gloopic.net
Artikel / Sejarah dan Budaya

Dunia Intelijen Indonesia--Cermin Spy Master (Bagian 1)

Soeharto Mencopot Jabatan Beberapa Jenderal Yang Dianggap Pro Soekarno

Presiden Soeharto memecat, menangkap dan menjebloskan Kepala Bakin, Mayjen Soedirgo, ke penjara. Mengapa?

Seperti petir di siang bolong. Kurang dari sepekan menjelang Hari Kemerdekaan, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengisyaratkan akan dilakukan pergantian Kepala Badan Intelejen Negara (BIN), Letnan Jenderal (Purn) Sutiyoso. Pergantian kepala BIN ini disebutnya akan dilakukan dalam waktu dekat. "Kalau BIN tunggu sajalah perkembangannya, dalam waktu tidak terlalu lama. Saya tidak bisa mengonfirmasi sebelum adanya langkah-langkah yang lebih konkret," jelas JK di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (12/8/2016).

Kendati demikian, JK enggan menyebut kapan waktu pergantian tersebut serta calon penggantinya. Pada hari yang sama, Sutiyoso terlihat berada di istana menghadap Presiden Joko Widodo. Namun ia meninggalkan istana melalui pintu samping Wisma Negara. Terkesan Sutiyoso menghindari pers. Sebelumnya, Ketua DPR Ade Komarudin juga mengaku siap memproses pergantian kepala BIN jika telah diputuskan oleh Presiden Joko Widodo. Namun, ia mengaku belum mendengar terkait kabar tersebut.

Jika hal itu terjadi, maka Sutiyoso (71 tahun), lulusan Akademi Militer (Akmil) 1968 dari korps infanteri itu, hanya menjabat kurang dari dua tahun. Peristiwanya mirip dengan Jenderal Polisi (Purn) Sutanto, alumni Akademi Kepolisian (Akpol) 1973. Ia menjadi Kepala BIN pada Oktober 2009 - Oktober 2011 di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hanya dua tahun saja. Kemudian digantikan Letnan Jenderal Marciano Norman, lulusan Akmil 1978 dari korps kavaleri.

Tulisan ini tidak membahas siapa calon pengganti Sutiyoso, namun lebih mengulas dinamika di badan intelijen negeri ini. KIN dan Opsus Persis 50 tahun lalu, tepatnya pada 22 Agustus 1966, Letnan Jenderal Soeharto membentuk Komando Intelijen Negara (KIN). Saat itu, Sukarno masih menjadi Presiden. Namun secara bertahap, Letjen Soeharto mengonsolidasikan cengkraman kekuasannya. Menggunakan gaya tradisional Jawa yang terkesan halus, namun penuh strategi.

Soeharto menggabungkan unsur ancaman, gertakan, negosiasi dan saling mempengaruhi. Sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat, suami dari Siti Hartinah ini juga merangkap sebagai Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Sebuah organisasi militer bentukan Presiden Sukarno untuk kestabilan politik usai pecahnya peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Soeharto memiliki selera yang tinggi terhadap tugas-tugas intelijen untuk membekuk orang yang dipandangnya berseberangan. KIN diberi tugas oleh Soeharto untuk melaporkan masalah keamanan nasional dan internasional. KIN otomatis menggantikan Badan Pusat Intelijen (BPI) yang sebelumnya dipimpin Soebandrio, orang kepercayaan Presiden Sukarno.

Soebandrio yang juga menjaat sebagai Menteri Luar Negeri itu sudah memimpin BPI sejak 1959 hingga 1965. Sebagai Panglima Kopkamtib, Letjen Soeharto menangkap Soebandrio dan membubarkan organisasi tersebut. Sebelum KIN terbentuk, Soeharto menggunakan Undang Undang Darurat dengan dalih menjamin terciptanya ketertiban nasional. Posisi-posisi KIN pun diambil dari perwira-perwira asal Jawa Tengah. Bekas anah buah Soeharto di Divisi Diponegoro. Untuk itu ia menunjuk perwira bertubuh agak gemuk dan berkacamata, Brigadir Jenderal Yoga Sugama menjadi Kepala KIN. Ia kemudian dinaikkan pangkatnya menjadi mayor jenderal.

Yoga perwira korps infanteri merupakan satu dari sedikit orang Indonesia lulusan Akademi Militer Jepang di Tokyo, selama Perang Dua Kedua berlangsung. Yoga memang orang intelijen asli. Ia juga mengikuti pendidikan intelijen dasar militer di Inggris pada 1951. Perwira KIN lainnya adalah Letnan Kolonel Ali Moertopo yang ditunjuk memimpin Unit Inteiljen Luar Negeri. Untuk mengonsolidasikan dengan BPI yang mayoritas dipegang perwira Polri, Soeharto memilih Brigadir Jenderal Soedirgo sebagai Deputi KIN, mendampingi Yoga.

Soedargo adalah perwira korps polisi militer. Ia memang bukan orang dari Divisi Diponegoro. Namun posisinya sebagai bekas Komandan Polisi Militer Angkatan Darat saat terjadinya peristiwa G-30-S 1965, membuatnya bisa leluasa berhubungan dengan anggota polisi yang bertugas di BPI. Sebelum ditarik ke KIN, Soedirgo dipercaya Soeharto sebagai Kepala Intelijen Angkatan Darat. Walau BPI dipimpin Soebandrio, tetapi dalam pelaksanan tugasnya, praktis Brigjen Polisi Sutarto yang mengendalikan BPI. Peran polisi sipil dalam BPI otomatis digantikan polisi militer yang dipimpin Soedirgo. Sekaligus menciptakan sinergi antara KIN dengan Korps Polisi Militer Angkatan Darat.

Salah satu tugas yang dibebankan Soeharto kepada KIN adalah menyelesaikan masalah konfrontasi dengan Malaysia yang digaungkan Presiden Sukarno. Sebagai pimpinan unit intelijen luar negeri, Ali Moertopo menggunakan perwira intelijen dari Kostrad, yakni Mayor (Infanteri) Benny Moerdani dan Mayor (Infanteri) Aloysius Sugiyanto.

Operasi khusus (opsus) yang digalang Kolonel (Infanteri) Ali Moertopo berhasil mengakhiri konfrontasi. Opsus merekrut orang-orang sipil yang dipekerjakan di perusahaan pelayaran dan penerbangan Indonesia di sejumlah negara kawasan Asia Tenggara. Maka operasi konfrontasi yang digaungkan Bung Karno, Ganyang Malaysia, digagalkan oleh operasi intelijen yang digagas Soeharto. Letnan Kolonel Benny Moerdani yang semula ditugaskan di Bangkok, dipindahkan ke Kuala Lumpur untuk menjadi negosiator awal. Karena mempunyai hubungan langsung dengan Jenderal Soeharto yang sudah menjadi pejabat Presiden, maka Opsus otomatis memangkas birokrasi intelijen.

Posisi Jenderal Soeharto yang relatif kuat sebagai pejabat Presiden membuatnya berpikir untuk memformalkan organisasi intelijen. Ia pun membentuk Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) yang dipimpin Mayor Jenderal Soedirgo, pada Mei 1967. Soedirgo sebelumnya adalah Komandan Lulusan kursus pendidikan polisi militer di Fort Gordon serta sekolah staf dan komando Angkatan Darat di Fort Leavenworth, Amerika Serikat.

Polisi Militer Gencar Melakukan Penangkapan Tokoh Politik

Posisinya sebagai orang Polisi Militer, memungkinkan Soedirgo untuk bisa menangkap siapa saja. Khususnya yang terkait dengan kesalahan politik. Selain itu memiliki kemampuan penyidikan yang baik. Namun bulan madu Soeharto dengan Soedirgo hanya berlangsung 1,5 tahun. Soeharto pada November 1968 memecat Soedirgo. Soeharto mencurigai Soedirgo memiliki kedekatan dengan mantan Presiden Sukarno. Sebab dalam keadaan sebagai tahanan politik Orde Baru, Soedirgo bolak-balik ‘mengurusi’ dan memeriksa Bung Karno.

Soeharto memang mencurigai sejumlah jenderal yang menurut kacamata subjektifnya tidak loyal. Bukan cuma memecat Mayjen Soedirgo, melainkan juga menangkap dan menjebloskannya ke dalam penjara. Beberapa jenderal lainnya pun yang dianggap bersimpati kepada mantan Presiden Sukarno dijebloskan ke dalam penjara. Gaya lembut namun penuh ketegasan dilakoni Soeharto menghadapi anak buahnya.

Posisi yang ditinggalkan Soedirgo untuk sementara dijabat oleh kepala stafnya, Mayjen Yoga Sugama. Namun hanya tiga bulan saja Yoga memimpin Bakin. Soeharto memindahkan Yoga sebagai Kepala Intelijen Departemen Hankam, Kepala Satuan Tugas Intelijen Kopkamtib, dan Direktur Pusat Intelijen Strategis, di bawah Departemen Hankam. BRANI dan komunis Lalu siapa yang akan menjadi Kepala Bakin?

Soeharto menunjuk Mayor Jenderal Sutopo Yuwono. Lulusan pendidikan militer PETA (Pembela Tanah Air) era penjajahan Jepang ini, merupakan anak didik Zulkifli Lubis. Ia mengawali tugas sebagai intelijen dalam BRANI (Badan Rahasia Negara Indonesia) yang dipimpin Kolonel Zulkifli Lubis. BRANI dibentuk pada 7 Mei 1946. Namun atas lobi Menteri Pertahanan, Amir Syarifudin, BRANI dibubarkan Presiden Sukarno pada April 1947. Alasan Syarifudin yang cenderung ‘kekiri-kirian’ itu, intelijen negara harus dipimpin orang sipil, bukan militer.

Sukarno terpedaya. Intelijen di bawah Kementerian Pertahanan dikuasai Amir Syarifudin. Dibentuk unit baru, Bagian V (bagian kelima). Ia menunjuk bekas taruna Angkatan laut, namun tidak memiliki pendidikan intelijen, Abdurahman. Terbukti kemudian, pada Agustus 1948, Amir Syarifudin menyatakan dirinya adalah anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) sejak 1935. Ia pun terlibat pemberontakan PKI di Madiun 1948. Pada November 1948, pemberontakan PKI ditumpas dan Syarifudin dibunuh TNI. Zulkifli Lubis kembali mengambil alih kegiatan intelijen.

Kembali ke Mayjen Sutopo Yuwono, bekas anak didik Zulkifli Lubis selama 10 tahun. Sebelum dipercaya Presiden Soeharto sebagai Kepala Bakin, ia pernah menjadi Kepala Staf Kodam Jayakarta, Kepala Intelijen Angkatan Darat, dan Asisten Intelijen Kopkamtib. Di bawah Sutopo, terdapat dua deputi operasional yang juga berasal dari korps polisi militer. Deputi I, Brigadir Jenderal Poerwosoenoe, menangani keamanan negara. Deputi II Brigadir Jenderal Nicklany. Ia berpengalaman memimpin unit intelijen polisi militer melacak jejak para anggota PKI.

Bakin pun menjadi unit intelijen yang sangat anti komunis. Perwakilan-perwakilan negara komunis di Indonesia menjadi sasaran bidik satuan khusus intelijen (satsus intel) Bakin). Sejak sat itu Bakin melakukan pembenahan, baik pelatihan, peralatan maupun personel. Termasuk bekerjasama dengan dinas intelijen Amerika Serikat atau CIA, dinas intelijen Inggris atau M16, bahkan badan intelijen Israel, Mosad.

“Kita bekerjasama dengan badan intelijen terbaik di dunia. Dari manapun asalnya,” kata Nichlany. Negara-negara komunis, seperti dua negara Pakta Warsawa, Cekoslowakia dan Jerman Timur ternyata gencar melakukan aktivitas intelijennya di Jakarta. Tentu saja bekerjasama dengan Uni Soviet. Negara komunis lainnya, seperti Vietnam Utara, Republik Rakyat Demokratik Korea atau Korea Utara juga menyamarkan para spion-nya sebagai staf kedutaan. (Selamat Ginting-Jurnalis Senior Republika)

Komentar

Artikel Terkait
gloopic.net
Visitor Online :61
Visitor Today :4.945
Visitor Total :6.538.033

BERLANGGANAN NEWSLETTER

Dengan berlangganan NEWSLETTER anda akan menerima info tebaru dari situs kami.