gloopic.net
Artikel / Sosial Politik dan Hukum

Dari Bintang ke Medan Teror (Bagian 1)

Rasid Tugral bersiap meninggalkan stasiun kereta Oulu di Finlandia menuju Turki, 2 Januari 2015. Ia memilih jalan ekstrimisme kekerasan, dengan bergabung dengan ISIS di bulan yang sama.

(Gloopic) Transformasi seorang pemuda Turki dari ahli astronomi menjadi pejuang ISIS

Rasid Tugral banyak digemari di ranah media sosial karena foto-foto langit malam di atas kampung halamannya di Turki yang menakjubkan. Ia memasang fotonya – termasuk foto pohon juniper dengan latar belakang galaksi Bima Sakti – di situs National Geographic. Ia mengambil program S2 yang prestisius dengan jurusan astrofisikan di Finlandia. Cerdas, tampan, suka petualangan dan mudah bergaul, jalan Rasid mulus untuk meniti karir mempelajari angkasa.

Namun Rasid Tugral berkeinginan lain. Sebagai Muslim taat yang dibesarkan di keluarga konservatif, ia mulai tertarik dengan situs-situs radikal selama kuliah. Rasid menerima begitu saja interpretasi Islam yang radikal. Di awal 2015, ia meninggalkan keluarga dan kehidupannya yang nyaman, untuk bergabung dengan ISIS dan berperang di Suriah.

Agustus 2016, Rasid tewas ketika berperang untuk ISIS melawan pasukan Kurdi. Usianya 27 tahun.

Ribuan kaum muda Muslim, didorong oleh ideologi dan propaganda ISIS, telah bergabung dan berjuang untuk kelompok teroris yang menyatakan berdirinya khilafah di Irak dan Suriah. Seperti halnya Rasid Tugral, banyak yang meninggalkan kehidupan yang berkecukupan dan penuh potensi. Namun kisah Rasid unik karena banyaknya catatan tertulis dan foto miliknya yang mendokumentasi transformasinya selama lebih dari sepuluh tahun.

Rasid Tugral memotret galaksi Bima Sakti dari dekat Observatorium Nasional TÜBİTAK di Antalya, Turki, dan mempostingnya di Facebook 7 Oktober, 2014.

Selama bertahun-tahun Rasid meninggalkan foto selfie yang mengungkap pribadinya, foto kucing penuh canda dan foto keindahan kosmos yang luar biasa; renungan mengenai ruang angkasa dan agamanya; serta umpatan terhadap kaum kafir. Dalam surat terperinci yang ia posting online tahun lalu, ia menjabarkan pengalaman sehari-hari dengan ISIS: saat penuh kebosanan, latihan perang yang melelahkan dan menghindari serangan udara. Dengan jumawa ia membela praktek-praktek ISIS yang paling barbar, termasuk memenggal kepala dan menjadikan perempuan sebagai budak seks.

“Jika seseorang mati tanpa berperang di jalan Allah, atau tanpa mempunyai niat untuk berperang di jalan Allah, ia akan mati dalam sebuah kemunafikan” – Rasid Tugral menulis di Facebook, mengutip hadis Nabi Muhammad, SAW. Cendekiawan Muslim seperti Mohammed Abdelfadel yang melacak propaganda ISIS menyatakan bahwa militan ekstrimis membajak nama Islam dan juga makna jihad, dan bahwa sebetulnya Islam mengutuk terorisme dan serangan atas warga sipil.

Apa yang membuat Rasid Tugral menempuh jalan menuju radikalisasi hingga menemui ajal yang penuh kekerasan? Sebuah tim wartawan VOA mencoba mendapat jawabannya dengan mengkaji posting media sosial Rasid Tugral dan surat 14 halaman dari masa ia tinggal di Suriah, menterjemahkannya dari bahasa Turki. Tim ini juga mewawancara sejumlah kawan dan rekan Rasid dan sumber lain termasuk secara singkat, ayahnya.

Rasid tidak memulai perjalanan hidupnya dengan niat jihad radikal dan pilihan ini tak mudah dipahami mengingat pribadinya yang humoris, ingin tahu dan intelektual. Kisah hidup dan kematiannya menjadi studi kasus yang tragis mengenai ideologi keagungan yang keliru dari ISIS bagi generasi muda Muslim yang terbutakan oleh delusinya.

Dibesarkan di keluarga taat

Anak kedua dari tiga bersaudara, Rasid Tugral dibesarkan di kawasan Sincan di kota Ankara dalam keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan dan agama. Ayahnya mendapat gelar doktor dalam sastra Turki dan mengajar di SMA. Kakak lelakinya adalah insinyur piranti lunak sekaligus penggubah musik; adik perempuannya pelajar; dan paman dari pihak ayahnya seorang profesor matematika.

Suleyman Tugral, ayah Rasid, menulis blog tentang Islam tahun 2008 hingga 2014, berisikan puisi dan perspektifnya yang konservatif. Ia juga memberi tautan ke disertasi doktoralnya tentang “Sistem Nilai dalam Al Quran” di mana ia mendukung jihad militan dan menyebut kaum Yahudi dan Nasrani terkutuk karena tak percaya Allah dan Rasul. “Hukuman menyakitkan menunggu mereka”, tulisnya.

Ia dan istrinya, seorang ibu rumah tangga, mendaftarkan Rasid ketika ia SMA untuk mengikuti kelas belajar Al Quran sebagaimana umumnya dilakukan oleh keluarga taat agama.

Rasid Tugral memotret galaksi Bima Sakti dan bulan terbenam dari Observatorium Nasional TÜBİTAK di Antalya, Turkey, dalam gambar yang diposting 14 Okt, 2014.

Tampilan langit selama Festival Bintang 2012 di Observartorium Nasional TÜBİTAK National di Antalya, Turki, diposting 12 Oktober 2014.

'Genius' tak terkendali.

Akhir 2007, Rasid masuk Middle East Technical University (METU) – universitas setaraf Harvard bagi Turki – untuk belajar fisika. Kampus yang sekuler ini sangat kontras dengan kehidupan di rumah Rasid, menurut Nihat Celik, mantan teman sekelasnya dan salah satu dari rekan Rasid yang mengkonfirmasi keaslian tulisan dan postin media sosial Rasid.

“Sepanjang hari ia kuliah di lingkungan liberal. Namun di malam hari ia bersama keluarganya di lingkungan yang agamis dan konservatif," kata Nihat Celik. "Tak mungkin mempersatukan kedua pandangan hidup yang sangat berbeda ini dalam satu pendekatan."

Rasid Tugral mendaki gunung di Antalya, Turki, dalam foto tak bertanggal ini.

Di METU, Rasid Tugral terkenal dengan minatnya pada astronomi dan fotografi - dan terkadang untuk kelakuannya yang kocak. “Ia genius. Ia sering menanyakan pertanyaan sangat cerdas,” kata seorang profesornya yang ingin menyembunyikan identitas untuk alasan keamanan. Namun Rasid “bukan mahasiswa terbaik karena ia kurang disiplin dan sering bolos."

Rasid bergabung dengan klub astronomi di universitasnya dan berteman dengan Utku Boratac, pemimpin klub tersebut. Bersama mereka pergi berkemah dan mempelajari langit malam. Mereka juga membantu event-event di mana publik bisa menikmati bintang di Observatorium Nasional TÜBİTAK, demikian pernyataan Utku Boratac kepada VOA.

Rasid mulai memasang foto-foto astronominya di halaman anggota National Geographic tahun 2010 dan mengikuti lomba foto NASA untuk mengadaptasi gambar-gambar dari Teleskop Antariksa Hubble tahun 2012. Di media sosial ia menggunakan nama Nükleer Kedi alias Kucing Nuklir, karena ia sangat suka binatang tersebut.

Rasid Tugral memasang foto ini di Facebook, 8 Oktober, 2014, dengan penjelasan, "Tertidur di saat belajar..."

Nonkonformis 'gila'

Rasid Tugral menggelikan dan terkadang sangat konyol, menurut seorang teman sekelasnya yang tak ingin diidentifikasi karena alasan keamanan. Rasid “selalu bercanda dan mengolok-olok semua hal". "Bahkan ia pernah ke kampus mengenakan celana senam," kata temannya. Pada kesempatan lain ia mengenakan celana pendek tanpa kemeja.

Sebagai pecinta olahraga sepeda, hiking dan renang, Rasid juga sangat memperhatikan kebugaran fisik. Menurut temannya, pernah Rasid "suatu saat bosan dan naik sepeda dari Ankara ke Konya", dari ibukota Turki ke suatu kota di selatan yang berjarak 262 kilometer.

“Sebagian besar orang yang kenal saya akan mengatakan saya gila, tapi mereka ingin menjadi seperti saya karena saya biasanya melakukan apa saja yang saya inginkan. Salah satunya termasuk pengalaman saya naik kuda," Rasid menulis di situs penginapan Couchsurfing.

“Saya suka tertawa dan membuat orang tertawa (meskipun saya juga terkadang menangis). Orang di sekitar saya tak akan... merasa bosan umumnya."

Mengarah ke radikalisme

Di METU, Rasid Tugral terus menjadi Muslim yang taat namun bebas bergaul dengan orang yang tak sepaham dengan niatnya untuk sholat, puasa dan menghindari zat memabukkan.

"Suatu saat kami sedang minum alkohol," kata teman lain yang tak ingin diungkap identitasnya karena tak ingin menjadi sasaran ekstrimis. Rasid "tak ikut minum bersama kami, namun ia mengolok-olok dirinya sendiri karena tak minum."

Tahun 2013, ia mengikuti unjuk rasa anti-pemerintah – dan mulai memperdalam pemahamannya tentang agama. Rekan klub astronominya Utku Boratac menyatakan, Rasid mulai berubah.

Rasid mulai menjaga jarak dengan para mahasiswa METU yang mayoritas sekuler. Ia mengenakan jenggot dan tak lagi mencukur rambutnya, sesuai kebiasaan kelompok konservatif. Ia mengeluh di Facebook bahwa "kaum komunis di METU langsung berkumpul dan mentertawakan ketika saya menyapa saudara kita dengan saling menyentuhkan dahi."

Ia makin sering menghabiskan waktunya dengan komunitas mesjid universitas dan berjam-jam membahas Al Quran "ayat demi ayat, kata demi kata," kata Utku Boratac. "Suatu ketika ia memposting pernyataan tentang Islam di Facebook dan saya memberi komentar untuk memulai diskusi. Namun ia tak membalas."

Terkadang ia larut mempelajari Al Quran selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu, tanpa meninggalkan mesjid, menurut temannya Nihat Celik yang juga anggota kelompok astronomi, kepada VOA. Menurut Nihat kelompok studi ini merupakan salah satu faktor pendorong radikalisasi Rasyid. Pada musim semi 2014, "ada seorang lain dari kelompok tersebut yang pergi ke Suriah atau Irak," kata Nihad. "Kami tak tahu apa yang terjadi dengannya."

Majalah Newsweek, dalam artikel tahun 2015 tentang rekrutmen jihad radikal yang memprofilkan Rasid Tugral, melaporkan bahwa seorang mantan anggota kelompok studi Al Quran mesjid tersebut bergabung dengan ISIS dan berbagi video tentang jihad radikal dengan Rasid. Artikel ini menjabarkan bahwa warga Turki simpatisan ISIS lolos dari pengamatan ketika pemerintah Turki berkonsentrasi kepada pejuang asing yang menyeberang perbatasan ke Suriah.

Menurut Ufuk Taskan, mahasiswa seangkatan Rasid Turgal dan asisten riset di departemen fisika METU kepada koran Turki BirGun, berkat kemampuannya berbicara, Rasid seringkali memberikan khotbah shalat di mesjid universitas.

Tak lama kemudian, Rasid Tugral mulai menunjukkan dukungannya terhadap jihad radikal di depan umum. Di Facebook, ia menyesalkan kematian warga Suriah yang menurutnya mati di tangan serangan udara Rusia, Suriah dan koalisi pimpinan AS. Ia juga mengecam pemerintah dan masyarakat Turki.

"Dari waktu ke waktu ia mengkritik pemerintah karena melakukan korupsi dan suap," kata Nihat Celik, dan Rasid juga percaya bahwa pemerintah Presiden Recep Tayyip Erdoğan "menterjemahkan Islam secara keliru."

Rasid Tugral mengabadikan kubah Observatorium Nasional TÜBİTAK dengan latar belakang langit penuh bintang di Antalya, Turki, diposting 26 Oktober, 2014.

Jemaah menunggu makan malam setelah shalat Isya di mesjid Middle East Technical University di Ankara, Turki, 22 Februari, 2015. (Foto perkenan Mesjid Komunitas METU).

Ia makin sering menghabiskan waktunya dengan komunitas mesjid universitas dan berjam-jam membahas Al Quran "ayat demi ayat, kata demi kata," kata Utku Boratac. "Suatu ketika ia memposting pernyataan tentang Islam di Facebook dan saya memberi komentar untuk memulai diskusi. Namun ia tak membalas."

Terkadang ia larut mempelajari Al Quran selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu, tanpa meninggalkan mesjid, menurut temannya Nihat Celik yang juga anggota kelompok astronomi, kepada VOA. Menurut Nihat kelompok studi ini merupakan salah satu faktor pendorong radikalisasi Rasyid. Pada musim semi 2014, "ada seorang lain dari kelompok tersebut yang pergi ke Suriah atau Irak," kata Nihad. "Kami tak tahu apa yang terjadi dengannya."

Majalah Newsweek, dalam artikel tahun 2015 tentang rekrutmen jihad radikal yang memprofilkan Rasid Tugral, melaporkan bahwa seorang mantan anggota kelompok studi Al Quran mesjid tersebut bergabung dengan ISIS dan berbagi video tentang jihad radikal dengan Rasid. Artikel ini menjabarkan bahwa warga Turki simpatisan ISIS lolos dari pengamatan ketika pemerintah Turki berkonsentrasi kepada pejuang asing yang menyeberang perbatasan ke Suriah.

Menurut Ufuk Taskan, mahasiswa seangkatan Rasid Turgal dan asisten riset di departemen fisika METU kepada koran Turki BirGun, berkat kemampuannya berbicara, Rasid seringkali memberikan khotbah shalat di mesjid universitas.

Tak lama kemudian, Rasid Tugral mulai menunjukkan dukungannya terhadap jihad radikal di depan umum. Di Facebook, ia menyesalkan kematian warga Suriah yang menurutnya mati di tangan serangan udara Rusia, Suriah dan koalisi pimpinan AS. Ia juga mengecam pemerintah dan masyarakat Turki.

"Dari waktu ke waktu ia mengkritik pemerintah karena melakukan korupsi dan suap," kata Nihat Celik, dan Rasid juga percaya bahwa pemerintah Presiden Recep Tayyip Erdoğan "menterjemahkan Islam secara keliru."

Kuliah di Finlandia

Rasid Tugral lulus dari METU musim semi 2014. Di musim gugur, ia memasuki program S2 jurusan fisika di Universitas Jyväskylä di Finlandia. Ia menyambut baik perubahan besar dalam hal iklim dan geografi, dan menulis di Facebook bahwa "kampus baru saya jauh lebih baik dibanding kampus sebelumnya".

Di media sosial, Rasid memasang foto dan mengagumi musim gugur Nordik yang beraneka warna, dan memasang foto kucing, tupai dan binatang lain.

Rasid Tugral memotret desa Äkäslompolo di daerah Kolari, Finlandia, diposting 26 Desember 2014.

Rasid Tugral tak terlalu fokus pada tuntutan akademis. Ia justru tertarik pada aktivitas di mesjid An-Nur di kota Jyväskylä.

"Ia tak hadir di kelas tapi menghabiskan waktunya di mesjid atau di internet bila di rumah," demikian pernyataan salah satu teman serumahnya Anbu Posakkannu kepada koran Turki BirGun.

Anbu Posakkannu menyatakan Rasid, "sering berkata ia ingin bergabung dengan ISIS.” VOA tak dapat menghubungi Anbu Posakkannu.

Salah satu teman astronomi Rasid di METU, Utku Boratac, menyatakan pada VOA ia pernah mengolok Rasid tentang jenggotnya. "Saya iseng bertanya, bagaimana mungkin mereka mengizinkannya masuk Finlandia dengan penampilan seperti ini? Apakah mereka tak bertanya apakah kamu akan bergabung dengan jihad radikal?" demikian kata Utku.

"Mereka menilaimu berdasarkan niat, bukan penampilan," kata Rasid, menurut Utku Boratac.

Namun niat mahasiswa S2 tersebut telah menarik perhatian aparat, menurut harian BirGun. Menurut koran ini, aparat keamanan Finlandia memulai penyelidikan akhir 2014. Berita Newsweek juga melaporkan bahwa polisi yang "kuatir akan posting Facebook Rasid", sempat menginterogasinya di luar kampus.

Presiden mesjid, Khalid Bellamine, mengkonfirmasi pada VOA bahwa aparat Finladia telah menghubunginya terkait Rasid Tugral. Namun Khalid menyatakan ia "tak pernah bertemu langsung dengan Rasid dan tak ada warga di sini yang mengenalnya."

"Berdasarkan pengamatan kami, ia mengunjungi mesjid di malam hari dan tak berbicara dengan siapapun," kata Khalid. "Jika saya mencurigainya, sudah pasti saya telah melaporkannya".

Rasid Tugral mengunjungi Hostel 7 Fells di Äkäslompolo, Finlandia bagian selatan.
Rasid Tugral di depan Katedral Helsinki, sebuat gereja Injili Finlandia, 17 Desember 2014.

Mengelabui lalu pergi

Rasid Tugral kembali ke rumah orangtuanya di Ankara, sebagai pemberhentian sebelum terjun lebih dalam ke jihad radikal. Ia memberitahu orangtuanya ia akan menginap bersama teman-teman METU tanggal 10 Januari 2015. Kenyataannya ia mempersiapkan tas ransel dan menuju Suriah.

"Sebelum aku pergi, kuberikan takwaku pada Tuhan," tulisnya kemudian.

Ia mencari tumpangan dari seorang pengemudi minibus. Begitu masuk kendaraan, "Saya sadar saya ketinggalan kamera," tulishnya. Ia selalu membawanya kemanapun, memotret langit, lingkungan sekitarnya dan dirinya sendiri. Namun ia memutuskan bahwa hal ini, "bukan masalah."

Memasuki Suriah

Catatan perjalanan ini dan apa yang terjadi sesudahnya tertuang dalam surat panjang Rasid, yang ditulisnya sepotong demi sepotong ketika ia tak memiliki akses internet atau media sosial di Suriah. Diberi judul "Salam dari Tanah Khilafah" ia mempostingnya secara publik di Facebook tanggal 25 Maret 2015.

Di Sanliurfa, kota perbatasan Turki bagian tenggara, ia bergabung dengan sejumlah lelaki dari Tunisia, Libya and Arab Saudi yang ingin berjuang untuk ISIS. Bersama mereka melakukan penyeberangan ilegal menuju Suriah. "Kami harus lari jarak jauh. Untungnya saya tak membawa koper besar," demikian Rasid memuji dirinya sendiri.

Seorang pria Afghanistan berambut panjang menjemput mereka dan mengemudikan mereka melewati bendera hitam besar ISIS menuju kota Tal Abyad di Suriah. Mereka masuk ke rumah yang diterangi cahaya lilin. Paspor, benda elektronik dan semua milik pribadi lainnya disita - namun Rasid berhasil membujuk seorang pejuang ISIS untuk mengizinkannya menggunakan telponnya untuk beberapa menit untuk mengirimkan email kepada keluarganya.

"Sulit sekali tersambung ke internet karena sinyalnya buruk," tulisnya, dan menambahkan bahwa telponnya disita sebelum ia dapat mengirimkan semua emailnya. "Kemana saya akan pergi? Saya pun bertanya-tanya, tapi ya sudahlah."

ISIS menginterogasi para pendatang baru ini dan memberi merek nama julukan. "Namaku, tentu saja adalah Abu Huraira" - bahasa Arab yang artinya ayah para kucing.

Bersambung ke Bagian 2.

(Dari Bintang ke Medan Teror/ voanews.com/Gloopic.net).

Komentar

Artikel Terkait
gloopic.net
Visitor Online :47
Visitor Today :1.154
Visitor Total :6.539.692

BERLANGGANAN NEWSLETTER

Dengan berlangganan NEWSLETTER anda akan menerima info tebaru dari situs kami.