gloopic.net
Artikel / Pojok Opini

BISNIS vs KEJUJURAN – Suatu opini

Oleh : Fadli Soesilo

Pengamat perilaku bisnis

 

Judul diatas tampaknya tidak “nyambung” sama sekali; tetapi biarlah demikian, karena sebetulnya isi pesan yang terkandung dalam tulisan inilah  yang ingin saya sampaikan kepada para pembaca yang budiman.

 

Siang itu saya terlibat dalam obrolan ringan sekitar perilaku bisnis, bersama beberapa kawan. Saya menyampaikan bahwa sebelum  memulai bisnis, yang pertama tama dilakukan oleh sebuah perusahaan adalah menyepakati dulu nilai nilai luhur atau values yang bisa dihormati dan dijalankan bersama secara baku, dari pucuk pimpinan manajemen hingga ke jajaran pelaksana kegiatan bisnis di lapangan. Sesudah itu baru disusun atau dirumuskan bersama tentang visi perusahaan; ini pun harus dipahami dan ditafsirkan secara sama oleh pucuk pimpinan hingga petugas pelaksana.  Contoh misalnya, “jujur”;  jika ini disepakati sebagai salah satu value dari perusahaan, maka sudah barang tentu dari high level policy maker perusahaan hingga ke tingkat pelaksana di lapangan, akan menghormati dan menjalankan roda kegiatan bisnis itu dengan jujur.

Saya sebetulnya masih ingin memberikan beberapa ilustrasi, tetapi seorang kawan langsung memotong dengan mengatakan bahwa berbisnis di jaman sekarang ini ya harus ada tipu tipunya ! Berbisnis kalau gak nipu itu malah konyol jadinya !  Hmmm….

Beberapa kawan  tertawa, dan sayapun dengan terpaksa ikut tertawa pula.

Berikut ini ada dua cerita atau peristiwa yang menarik untuk kita simak bersama,

PERISTIWA PERTAMA

Suatu hari sepasang suami isteri akan naik kereta ke Jakarta. Pasangan tersebut membawa satu kopor besar dan satu travel bag. Saat mau masuk ke ruang tunggu, kopor besarnya ditimbang oleh petugas dan berat kopor tersebut adalah 35,5 kilogram. Kemudian petugas memberitahukan bahwa bapak ibu itu harus membayar “denda” sebesar (35,5 kg X Rp 10.000) = Rp 355,000. Petugas yang lainnya sedang  asyik mengukur dimensi (panjang X Lebar X Tinggi) kopor.

Bapak tersebut dengan nada bingung bertanya kepada petugas, “kenapa harus membayar denda ? Dan kenapa dendanya sebesar itu ?”  Petugas pun menjawab dengan entengnya bahwa “barang bawaan bapak melebihi ketentuan barang bawaan yang maksimal 20 kilogram per penumpang”. Si Bapak masih berusaha menjelaskan bahwa kopor itu isinya barang milik suami isteri yang diwadahi dalam satu kopor agar lebih praktis dibawanya; dan beratnya pun masih kurang dari berat maksimum barang bawaan untuk dua orang penumpang.  Dan seandainya memang harus didenda, bukankah yang dikenakan denda hanya kelebihan beratnya saja ? Yaitu [(35,5 kg – 20 kg) X Rp 10.000]. Demikian bapak itu bertanya sekaligus menjelaskan dengan nada yang tidak nyaman. Petugas lapangan tetap bersikukuh dengan argumennya.

Pimpinan di stasiun itu pun dihadirkan dan ternyata juga tidak bisa menjelaskan bahwa, atas dasar apa penumpang tersebut dikenai denda ?  Bapak “pimpinan” di stasiun tersebut hanya bisa menjelaskan bahwa berdasarkan ketentuan yang berlaku, berat maksimal barang bawaan per penumpang adalah 20 kilogram. Ketika dijelaskan bahwa barang di kopor itu adalah barang bawaan kolektif dari dua orang calon penumpang yang disatukan dalam satu kopor, dan beratnya pun tak melebihi batas maksimal 40 kilogram; bahkan hanya 35,5 kilogram. Yang artinya tidak melampaui batas maksimal barang bawaan yang diijinkan. Demikian bapak calon penumpang tersebut menjelaskan dengan kesal. Bapak “pimpinan” di stasiun itu pun ternyata masih bersikukuh bahwa barang bawaan penumpang tak boleh melebihi 20 kilogram per penumpang.  

Hmmm… sangat memprihatinkan memang !

Petugas di lapangan yang berhadapan langsung dengan pelanggan, seharusnya sudah dibekali melalui training misalnya, tidak saja pengetahuan tentang peraturan yang diberlakukan, namun juga diuji kemampuannya untuk mencari solusi seandainya terjadi dispute atau penafsiran yang berbeda di lapangan.

Seandainya bapak si calon penumpang tadi tidak melakukan klarifikasi, dan tetap diam mengalah serta membayar “denda fiktif”, maka berapa kerugian yang diderita oleh bapak itu tadi.  Dan jika seandainya banyak calon penumpang lain dalam kurun waktu yang lama juga diperlakukan dengaqn tidak adil dan tidak jujur seperti itu tadi, maka berapa kerugian yang sia sia yang diderita oleh para pelanggan. 

Berbisnis memang harus jujur, dan menggunakan hati nurani.

 

PERISTIWA KEDUA

Seseorang akan mengirim barang melalui jasa pengiriman barang yang sangat ternama di Republik Indonesia ini. Setelah ditanya tentang isi barang yang akan dikirim, kemudian barang tersebut ditimbang dan beratnya adalah 16,49 kilogram.  Setelah ditimbang, barang kiriman pun masih diukur dimensinya, untuk mengetahui volumenya.

Saat si pengirim barang bertanya kepada petugas, “barang ini dihitung berdasarkan berat, apa berdasarkan volume barang ?”  Petugas pun diam tak menjawab. Si pengirim barang pun menegaskan bahwa tidak boleh ada double counting terhadap pengenaan biaya atas pengiriman barang; kalau yang dihitung berat, ya beratnya saja, dan kalau yang diperhitungkan adalah volumenya, ya volumenya saja; tidak boleh pelanggan itu di-charged atas dasar kedua duanya ! Kata si pengirim barang dengan tegas. Setelah receipt (tanda bukti pengiriman barang) diterima, ternyata berat barang yang dikirim, tertulis 17 kilogram, bukannya 16,49 kilogram atau setidak tidaknya 16,50 kilogram. Si pengirim barang mencoba mencari penjelasan atas berat barang yang dinyatakan 17 kilogram tersebut. Petugas pun mengatakan kalau ada kelebihan berat di atas 3 Ons, maka akan dibulatkan ke atas oleh system (?) Si pengirim barang pun menjadi serba salah, dan akhirnya pun mengalah asal barang yang dikirim bisa sampai ke alamat tujuan dengan selamat.  Dari kejadian ini terlihat bahwa si pengirim barang berada pada posisi tawar yang tidak menguntungkan. Dan lagi lagi praktik tak terpuji seperti ini pun berlangsung terus dengan memanfaatkan posisi tawar yang lemah dari pelanggan.

Jadi, sekali lagi, berbisnis memang harus jujur dan menggunakan hati nurani.

Banyak sekali teori tentang bagaimana menjalankan bisnis; tinjauannya pun menyeluruh hingga ke aspek lingkungan.  Namun sesungguhnya, menjalankan bisnis itu semata mata bukan hanya mencari keuntungan sebesar besarnya, tetapi lebih kepada mencari keuntungan yang berkah, tak ada kecurangan (cheating), memenuhi harapan pelanggan, dan berkelangsungan (sustained); atau mungkin masih banyak hal baik lainnya yang menjadi bagian dari tujuan berbisnis.

Wallahu ‘alam bishshawab…

 

Jakarta,  Nopember 2016.

Komentar

Artikel Terkait
gloopic.net
Visitor Online :80
Visitor Today :1.789
Visitor Total :3.294.914

BERLANGGANAN NEWSLETTER

Dengan berlangganan NEWSLETTER anda akan menerima info tebaru dari situs kami.