gloopic.net
Artikel / Rohani Kristen

Kehidupan dan Pelayanan Rasul Paulus 1

I. Latar Belakang dan Pertobatan Rasul Paulus

(Jakarta, Gloopic) Nama aslinya adalah Saulus (nama yang diambil dari bahasa Ibrani), tetapi setelah bertobat mengambil nama dalam bahasa Yunani, yaitu Paulus. Saulus adalah seorang Yahudi dan ia sangat bangga dengan keyahudiannya itu. Ia berasal dari suku Benyamin dan ia juga memiliki kewarganegaraan Roma. Rasul Paulus adalah rasul yang memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, ia adalah seseorang yang gigih dan siap mati karena Kristus. Dahulu, ia adalah seorang yang menjunjung tinggi Taurat, akan tetapi perjumpaannya dengan Yesus telah mengubah hidupnya.

A. Penduduk Asli Tarsus

Waktu kelahiran Paulus kurang lebih sama dengan kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Ia dilahirkan di Tarsus, sebuah kota yang terkemuka zaman itu di wilayah Kilikia. Tarsus terletak hanya 1,2 km dari Laut Tengah. Oleh karena itu, Tarsus menjadi kota pusat perdagangan. Di samping itu, Tarsus juga menjadi kota ilmu pengetahuan, sebab di sana banyak sekali terdapat sekolah dan universitas-universitas. Banyak orang pendatang yang belajar di sekolah-sekolah terkenal di Tarsus, dan kemudian tersebar ke seluruh bagian kekaisaran Roma. Di kota ini tinggal orang-orang Yunani dan orang-orang Timur, juga bangsa-bangsa yang lain. Selain maju dalam pendidikan, kota Tarsus juga merupakan sebuah kota perdagangan yang sangat maju. Kapal -kapal dari berbagai negara singgah di kota itu, benang dan hasil kain dari Tarsus sangat terkenal dan memiliki kualitas yang baik dan sangat terkenal pada masa itu.
Kota Tarsus banyak dihuni oleh orang-orang Yunani dan berbagai bangsa yang menjadi bagian dari kekaisaran Romawi. Di kota Tarsus Paulus mendapat kesempatan belajar tentang cara hidup bangsa yang bukan Yahudi. Oleh karena itu, ketika waktunya tiba, dia dapat memperkenalkan Injil Kristus kepada bangsa-bangsa lain dengan cara yang sangat baik.

B. Pendidikan Paulus

Menurut adat istiadat Yahudi yang taat, setiap anak laki-laki harus diberi pendidikan yang baik dan latihan yang sangat hati-hati di rumahnya. Dia menerima pendidikan dasar. Kemudian pada usia 13 sampai 15 tahun, ia dikirim ke Yerusalem untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi di sekolah kerabian (sebuah sekolah pendidikan dalam agama Yahudi). Sebagaimana orang-orang Yahudi, orang-orang tua Yahudi akan mendidik anak-anaknya  ketika mereka masih kecil. Usia 0-6 tahun, seorang anak akan dididik oleh ibunya dan usia  6-12 tahun mereka sudah menjadi anak-anak Taurat yang belajar seluruh kitab Taurat dan kitab Nabi-nabi di Sinagoge. Paulus juga menerima didikan itu, dan pada usia 13 tahun, orang tuanya mengirimkan Paulus ke Yerusalem untuk memperdalam sekolah Tauratnya dan membekali diri untuk menjadi seorang rabi.
Orang tua Paulus adalah seorang yang kaya, sehingga mereka mengirimkan Paulus untuk pergi ke Yerusalem. Sekolah Taurat di Yerusalem dan di diajar di bawah bimbingan guru besar dan sangat tersohor pada waktu itu yaitu Gamaliel. Paulus nampaknya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ia dapatkan. Ia belajar dengan sungguh-sungguh hingga pada usia yang masih muda, Paulus dapat menjadi bagian dari golongan Sanhedrin. Paulus menjadi seorang murid yang istimewa dan rupanya Gamaliel memberikan penghargaan tinggi kepadanya.

C. Kembali ke Tarsus

Ketika Paulus telah menyelesaikan pendidikannya di Yerusalem, ia kembali ke kota aslinya, Tarsus. Sekarang dia sudah siap bekerja. Orangtua serta guru-gurunya sangat bangga kepadanya. Ada kemungkinan Paulus menghabiskan waktunya selama beberapa tahun di Tarsus sebagai seorang rabi, guru agama Yahudi. Tidak ada catatan lain tentang dia selama tahun-tahun itu sampai ia kemudian kembali ke Yerusalem, tepat sebelum kematian Stefanus, salah seorang dari ketujuh diaken yang juga merupakan seorang pengikut Yesus Kristus. Dalam Kisah Para Rasul dituliskan bahwa Saulus hadir di Yerusalem pada waktu Stefanus, salah satu dari ketujuh diaken dijatuhi hukuman mati. Saulus masih sangat muda dan ia menyetujui apabila Stefanus dijatuhi hukuman mati. Paulus sudah mendengar tentang gerakan Kristen yang menentang iman Yahudi. Paulus ingin pergi untuk membantu mempertahankan iman nenek moyangnya. Selama pengadilan Stefanus, Paulus ada di sana dengan teman-teman sebangsanya. Meskipun ia tidak ikut melempari Stefanus dengan batu, ia memiliki perasaan yang sama dengan orang-orang yang menganiaya Stefanus dan setuju bahwa Stefanus harus dihukum mati. Paulus menyaksikan kematian Stefanus. Walaupun ia tidak mengetahuinya pada waktu itu, kejadian ini memainkan peranan yang penting dalam keputusannya mengikut Tuhan Yesus Kristus di kemudian hari.

D. Penganiayaan Orang-Orang

Paulus menjadi pemimpin di antara orang Yahudi. Para pemimpin yang lebih tua mundur dan memberikan kesempatan kepada Paulus menjadi pimpinan pasukan untuk menghancurkan kekristenan. Paulus sendiri menggambarkan tindakannya yang melawan kekristenan ini dengan berkata: "Hal itu kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imamimam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati. Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota-kota asing." (Kisah Para Rasul 26:10,11) Dalam Kisah Para Rasul 26:10-11, begitu jujur dan lugas Paulus mengatakan bahwa ia sudah memenjarakan dan menangkap orang Kristen sejak di Yerusalem dan di kota-kota lain di luar Israel. Bagi Paulus, kesalehannya sebagai ahli Taurat benar-benar ia nyatakan dalam tindakan nyata dan kebenaran hukum Taurat itu yang ia kenakan untuk menangkap dan memenjarakan orang Kristen.
Paulus adalah seorang Yahudi yang sangat menjunjung tinggi Taurat Musa dan ia adalah seorang yang melakukan semua tuntutan Taurat, sehingga Paulus dapat dikatakan sebagai seorang yang saleh. Kesalehan Paulus inilah yang membuatnya membenci orang-orang Kristen, sebab kekristenan adalah hal yang bertentang dengan Taurat. Oleh karena itu, ia memiliki surat kuasa dari Imam Kepala untuk menangkap dan membinasakan orang-orang Kristen.
Karena kesalehannya sebagai orang Yahudi maka Paulus akan melakukan apa saja yang selaras dengan hukum Taurat. Oleh sebab itu, Paulus mengejar-ngejar dan memenjarakan orang-orang Kristen, karena orang Kristen menentang Taurat dan tidak melakukan ketetapan-ketetapan Taurat. Paulus adalah seorang yang taat kepada agama Yahudi dan dia merasa bahwa apa yang dia lakukan itu benar. Ini terjadi sebelum ia mengalami kasih dan anugerah dari Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus.

E. Paulus Mulai Menuju ke Damsyik

Pertobatan Paulus merupakan salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah kekristenan. Paulus telah bertanggung jawab atas begitu banyak kematian dan ribuan orang-orang Kristen yang telah dipenjarakannya. Sekarang ia berada dalam perjalanan menuju Damsyik, sebuah kota penting di daerah Siria, untuk mengusir orang-orang Kristen di sana. Ketika menuju ke Damsyik, Paulus tidak hanya seorang diri. Akan tetapi, ia pergi bersama rekan-rekannya dan membawa surat kuasa untuk memenjarakan orang-orang Kristen.
Ada tiga peristiwa dari pengalaman pertobatan Paulus yang tercatat di dalam Perjanjian Baru. Lukas menceritakannya menurut kenyataan sejarah dan Paulus menceritakannya dengan kata-katanya sendiri sebanyak dua kali (semua dapat ditemukan dalam Kitab Kisah Para Rasul). Paulus telah membuat namanya ditakuti di antara semua orang Kristen di Yerusalem. Dia telah berhasil memisahkan atau membungkam banyak orang Kristen di kota suci itu. Kemudian, ia mendapat laporan tentang adanya kelompok besar orang Kristen di kota Damsyik. Kota Damsyik, kira-kira 240 km jauhnya dari Yerusalem. Dia memutuskan untuk pergi ke sana untuk melanjutkan penganiayaannya kepada orang-orang percaya ini. Dia telah diberi kekuasaan penuh dan membawa surat izin untuk memasuki kota dan menangkap semua orang Kristen di kota itu dan membawa mereka kembali dalam keadaan terbelenggu ke Yerusalem. Paulus dan kawan-kawan memulai perjalanan yang panjang menuju Damsyik. Perjalanan ini membutuhkan waktu enam sampai tujuh hari dan selama perjalanan panjang ini, anak muda yang pandai dan penuh semangat ini mempunyai banyak waktu untuk berpikir. Mungkin ia mulai meragukan tindakannya. Dia tidak habis berpikir dan tidak mengerti bagaimana Stefanus bisa mati dengan begitu tenangnya. Dia tidak dapat melupakan doa Stefanus ketika Stefanus "menutup mata" dengan damai. Paulus merasa bahwa dia harus melakukan hal yang ia pandang benar, tetapi dia terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya. Oleh karena itu, ia pun pergi ke Damsyik.

F. Pertobatan Paulus

Berita tentang kedatangan Paulus telah sampai ke Damsyik sebelum ia tiba di sana. Pertobatan Paulus terjadi ketika ia mendekati kota itu. Pada waktu tengah hari, tiba-tiba sebuah cahaya yang membutakan mata bersinar mengelilingi Paulus dan teman-temannya. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah suatu suara berkata kepadanya, "Saul, Saul mengapa engkau menganiaya Aku?" Jawab Saulus: "Siapakah engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kau aniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat." (Kisah Para Rasul 9:4-6) Paulus berdiri dari tanah dan mendapati dirinya buta. Beberapa anak buahnya menuntun dia dan membawanya ke Damsyik. Selama tiga hari lamanya dia tidak dapat melihat dan tidak makan ataupun minum. Pengalaman ini mengubah Paulus sepenuhnya. Sekarang orang Farisi yang sombong ini berubah menjadi seorang yang kesakitan, gemetar, meraba-raba dan bergantung pada tangan orang lain yang menuntunnya sampai ia tiba di Damsyik. Ia pergi ke rumah Yudas dan langsung masuk ke kamarnya. Di sana ia tinggal selama tiga hari tanpa makanan dan minuman. Selama tiga hari itu Paulus berdoa dan berpuasa. Seluruh hidupnya telah berubah setelah pertemuannya dengan Kristus. Sekarang dia harus membangun kembali kehidupannya di dalam Kristus.

G. Ananias

Ananias adalah seorang murid di antara banyak orang Kristen di Damsyik. Dia dikasihi dan dihormati oleh semua orang yang mengenalnya. Ananias mendapatkan sebuah penglihatan dari Allah dan diperintahkan pergi ke rumah Yudas untuk menemui Saulus dari Tarsus. Ananias merasa sangat takut karena ia telah mendengar tentang semua kejahatan yang telah dilakukan Saulus terhadap orang-orang Kristen. Ananias barangkali sudah mengetahui bahwa dengan alasan ini jugalah Paulus datang ke Damsyik. Tetapi, Tuhan meyakinkan Ananias bahwa ia harus pergi, sehingga ia pun pergi mengunjungi Saulus. Kemudian Ananias menumpangkan tangannya ke atas kepala orang Farisi muda ini, dan berkata, "Saulus, saudaraku" dan memberitahukannya bahwa Yesuslah orang yang telah menampakkan diri dalam penglihatannya. Kemudian terbukalah mata Paulus dan ia menerima anugerah Roh Kudus. Setelah itu dia dibaptis, kemungkinan juga Paulus dibaptis oleh Ananias.

H. Paulus Mulai Berkhotbah

Kita tidak terlalu heran ketika mengetahui bahwa rasul baru ini langsung memulai pekerjaan barunya. Dia mulai berkotbah tentang Kristus dan menyatakan bahwa Kristus adalah anak Allah. Para rasul Tuhan sangat heran dengan perubahan yang luar biasa pada diri Paulus. Orang-orang Yahudi yang mendengar dia juga merasa tidak percaya bahwa Sauluslah orang yang menyatakan hal itu. Paulus bertumbuh dalam kekuatan dan kuasa selama dia memberitakan Firman Tuhan.
Paulus pergi ke Arab dan tinggal di sana selama tiga tahun. Inilah waktu untuk belajar dan mendalami firman Allah guna mempersiapkan dirinya kepada satu pelayanan yang penting, yang sudah menunggu di hadapannya.
Setelah tinggal di Arab, ia kembali ke Damsyik. Di sana banyak orang mendengarkan pemberitaannya dengan penuh semangat. Tetapi, tidak lama kemudian orang-orang Yahudi berusaha mencari dan membunuhnya. Oleh sebab itu, para murid merencanakan untuk meloloskan dia. Pada suatu malam Paulus disembunyikan dalam sebuah keranjang dan diturunkan di luar tembok kota.
Sekarang Paulus mengerti apa yang telah ia perbuat terhadap orang-orang Kristen. Mulai saat itu banyak orang Yahudi mencari dia dan ingin menghancurkannya. Paulus adalah seorang rasul Allah yang begitu pandai dalam memberitakan Injil, baik kepada orang Yahudi ataupun kepada orang-orang yang bukan Yahudi. Orang yang bukan Yahudi adalah orang-orang yang berasal dari bangsa-bangsa lain. Dia telah bertumbuh di kota Tarsus, sebuah kota yang bukan Yahudi, dan tinggal serta belajar di sana sebagai seorang Yahudi.

II. Pelayanan Misi Paulus Yang Pertama

Yesus berkata, "dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku." (Yohanes12:32) Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya mengenai misi keseluruh dunia ini. "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20).
Kita  menyebut  perintah  ini  sebagai  "Amanat  Agung". Amanat Agung untuk "semua bangsa". Memang sulit bagi para pengikut-Nya untuk memulai pekerjaan ini, bahkan setelah kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke surga. Kemungkinan besar para murid Tuhan Yesus mula-mula menetap di Yerusalem, namun karena penganiayaan semakin menjadi-jadi, mereka akhirnya tercerai-berai dan tersebar ke negera-negara lain. Jadi, mereka menyebarkan Injil, namun mereka sebetulnya tidak memiliki rencana untuk melakukan hal itu. Tetapi, orang-orang Kristen ini membutuhkan seorang pemimpin yang dapat mengatur, merencanakan program, dan memimpin mereka di dalam suatu misi kepada bangsa-bangsa lain. Pemimpin ini adalah Paulus. Kira-kira, sepuluh tahun setelah pertobatannya, ia telah mempersiapkan dirinya dan bersiap-siap untuk memimpin misi gereja yang nyata ini.

A. Gereja Di Antiokia

Antiokia, dengan jumlah penduduk lebih dari setengah juta jiwa, pada waktu itu adalah salah satu kota terbesar di wilayah kekaisaran Romawi.
Para pembawa berita firman pertama yang tiba di Antiokia dari Yerusalem telah merencanakan untuk melayani orang-orang Yahudi di kota itu. Tetapi, para pelayan Tuhan lainnya yang berasal dari Siprus dan Kirene telah mulai pekerjaan mereka di tengah-tengah orang Yunani. Ini merupakan usaha nyata yang pertama kali dilakukan untuk bangsa-bangsa lain. Sejak awal, jemaat mula-mula telah sangat kuat.
"Dan tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan." (Kisah Para Rasul 11:21) Jemaat mula-mula yang terdiri dari banyak suku bangsa dan yang menyembah Allah ini bersama-sama menjadi salah satu jemaat yang terkuat waktu itu. Inilah pelajaran untuk kita hari ini. Jikalah kita dapat membuang jauh-jauh semua prasangka buruk dan perbedaan-perbedaan antara kita dengan suku dan bangsa lain, dan dengan sungguh-sungguh menyembah Tuhan kita dalam roh kebenaran, maka tidaklah mustahil jemaat gereja kita dapat memiliki kuasa yang sama dengan gereja jemaat mula-mula ini.
Di bawah kepemimpinan Barnabas, para jemaat mampu bertumbuh dengan begitu pesatnya sehingga ia membutuhkan banyak bantuan. Ketika Paulus diminta datang dari Tarsus untuk membantu pekerjaan itu, jemaat menjadi makin lebih kuat lagi karena Paulus memiliki karunia untuk mengajar jemaat. Kemudian, para jemaat mulai memberikan perhatian kepada orang-orang yang bukan Yahudi yang ada di negara-negara lain. Para jemaat menyadari bahwa menyebarkan Injil kepada bangsa-bangsa lain adalah kewajiban mereka. Jemaat yang kuat ini memperoleh penghargaan dalam pelayanan mereka sebagai pusat penyebaran Injil kepada orang-orang yang bukan Yahudi. Di Antiokialah murid-murid ini pertama kali disebut Kristen.

B. Pekerjaan Roh Kudus

"Pada waktu itu di jemaat Antiokia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Paulus. Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: "Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka." Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi. Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Paulus berangkat ke Seleukia dan dari situ mereka berlayar ke Siprus." (Kisah Para Rasul 13:1-4) Kita tahu ketika para pemimpin sedang berdoa dan berpuasa, Roh Kudus berbicara kepada mereka dan  berkata, "Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiku untuk tugas yang telah ditentukan bagi mereka." Alkitab selanjutnya menceritakan kepada kita bahwa mereka menumpangkan tangan dan mengutus kedua orang itu pergi untuk melakukan tugas mereka. Jemaat di Antiokia merasa sangat kehilangan dengan perginya kedua pemimpin yang kuat ini, namun mereka menyadari bahwa ini adalah suatu kesempatan yang besar untuk dapat saling membagikan pekerjaan pengabaran Injil ke seluruh dunia.

C. Mereka Memulai Perjalanan Misi yang Pertama

Dalam Kisah Para Rasul 13:4-13, Barnabas, Paulus, dan Yohanes Markus, seorang muda dari Yerusalem, memulai pekerjaan mereka. Barnabas, yang tertua, dianggap sebagai pemimpin. Paulus dan Barnabas merupakan sahabat baik dan keduanya saling menghargai. Yohanes Markus ikut untuk membantu mereka. Dia adalah anak dari Maria, seorang Kristen yang taat dan aktif di Yerusalem. Dia juga sepupu Barnabas.
Mereka berlayar ke Seleukia dan berjalan sepanjang 110 kilometer ke Salamis, di pantai timur Siprus. Siprus adalah rumah lama Barnabas. Para penginjil ini mengunjungi tempat-tempat penting di pulau Siprus sampai akhirnya mereka tiba di Pafos. Di Pafos mereka bertemu dua orang terkemuka, yaitu seorang tukang sihir yang bernama Elimus Baryesus dan Sergius Paulus yang menjadi gubernur pulau itu. Sergius Paulus memanggil Barnabas dan Paulus sebab ia ingin mendengar Firman Tuhan. Ketika para penginjil itu berusaha memenangkan Sergius Paulus bagi  Kristus, Elimus berusaha menghalang-halangi mereka. Akhirnya, Paulus menantang "anak iblis" ini dan membuat mata orang itu buta untuk beberapa saat. Melihat apa yang terjadi, Sergius Paulus merasa sangat takjub dan percaya ajaran Tuhan.
Mulai saat inilah Lukas menyebut para pengabar Injil ini sebagai "Paulus dan kawan-kawannya atau Paulus dan Barnabas".

D. Ke Asia Kecil

Paulus dan kawan-kawannya sekarang meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia. Di sana Yohanes Markus meninggalkan kelompok ini dan kembali ke rumahnya di Yerusalem.
Paulus dan Barnabas meneruskan perjalanannya ke Antiokia (di Pisidia). Di Antiokia Paulus pergi ke rumah ibadah dan memberitakan Firman Tuhan di sana. Pemberitaan itu membuat orang-orang di sana takjub dan mereka memintanya berkhotbah lagi.
Pada hari Sabat berikutnya, Paulus berkhotbah lagi dan hampir seluruh kota itu berkumpul bersama-sama untuk mendengar Firman Tuhan. Hal ini membuat jengkel orang-orang Yahudi di sana. Mereka merasa iri dan mulai membantah apa yang dikatakan Paulus. Namun, Paulus berkata bahwa kepada merekalah firman Tuhan pertama kali diberitakan. Namun karena mereka menolaknya, Paulus dan Barnabas berpaling kepada bangsa-bangsa lain.
Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan Firman Tuhan dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Lalu, Firman Tuhan tersiar di seluruh daerah itu. Kisah Para Rasul 13:48-49. Injil Allah mulai masuk di hati bangsa-bangsa lain. Namun sebaliknya, orang Yahudi berbalik melawan Paulus dan Barnabas dan mengusir mereka dari kota.
Kira-kira, 120 kilometer di sebelah tenggara Antiokia terdapat sebuah kota yang bernama Ikonium. Paulus dan Barnabas langsung pergi ke tempat ibadah memberitakan Firman Tuhan di sana. Banyak orang menjadi percaya dan menerima Kristus. Namun, ada juga musuh-musuh di sana. Para Rasul memperlihatkan banyak tanda-tanda dan mujizat dan tinggal lama di sana untuk memberitakan firman Tuhan. Akhirnya, musuh-musuh itu membentuk suatu kelompok massa dan mengancam untuk membunuh para pengabar Injil ini. Akibatnya, Paulus dan Barnabas terpaksa harus menyingkir dari kota itu.

E. Paulus Di Listra

Paulus dan Barnabas terusir dari Ikonium. Kota tujuan Paulus berikutnya adalah Listra. Di kota ini diperkirakan ada beberapa keluarga Yahudi, setidak-tidaknya ada satu keluarga Yahudi yang tinggal di sana. Ada seorang janda bernama Eunike. Dia memiliki seorang anak bernama Timotius. Suami Eunike bukanlah Yahudi dan Timotius belum pernah disunat. (Sunat adalah keharusan bagi setiap orang yang ingin masuk ke dalam agama Yahudi.) Lois, ibu Eunike, juga tinggal di rumah itu. Paulus dan Barnabas memenangkan keluarga ini bagi Kristus.
Dalam Kisah Para Rasul 14:8-20, di Listra ada seorang lumpuh yang mendengarkan Paulus berkhotbah. Dia lumpuh sejak lahir. Dia hanya bisa duduk di pinggir jalan di Listra. Mungkin saja, ia seorang pengemis yang dikenal oleh banyak orang di sana. Paulus melihat bahwa orang ini beriman dan dapat disembuhkan. Lalu, kata Paulus kepada orang itu dengan suara nyaring. "Berdirilah tegak di atas kakimu." Segeralah orang itu berdiri dan berjalan. Ketika orang-orang bukan Yahudi melihat kejadian itu, mereka menyangka Paulus dan Barnabas adalah dewa-dewa yang turun dan menjelma sebagai manusia. Mereka memanggil Paulus dan Barnabas dengan sebutan Zeus dan Hermes (nama dari dua dewa Yunani).
Orang-orang itu mulai mempersiapkan perayaan yang besar untuk menghormati mereka. Dengan segera Paulus dan Barnabas memberitahukan bahwa mereka bukanlah dewa, dan menjelaskan bahwa mereka hanyalah manusia biasa.
Mereka juga menjelaskan bahwa mereka datang ke kota itu untuk memberitakan firman Tuhan. "Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut, dan segala isinya. Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim -musim subur kepada kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan." (Kisah Para Rasul 14:15-17) Kemudian,  datanglah  satu  kelompok  orang-orang  Yahudi  yang  memimpin  suatu  massa  yang  melempari  Paulus dengan batu lalu meninggalkannya sebab mereka menyangka dia telah mati. Lalu, teman-teman Paulus menemukan dia dalam keadaan hidup dan menolongnya untuk melarikan diri. Kemudian, ia dan Barnabas pergi ke Derbe. Sekarang, tiba saatnya untuk menyelesaikan pelayanan misi mereka yang pertama dan memulai perjalanan mereka pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang mereka mengunjungi Listra, Ikonium, Antiokia, dan Perga. Paulus dan Barnabas ingin menolong orang-orang itu dalam pekerjaan mereka dan mengumpulkan mereka dalam berbagai jemaat gereja. Paulus dan Barnabas juga ingin menolong mereka memilih penatua yang dapat bertanggung jawab untuk jemaat-jemaat ini. Mereka mendirikan jemaat gereja di setiap kota dan menetapkan seorang pemimpin sebagai gembala dan guru. Jemaat-jemaat dari bangsa-bangsa lain sekarang sudah berdiri di Asia ini.

F. Kembali Ke Antiokia

Ketika mereka akhirnya tiba di Antiokia, para penginjil itu mengumpulkan para jemaat dan menceritakan semua hal yang telah Tuhan lakukan kepada mereka, dan bahwa Tuhan telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain untuk beriman. Sungguh merupakan kisah yang luar biasa karena mendengarkan pelayanan mereka selama dua tahun di antara bangsa-bangsa lain. Para jemaat yang mendengarkan merasa puas sekali atas laporan para rasul itu. Pekerjaan di antara orang Yunani telah dimulai dengan cara yang luar biasa dan Tuhan telah memberkatinya. Pekerjaan penginjilan Paulus bukan lagi menjadi sebuah angan-angan, tetapi merupakan suatu kenyataan yang mulia. Bangsa-bangsa lain telah mengetahui kasih Kristus dan mereka tidak akan melupakan-Nya. Salah satu dari perubahan tersebar di  dalam  sejarah  manusia  telah  terjadi. Banyak orang Yahudi danYunani kini menjadi bagian dari tubuh Kristus. "Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus." (Galatia 3:26-28)

G. Paulus Seorang Misionaris

Kita sekarang sudah mengetahui berbagai pengalaman yang dialami Paulus selama perjalanan misinya yang pertama. Kita mendapat kesempatan untuk melihat pekerjaan Paulus dalam misinya yang luar biasa. Pekerjaan Paulus dan Barnabas setidak-tidaknya memiliki empat fungsi:

a. Mereka adalah penginjil.
Mereka memberitakan Firman Tuhan kepada orang banyak. Pesan-pesan yang mereka sampaikan begitu mengena dan telah memenangkan banyak jiwa bagi Kristus.

b. Mereka melayani sebagai guru.
Banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab dalam pertemuan umum. Paulus dan Barnabas tentunya harus meluangkan banyak waktu, siang dan malam, mengajar secara pribadi ataupun kelompok.

c. Mereka adalah konselor (penasihat).
Pekerjaan mereka menuntut banyak bimbingan kepada orang Kristen baik secara pribadi maupun kelompok. Mereka melayani sebagai gembala kepada orang-orang yang membutuhkan pelayanan ini.

d. Mereka juga bertindak sebagai penuntun (pembimbing) pada masalah organisasi jemaat.
Paulus memang baru dalam hal ini, tetapi metode-metodenya begitu berhasil baik sehingga sampai sekarang pun kita masih menggunakannya sebagai pedoman untuk gereja-gereja kita. Tuhan telah memberkati Paulus
secara luar biasa selama perjalanannya yang pertama. Bahkan kemenangan-kemenangan yang lebih besar sudah siap menunggu dalam perjalanannya yang selanjutnya.

H. Masalah Dalam Gereja

Sementara para penginjil ini sedang beristirahat dan bersekutu di Antiokia, mereka menerima kabar tentang adanya satu masalah besar, yang mengancam kehidupan jemaat itu sendiri. Pertanyaannya adalah dapatkah seorang bukan Yahudi menjadi seorang Kristen? Kita tahu bahwa Filipus dan Petrus bersaksi dan memberitakan Injil di antara orang Samaria dan banyak bertobat di sana. Petrus secara terang-terangan mempertahankan pekerjaan dan pelayannya untuk memenangkan Kornelius dan orang-orang Yunani lainnya di Kaisarea. Baca peristiwa ini dalam Kisah Para Rasal 10 dan  pengalaman Petrus di Kisah Para Rasul 11:18. Para jemaat sebenarnya sudah menyetujui orang-orang Kristen Yunani di jemaat Antiokia di Siria. Tetapi sementara Paulus dan Barnabas meninggalkan mereka, orang-orang ini mulai mempertanyakan apakah orang-orang bukan Yahudi dapat dibenarkan menjadi Kristen. Beberapa orang dari jemaat di Yerusalem datang ke Antiokia untuk membahas masalah ini. Orang-orang ini dulunya adalah orang-orang Farisi dan mereka tetap berkeyakinan bahwa orang bukan Yahudi tidak dapat menjadi Kristen tanpa terlebih dahulu disunat. Dengan kata lain, orang itu harus menjadi orang Yahudi dulu. Ada banyak masalah di Antiokia yang timbul karena ajaran yang salah ini.
Ketika Paulus mendengar hal ini, dengan segera ia melihat bahaya yang benar-benar mengancam jemaat. Masalah ini bisa memecah belah para jemaat, juga bisa menghambat pertumbuhan kekristenan itu sendiri. Paulus langsung mengambil sikap yang tegas atas masalah ini. Paulus mengatakan bahwa sunat tidak diperlukan supaya mereka dapat memperoleh keselamatan.
Kemudian diputuskan untuk membawa masalah ini ke Yerusalem bukan untuk menerima persetujuan dari jemaat di sana, sebab jemaat di sana sama sekali tidak memiliki kuasa atas jemaat lainnya, namun karena orang-orang dari Yerusalemlah yang pertama kali mempertanyakan hal ini di jemaat di Antiokhia. Paulus juga ingin supaya pemimpin-pemimpin di Yerusalem mengambil keputusan yang positif akan hal ini, sehingga semua jemaat dapat terlepas dari masalah tersebut.
Di Yerusalem, para pemimpin jemaat dipanggil bersama untuk pertemuan pribadi. Dalam pertemuan itu Petrus menceritakan kesaksiannya tentang seorang yang bukanYahudi, yakni Kornelius. Paulus dan Barnabas juga membagikan berkat-berkat yang telah mereka terima pada saat mereka bersaksi kepada bangsa-bangsa lain. Keputusan akhir yang mereka ambil memberikan kemenangan yang melimpah bagi Paulus. Mereka memutuskan untuk mengirim sepucuk surat kepada seluruh jemaat dan menyatakan bahwa sunat dan upacara penerimaan secara Yahudi tidak dibutuhkan bagi orang yang bukan Yahudi yang ingin menjadi orang Kristen. Apa yang penting bagi bangsa-bangsa lain untuk bisa selamat? Petrus mengatakan dengan begitu indahnya di dalam Kisah Para Rasul 15:11, "Kita percaya bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga."

(Kehidupan dan Pelayanan Rasul Paulus 1/Tim Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam/BPS Gerja Toraja/Widjaja Lagha/Gloopic.net).

Komentar

Artikel Terkait
gloopic.net
Visitor Online :51
Visitor Today :3.164
Visitor Total :6.525.993

BERLANGGANAN NEWSLETTER

Dengan berlangganan NEWSLETTER anda akan menerima info tebaru dari situs kami.