gloopic.net
Artikel / Sejarah dan Budaya

Dunia Intelijen Indonesia: Rimba Kontra Intelijen

Presiden Soeharto jatuh di saat Bakin dipimpin bukan oleh orang dengan spesialisasi intelijen. Mengapa Soeharto kerap mencurigai Kepala Bakin?

Usai membaca koran, Kepala Bakin, Letnan Jenderal Sutopo Yuwono, menghela napas panjang. Ia merasa lega, karena sudah merestrukturisasi Bakin dalam organisasi baru. Di antaranya Deputi III menangani operasi khusus (opsus). Tetapi apa yang terjadi, Mayor Jenderal Ali Moertopo ‘ngotot’ tetap memegang kendali opsus.

Ali Moertopo enggan menyerahkan masalah-masalah dalam negeri kepada Bakin. Sebaliknya, ia memindahkan markas Opsus ke Jalan Tanah Abang III. Saat itu ia merasa punya power sebagai asisten pribadi Presiden Soeharto.

“Pak Ali bukan mencari musuh, tetapi karena ada kepentingan, sehingga merasa opsus harus tetap dia pegang. Dia tidak ingin jadi raja, melainkan ingin menjadikan seseorang menjadi raja,” ujar Pitut Soeharto, seperti tertulis dalam buku ‘Intel Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia’, tulisan Ken Conboy, tahun 2007.

Sifat keras Ali Moertopo atas opsus ini membuat ketegangan di antara perwira tinggi senior. Wakil Panglima Komkamtib, Letnan Jenderal Soemitro menentang sikap Ali yang dianggap merecoki Bakin. Bakin pun simpati dengan cara Soemitro. Kepala Bakin, Letjen Sutopo Yuwono marah atas penolakan Ali Moertopo yang menolak menggabungkan aset opsus.

Maka pada Januari 1972, Bakin menyadap seluruh telepon Ali Moertopo. Satsus Intel pun dikerahkan untuk memantau gerak gerik jenderal bintang dua itu. Memasuki awal tahun 1974, suasana persaingan semakin terbuka. Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro secara terbuka di depan media massa menentang Ali Moertopo.

Keduanya bukan hanya mencari pengaruh kepada Presiden Soeharto. Melainkan juga kepada aktivis mahasiswa. Soemitro berada di atas angin, karena mahasiswa juga tidak suka dengan perilaku Ali Moertopo yang seperti tidak terkontrol dengan jabatannya sebagai Asisten Pribadi Presiden.

Satsus Intel Bakin melakukan ‘operasi bunglon’ untuk menghadapi Ali Moertopo. Perang inteijen benar-benar terjadi dan tak terkendali. Ali Moertopo dibuntuti terus ke mana pun berada. Puncaknya terjadi saat kedatangan Perdana Menteri Jepang, Tanaka ke Jakarta. Terjadi kerusuhan di Jakarta pada 15-16 Januari 1974, sering disebut sebagai Malari.

Preteli jenderal

Presiden Soeharto marah besar dan merasa dipermalukan dengan kerusuhan tersebut. Apalagi di saat ada tamu negara. Ia pun mencari tahu siapa biang kerok kerusuhan tersebut. Tanpa ampun, sejumlah jenderal dicopot dari jabatannya, termasuk Panglima Kopkamtib, Jenderal Soemitro; Kepala Bakin Letjen Sutopo Yuwono; dan menghapus jabatan Asisten Pribadi Presiden, Mayjen Ali Moertopo. Sekaligus memaksa Ali

Moertopo tetap sebagai Deputi III Bakin bidang opsus. Namun opsus harus berada di bawah kendali Bakin.
Sebelumnya Mayjen Ali Moertopo adalah Aspri Presiden bidang khusus. Aspri-aspri lainnya adalah Mayjen Sudjono Humardani, Mayjen Tjokropranolo, dan Mayjen Suryo. Lembaga aspri semacam bemper bagi Presiden Soeharto.

Ali Moertopo pun mulai dicurigai Soeharto sebagai seorang yang ambisius. Diam-diam Soeharto pun mengawasi jenderal bintang dua itu. Namun ia masih membutuhkan Ali daripada Sutopo Yuwono maupun Soemitro. Sekali tepuk, Soeharto menghabisi karier jenderal-jenderalnya.
Sekaligus mencari peluang untuk ‘menghabisi’ karier Ali Moertopo secara politik. Bakin pun kembali direstrukturisasi dengan menempatkan Mayor Jenderal Yoga Sugama menggantikan Letjen Sutopo Yuwono.

Yoga dipanggil secara khusus dari New York oleh Presiden Soeharto. Sebelumnya, Yoga adalah Wakil Kepala Perwakilan Indonesia di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Pada 28 Januari 1974, Yoga resmi dilantik di istana sebagai orang ketiga yang dipercaya menjadi Kepala Bakin.

Menhankam/Panglima ABRI, Jenderal Maraden Panggabean pun dipaksa ‘mengawasi’ Yoga Sugama yang pangkatnya dinaikkan menjadi letnan jenderal. Letjen Yoga pun diminta membuat laporan penyebab peristiwa Malari. Peristiwa itu, menurut penelaahan Yoga dalam bukunya ‘Memori Jenderal Yoga’ tahun 1990, merupakan puncak aksi ekstra parlementer dari generasi muda, mahasiswa, pelajar yang memberikan kesan cenderung menjurus pada perbuatan makar terhadap kepemimpinan nasional serta upaya mengubah UUD 1945.

Yoga sama sekali tidak menyinggung adanya persaingan para jenderal dalam kasus ini. Saat itu, Yoga relatif lebih dekat dengan Ali Moertopo yang sama-sama berlatar belakang Divisi Diponegoro daripada dengan Soemitro yang berasal dari Divisi Brawijaya.

Padahal dalam pertemuan para aktivis mahasiswa sejak 1973 itu, justru menginginkan agar dua lembaga sekaligus, yakni Kopkamtib dan Aspri Presiden dibubarkan dengan alasan, karena kewenangannya tidak terbatas. Usai peristiwa Malari, Presiden Soeharto lebih percaya kepada Jenderal Panggabean yang dianggap tidak mungkin untuk berkhianat, karena bukan orang Jawa dan bukan Muslim. Sehingga sulit bagi Panggabean untuk melakukan penggalangan.

Praktis di era Yoga, Mayjen Ali Moertopo menjadi orang kedua, diangkat menjadi Wakil Kepala Bakin. Saat itu salah satu yang menjadi fokus tugas Bakin antara lain adalah proses dekolonisasi yang tengah berlangsung di Timor Portugis. Bakin membentuk satuan operasi dengan nama’komodo’. Dipimpin langsung Letjen Yoga Sugama. Wakilnya adalah Mayjen Ali Moertopo.

Sejumlah perwira intelijen beragama Nasrani diproyeksikan untuk menjadi bagian utama untuk operasi intelijen di Timor Portugis. Alasannya, antara lain, karena mayoritas penduduk wilayah jajahan Portugal itu, beragama Katolik. Mereka, antara lain: Brigjen Benny Moerdani dan Kolonel (Infanteri) Aloysius Sugianto. Ada juga perwira intelijen lainnya, seperti: Agus Hernoto, Alex Dinuth, dan Subrata.

“Operasi komodo merupakan ‘field preparation operation’ memantau perkembangan Timor Portugis dan berusaha menjalin kontak dengan beberapa pihak yang ingin berintegrasi dengan Indonesia,” ujar Yoga.

Akibat konflik hebat di antara partai-partai politik di wilayah tersebut, tidak kurang sekitar 30 ribu penduduk menyeberangi Nusa Tenggara Timur, pada September 1975. Sampai akhirnya pemerintah Presiden Soeharto mensahkan integrasi wilayah Timor Timur ke dalam Republik Indonesia.

Memutus Rantai

“Bilang pada Pitut. Hentikan kegiatannya atau ia akan kutangkap!” kata Mayor Jenderal Benny Moerdani kepada Deputi III Bakin, Aswis Sumarmo, melalui telepon. Pitut Soeharto adalah bagian dari opsus yang dipimpin Letjen Ali Moertopo, bekas Wakil Kepala Bakin yang digantikan Mayjen Benny Moerdani. Padahal Ali Moertopo sudah diangkat sebagai Menteri Penerangan, namun masih turut campur urusan di Bakin.

“Deputi III berantakan ketika saya diangkat untuk memimpinnya. Beberapa pejabat, termasuk Pitut Soeharto melangkahi saya dan tetap saja melaporkan langsung kepada Ali Moertopo,” ujar Aswis.

Benny mengonsolidasikan kekuatan intelijen militer menjadi satu komando di tangannya dalam lingkup Departemen Hankam. Ia pun dipercaya Presiden Soeharto merangkap beberapa jabatan di intelijen militer. Pengaruh Benny pun makin terasa di Bakin.

Perlahan-lahan, Soeharto menggergaji kekuasaan Jenderal Yoga Sugama di Bakin. Yoga lesu, seperti tak bertenaga lagi. Bakin dipangkas, dari semula memiliki tujuh deputi, tinggal empat deputi saja. Bahkan Letjen Benny Moerdani kemudian dipercaya menjadi Panglima ABRI pada 1983. Sekaligus melepaskan jabatan Wakil Kepala Bakin.

Di situ Benny justru membesarkan peran Badan Intelijen Strategis (Bais) ABRI. Para atase pertahanan Indonesia di seluruh dunia pun menginduk ke Bais ABRI. Sehingga kekuasaan Beny sangat besar. Apalagi dia juga merangkap sebagai Panglima Kopkamtib. Tetapi Soeharto tetap mempercayai Jenderal Yoga Sugama untuk terus memimpin Bakin. Konsentrasi Bakin lebih pada tugas-tugas luar negeri. Termasuk kontra spionase terhadap mata-mata asing di Indonesia.

Soeharto membutuhkan sinergi Yoga dan Benny, sambil meminta keduanya mencari calon pengganti yang sangat kuat ilmu intelijennya. Utamanya dari generasi penerus ABRI, lulusan Akademi Militer. Yoga diminta mengontrol Benny dan begitu sebaliknya. Semua berporos pada satu pucuk: Sang Presiden, Jenderal (Purnawirawan) Soeharto.

Saat Yoga harus pensiun dari Bakin pada Juni 1989, maka hanya muncul satu nama sebagai penggantinya yang diusulkan Yoga maupun Benny, yakni: Wakil Kepala Bakin, Mayor Jenderal Sudibyo. Lulusan Akademi Militer di Bandung 1960 dari korps zeni. Sudibyo adik kelas dari Jenderal Try Sutrisno saat taruna. Try saat itu sudah menjadi Panglima ABRI menggantikan Benny Moerdani yang pensiun dan dipercaya menjadi Menteri Hankam.

Sudibyo menghabiskan kariernya di dunia intelijen sejak perwira pertama. Lama berdinas di Bais ABRI dan Bakin. Ia nyaris tidak dikenal siapa pun, karena tugasnya serba rahasia. Mengawali kariernya sebagai komandan peleton di Yonzikon 13, Jakarta. Setelah itu, Sudibyo, anak didik Yoga terus melang melintang di dunia intelijen. Termasuk sekolah intelijen di sejumlah negara barat. Soeharto pun setuju, walau ia tidak mengenal Sudibyo yang kemudian dinaikkan pangkatnya menjadi letnan jenderal.

Konflik di Timur Tengah, menjadi pekerjaan rumah Soeharto kepada Sudibyo. Termasuk rencana Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Gerakan Non Blok. Ia membuat operasi dengan sandi: teluk untuk memulangkan kelompok radikal Islam dari Irak yang akan masuk ke Indonesia, sebagai dampak dari perang teluk. Pengawalan dilakukan hingga penyamaran anggota Bakin di pesawat dan berhasil mengusir sejumlah pelaku dari Indonesia.

April 1996, tiba-tiba Presiden Soeharto mencopot Letjen Sudibyo sebagai Kepala Bakin yang telah dijabatnya selama enam tahun. Sejumlah pengamat menilai bahwa Soeharto sedang mempreteli jenderal-jenderal yang loyal kepada Benny Moerdani. Sudibyo memang memiliki hubungan baik dengan Benny, karena lama dalam komunitas intelijen.

Yang mencengangkan, pengganti Sudibyo bukan orang intelijen. Adalah Letjen Moetojib yang dipercaya Soeharto. Lulusan Akmil 1962 dari korps kavaleri ini, hanya satu kali menduduki jabatan intelijen pada saat berpangkat kapten di Yonkav 6 di Medan.. Selebihnya ia tidak pernah sekolah intelijen dan tidak pernah menduduki jabatan intelijen.

Moetojib juga bukan orang yang punya ambisi. Itulah yang mungkin menjadi pilihan Soeharto sekaligus mempreteli orang-orang Benny di Bakin. Bagi Soeharto, Moetojib bukan ancaman, sehingga ia merasa lebih aman. Apalagi saat itu Soeharto mulai sangat sensitif terhadap kekuasaannya yang perlahan mulai memudar. Bakin pun menjadi badan intelijen yang serba tanggung di tangan Moetojib.

Mengapa? Karena perlahan-lahan Soeharto juga mulai menguatkan Badan Intelijen ABRI (BIA) yang dipimpin Mayjen Syamsir Siregar. Bahkan Bakin tidak lagi dilibatkan secara serius dalam urusan di Timor Timur, Aceh, dan Irian Jaya. Bahkan dalam pertarungan politik yang semakin memanas di Jakarta. Bakin seperti tidak diperhitungkan lagi.

Dua tahun setelah itu, Jenderal Besar Soeharto benar-benar jatuh dari kursi kepresidenan. Bakin lemah, kekuasan presiden pun lemah. Badan intelijen adalah mata dan telinga negara. Ia harus dipimpin orang spesialis intelijen, bukan orang sembarangan. (Selamat Ginting, Jurnalis Senior Republika)

Komentar

Artikel Terkait
gloopic.net
Visitor Online :59
Visitor Today :4.946
Visitor Total :6.538.034

BERLANGGANAN NEWSLETTER

Dengan berlangganan NEWSLETTER anda akan menerima info tebaru dari situs kami.