaimana gambaran atas kerja sosok bernama Jonan.

Menghadapi berbagai kritik di 2015 dan memberi indikator kuantitatif baik di tahun 2016. Bahkan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dinobatkan menjadi menteri Kabinet Kerja yang paling menjadi bahan pemberitaan atau News Maker Award 2015 versi salah satu stasiun tv dan mengalahkan Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin dan Menteri Perindustrian Saleh Husein. "Waktu saya ditugaskan di Kemenhub, teman-teman di Kereta Api bilang. ’Pak hampir enam tahun di sini sudah meraih award 30, kalau di Kemenhub mungkin susah karena regulator’," ujar Jonan saat menerima penghargaan. "Jadi, ini untuk Kemenhub untuk perbaikan transportasi di Indonesia," tegas Jonan kala itu.

Siapakah Jonan? Ignasius Jonan lahir di Singapura, 21 Juni 1963 itu, sekolah di SMA Katolik St Louis 1, Surabaya, melanjut ke Fletcher School, Tufts University, AS. Dia kemudian kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Akuntansi, Universitas Airlangga. Suami Ratnawati Jonan itu, menjadi Direktur Utama, sejak tahun 2001 sd 2006 di PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero). Ayah dua anak, Monica dan Caterine itu, sebelumnya berkarier di Citibank/Citigroup, menjabat director tahun 1999 sd 2001 dan Managing Director tahun 2006 sd 2009.

PT KAI Sebelum menjadi menteri, Jonan diangkat sebagai Direktur Utama PT KAI pada tahun 2009, oleh Menteri BUMN Sofyan Djalil, walaupun belum pernah berkarier di bidang bisnis transportasi, utamanya transportasi rel. Selama di PT Kereta Api Indonesia, ia sukses membalikkan kerugian Rp 83,5 miliar pada 2008 menjadi keuntungan Rp 154,8 miliar pada 2009. Pada tahun 2013, bahkan telah mencatatkan laba sebesar Rp 560,4 miliar. Jonan juga melipatgandakan aset KAI dari Rp 5,7 triliun pada 2008, menjadi Rp 15,2 triliun pada 2013, atau terjadi peningkatan mendekati tiga kali lipat.

Pada masanya juga dimulai pemberantasan percaloan tiket, dengan menerapkan sistem boarding pass, tiket daring, dan penjualan melalui toko ritel. Toilet stasiun yang awalnya harus membayar, digratiskan dan diperbanyak jumlahnya sehingga ada di setiap stasiun. Kereta juga dilengkapi AC dan diberi larangan merokok.

Namun berkebalikan dengan citranya yang senang turun ke bawah, Jonan keras dalam menjalankan disiplin. Tahun 2014, tercatat 200 karyawan PT KAI dipecat atau pensiun dini karena dianggap malas. Ia juga tidak mengenal kompromi saat menertibkan stasiun dari pedagang dan bangunan liar, dengan menggunakan bantuan aparat TNI. Setelah diangkat menjadi Menteri Perhubungan dalam Kabinet Kerja, ia mengundurkan diri dari PT KAI dan digantikan Edi Sukmoro.

Nama Jonan mencuat sebagai calon Menteri Perhubungan setelah tersebarnya berita bahwa ia tak pulang 15 hari dan tidur di kereta untuk mengawasi pelayanan PT KAI. Dahlan Iskan, Menteri BUMN waktu itu, mendoakan agar dirinya diangkat menjadi Menteri Perhubungan. Doa ini terkabul saat ia ditunjuk menjadi Menteri Perhubungan dalam Kabinet Kerja. Langkah pertamanya sebagai menteri adalah dengan menugaskan Dirut KAI selanjutnya, Edi Sukmoro, untuk meningkatkan kapasitas kereta api dari 200 juta orang menjadi 600 juta orang, dan angkutan barang menjadi 60 juta ton dalam lima tahun ke depan dari sebelumnya 30 juta ton sepanjang tahun. Ia juga menolak pengawalan voorijder di hari pertama menjabat. Jonan juga menjanjikan akan menyelesaikan konsep tol laut dalam waktu dua minggu setelah menjabat. Ia juga memberlakukan piket bergiliran pada Hari Sabtu dan Minggu di Kementerian Perhubungan.

Kurang Senyum Sebelumnya, oleh Dahlan Iskan, Menteri BUMN yang membawahi Ignasius Jonan saat di PT KAI, ia awalnya dianggap kurang senyum, sehingga diminta untuk lebih sering bermuka ramah. Dahlan menyatakan bahwa secara kinerja Jonan sebenarnya baik dan banyak prestasi namun kurang senyum. Sebagai reaksi, Jonan sering mengirimi Dahlan foto-foto dirinya yang sedang tersenyum sampai dianggap layak oleh Dahlan.

Pada tanggal 4 Agustus 2014, media sosial dan berita menjadi ramai oleh foto Ignasius Jonan yang sedang tertidur di bangku kereta KA Ekonomi yang diambil sepekan sebelumnya oleh Agus Pambagyo. Agus menyatakan bahwa foto tersebut bukanlah pencitraan karena hanya kebetulan diambil dan menyebar. Setelah sampai di tujuan sekitar pukul 11 malam, Jonan langsung memimpin rapat evaluasi layanan kereta api di Surabaya. Agus memuji pelayanan kereta yang membaik di bawah kepemimpinan Jonan, walaupun tetap ada hal yang perlu diperbaiki. Dalam acara CEO Speaks on Leadership Class, pada 3 Juli 2014, ia menyatakan bahwa, "Leadership is a half talent, a half journey." Kepemimpinan adalah paduan bakat dan dan pengalaman.

Di momen yang sama, ia menyatakan lebih memilih kepemimpinan yang berorientasi kepada hasil, bukan mementingkan proses, dengan syarat tidak boleh melanggar hukum dan etika. Melihat tagline Jonan ini menjadi pertanyaan bagi kita, apakah etos kerja Jonan dapat menular di tubuh kementerian perhubungan? Mengingat selepas di tinggal Jonan. PT KAI seolah kehilangan 'sentuhannya' lagi. (FPU).

Komentar

Artikel Terkait
gloopic.net
Visitor Online :80
Visitor Today :4.861
Visitor Total :6.527.690

BERLANGGANAN NEWSLETTER

Dengan berlangganan NEWSLETTER anda akan menerima info tebaru dari situs kami.