gloopic.net
Artikel / Penerbangan

Bagaimana Nasib Bus Damri Setelah Ada Kereta Api Bandara?

Damri, nama yang tak asing di telinga sebagai angkutan bus dari dan menuju bandara. Nama yang dijumput dari "Djawatan Angkoetan Motor Republik Indonesia” ini memang sudah melegenda. Damri belakangan ini jadi perbincangan jelang beroperasinya kereta Bandara Soekarno-Hatta awal tahun depan. Damri mau tak mau harus mengambil sikap, menyingkir atau berpikir melakukan perubahan.

Sebagai Perusahaan Umum (Perum) sudah berusia 71 tahun, Damri ibarat manusia sudah memasuki usia tua renta. Di usia yang sudah matang, bukan berarti Damri sudah bebas masalah, yang terjadi malah sebaliknya. Meski sebagai BUMN yang berstatus Perum, Damri juga dituntut memperoleh keuntungan.

Damri masuk daftar 24 perusahaan pelat merah yang mengalami kerugian di semester I-2017. Nilai kerugian memang relatif kecil, tidak lebih dari Rp200 juta. Namun, mirisnya kerugian ini terjadi setelah perusahaan sempat meraih kinerja keuangan positif dalam beberapa tahun terakhir.

Puncaknya pada 2013, ketika Damri sempat mencatatkan pendapatan tertinggi sepanjang umur perusahaan, angkanya mencapai Rp1,01 triliun, diikuti dengan laba sebesar Rp98 miliar. Pencapaian ini didapat berkat investasi besar yang digelontorkan untuk melakukan pengadaan 1.000 armada baru selama 3 tahun sebelumnya. Kinerja kinclong ini berlanjut hingga akhir 2014.

Sayang pendapatan Damri merosot perlahan hingga akhirnya merugi pada enam bulan pertama tahun ini. Penurunan kinerja ini seiring dengan hadirnya moda transportasi berbasis aplikasi (online). 

Damri menghadapi pukulan dari tren dimana orang pergi ke bandara mengandalkan taksi online. Tarif taksi online memang tidak lebih murah dari Damri, tapi kecepatan layanan taksi online cukup memanjakan konsumen. Tinggal pesan kapanpun sesuai kebutuhan, dan orang hanya cukup menunggu di rumah. 

Ihwal taksi online ini memang jadi momok tak hanya Damri tapi juga angkutan taksi konvensional. Khusus Damri, taksi online jadi kompetitor yang tak bisa diremehkan, apalagi hampir pendapatan jasa angkutan Damri bersumber dari layanan transportasi di bandara-bandara menyumbang kontribusi yang tak sedikit.

Namun, di tengah gelombang tantangan ini, persoalan armada Damri yang masih belum maksimal kondisi dan layanannya jadi pekerjaan rumah. Hingga posisi Oktober lalu, jumlah armada Perum Damri mencapai 2.986 unit bus.

Corporate Secretary Perum Damri Arifin mengatakan penyebab merosotnya keuangan perubahan karena siklus transportasi pada November-Maret memang sepi. Faktor alam dan cuaca biasanya kurang bersahabat untuk mobilitas masyarakat. 

"Walaupun demand mengalami penurunan namun armada harus tetap berjalan. Akibatnya biaya operasional pun tidak dapat ditutupi oleh pendapatan yang diperoleh," kata Arifin kepada Tirto.

Kondisi tersebut juga diperparah dengan lemahnya segmen bisnis angkutan lain dalam  mendongkrak pendapatan Perum Damri. Pada segmen angkutan antar kota dan antar provinsi.

Tren inovasi layanan bus AKAP swasta pun sudah beralih ke tipe bus double decker (Bus tingkat) bernuansa mewah. Sementara Damri masih tertinggal. Bisnis Damri memang bukan cuma jasa angkutan orang dan barang, tapi luas ke layanan jasa bengkel, agen perjalanan, jasa sewa pengemudi, pemasangan iklan, dan sewa properti.  

“Tapi saat ini sudah kembali positif. Sampai dengan triwulan III-2017 laba sudah lebih dari Rp14 miliar. Target tahun ini Rp50 miliar, namun dengan kondisi semester I yang negatif diperkirakan akhir tahun di angka Rp16 miliar,” ungkap Arifin.


Ancaman Baru dari Kereta Bandara

Kontribusi pendapatan Damri masih didominasi oleh angkutan khusus Bandar Udara (Bandara). Kontribusi angkutan bandara mencapai 80 persen terhadap pendapatan dengan jumlah penumpang berkisar 20 ribu per harinya.

Sayangnya, di tengah himpitan keberadaan taksi online, Damri menghadapi tantangan baru di pasar jasa angkutan bandara. Beberapa bandara di Indonesia mulai dilengkapi oleh layanan kereta, tak kecuali Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang yang akan mulai dilayani kereta bandara Januari 2018.

PT KAI (Persero) akan mengoperasikan kereta Bandara Soekarno-Hatta, dengan tarif sebesar Rp70 ribu, tidak terpaut jauh dengan tarif bus Damri yang melayan bandara ke wilayah Jabodetabek. Awalnya tarif kereta sempat akan dipatok Rp100 ribu, tapi direvisi oleh pemerintah. Kepastian ini menjadi tantangan baru bagi direksi Perum Damri, di bawah Direktur Utama Setia N Milatia yang baru dilantik beberapa hari lalu.

“Kami sedang proses pengadaan armada baru dan peremajaan untuk memberi layanan yang lebih baik. Kami juga sedang mengurus rute-rute baru. Sedang digarap juga reservasi online yang akan memberi jaminan ketersediaan tempat duduk,” ujar Arifin.

Hitungan di atas kertas, Damri memang masih unggul dari segi tarif. Bila dilihat berdasarkan biaya yang dikeluarkan, bus Damri merupakan moda transportasi termurah menuju bandara Soekarno-Hatta. Berangkat dari stasiun Sudirman, penumpang menuju ke stasiun Gambir terlebih dahulu menggunakan bus Transjakarta. Total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp43.500, yaitu Rp40.000 tiket bus Damri dan Rp3.500 untuk Transjakarta.

“Terutama penumpang traveler yang akan keluar dari bandara. Aksesibilitas dengan bus jauh lebih mudah ketimbang kereta,” katanya beralasan.


Akademisi Unika Soegijapranata Semarang yang juga anggota Anggota Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno sepakat dengan argumen itu. Asalkan Damri bisa mempertahankan tarif di bawah harga kereta bandara, maka para penumpang fanatik tentu tidak akan berpaling.

Namun bukan berarti peningkatan layanan tidak dibutuhkan dan tingkat kepuasan penumpang perlu ditingkatkan oleh Damri. Layanan kereta bandara yang ditawarkan bakal cukup membuat nyaman setidaknya terbebas dari urusan kemacetan. 

“Damri juga harus ada kru wanita muda berpakaian rapi dan bersih. Warna bus dicari juga yang menarik, jangan biru semua. Charging port dan WiFi jangan hanya di beberapa bus saja. Lakukan riset kebutuhan penumpang dengan melibatkan konsultan seperti yang dilakukan KAI,” kata Djoko.

Damri juga harus mengembangkan bisnis ke segmen lain dan mulai mengurangi ketergantungan dari pasar jasa angkutan bandara. Keberadaan kereta bandara yang beroperasi harus menjadi pecut melakukan pembenahan perusahaan juga pada layanan pelanggan. Bagaimanapun Damri sudah punya pelanggan yang loyal membawa BUMN ini bisa bertahan sampai tujuh dekade.

Jill Griffin dalam bukunya Customer Loyalty: Menumbuhkan dan Mempertahankan Kesetiaan Pelanggan (2005:12) mengatakan bahwa semakin lama loyalitas para pelanggan terhadap satu produk atau jasa, maka akan semakin besar pula laba yang bisa diperoleh sebuah perusahaan. Ini lebih efektif daripada mengejar pangsa pasar atau efisiensi bisnis.

"Manfaat dari loyalitas dan dampaknya pada profitabilitas, jauh dari sekadar penghematan biaya," tulis Griffin.

Damri sudah terlanjur melekat sebagai layanan bus bandara sedang dihadapkan tantangan baru. BUMN ini sedang diuji zaman dengan kedatangan kereta bandara yang siap melibas bisnisnya bila tak ada inovasi bagi para pelanggan setianya.

Penulis: Dano Akbar M Daeng, tirto.id

Komentar

Artikel Terkait
gloopic.net
Visitor Online :64
Visitor Today :1.780
Visitor Total :6.248.458

BERLANGGANAN NEWSLETTER

Dengan berlangganan NEWSLETTER anda akan menerima info tebaru dari situs kami.