gloopic.net
Artikel / Sosial Politik dan Hukum

Dari Bintang ke Medan Teror (Bagian 2)

Rasid Tugral menutup wajahnya di tengah badai pasir di Raqqa, yang diklaim iSIS sebagai ibukota mereka di Suriah, 6 Desember 2015

Persaudaraan dan kebosanan

Beberapa hari kemudian Rasid dipindahkan ke rumah lain, yang temboknya penuh lubang senjata yang "bisa jadi merupakan rampasan perang," tulisnya. Rumah ini menampung sekitar 20 orang dan Rasid mencatat betapa beragamnya mereka dan tekad mereka untuk mendukung ISIS. Salah seorang di antaranya dulunya atlet kickboxing profesional di Jerman, satu lagi insinyur mekanik dari Bangladesh. Ada pula yang langsung ke sini setelah dibebaskan dari penjara Perancis. Seorang pria membayar $15000 (sekitar Rp. 200 juta) untuk datang dari Tiongkok.

Beberapa hari kemudian, Rasid dan anggota baru lainnya naik minibus menuju Raqqa, yang diklaim ISIS sebagai ibukota. "Sampai jumpa di surga," kata mereka pada teman-teman serumah mereka, dalam perpisahan yang penuh sukacita.

Rasid Tugral berkeliling Raqqa sambil tak sabar menunggu pendidikan Shariah dan latihan fisik yang diwajibkan oleh ISIS sebelum terjun ke medan tempur. Kota ini, "besar dan padat... orang terus hidup normal tanpa memenggal kepala orang," catatnya dalam surat. "Sisi ISIS yang paling indah adalah larangan merokok di manapun," tambahnya, namun ia mengeluh tentang asap "pembakaran minyak diesel dari mana-mana," dari sepeda motor dan pemanans ruangan.

Rasid menghabiskan dua minggu di Raqqa, bersama dengan anggota asing lainnya di sebuah rumah dingin yang kekurangan air, dan hanya memiliki telur ayam untuk dimakan. Ia sakit tenggorokan, keluhan kecil dibandingkan dengan serangan udara yang mengguncang pintu dan jendela "seolah ditiup oleh angin kencang... Setiap saat kami kuatir akan ada bom jatuh ke kepala kami."

Bersiap ke medan perang

Selama beberapa bulan, Rasid Tugral dipindahkan ke beberapa rumah, termasuk di Raqqa dan sekitarnya, lalu di Homs. Ia mengeluh tentang lingkungannya yang dingin, kotor dan penuh sesak. "Hampir 30 orang tidur di satu kamar dan makin banyak orang yang didatangkan," ia menulis dalam suratnya.

Pada suatu saat menurutnya kediamannya benar-benar primitif: sebuah gua, meskipun ISIS menempatkan "kasur busa, mesin cuci dan generator listrik." "Ada juga barang-barang rampasan," tulisnya, termasuk selimut dengan logo PBB yang ditujukan bagi pengungsi.

Latihan fisik Rasid Tugra dimulai di hari pertama di gua. Anggota baru berlatih fisik termasuk lompat jongkok dan merangkak lewat lumpur. Rasid yang mengenakan jaket dan celana yang dibelinya di Finlandia, "tak ingi merangkak di lumpur tapi saya dipaksa," katanya, lalu memberi nasihat pada anggota baru utuk membawa pakaian loreng.

Di gua ia berteman dengan seorang insinyur teknik sipil asal Inggris dan putranya. "Mereka tahu tentang konstelasi bintang dan tanpa mereka tanya saya langsung menjelaskan ke mereka," tulis Rasud. Tak ada listrik di gua, tapi sebagian besar kota itu juga tak ada listrik. Tak ada polusi cahaya yang dapat mengaburkan bintang.

“Dapat saya katakan langit begitu cerah di manapun di wilayah ISIS.”

Ancaman datang dari langit

Hampir di manapun mereka, para anggota ISIS dihantam oleh serangan udara. Pesawat dari rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad "terbang melintasi kami setiap hari... sebuah bom udara meledak begitu dekat hingga suaranya memekakkan telinga dan menimbulkan kawah besar dekat kami."

Rasid Tugral mulai lelah hidup seperti manusia gua. Ia juga mengakui masalah hidup bersama ISIS: sanitasi yang buruk, organisasi yang lemah dan motivasi yang diragukan dari sejumlah anggotanya. Seorang anggota asal Moldovia yang sebelumnya bergabung dengan Jabat al-Nusra, organisasi sempalan Al-Qaida "menyatakan pada saya bahwa sebagian mujahidin tertarik karena kemudahan duniawi sebab merek mendapatkan uang dan perumahan yang baik dari ISIS."

Namun Rasid Tugral tetap memiliki mimpi masa depan yang utopian.

“ISIS bukanlah negara sempurna. Memang negara Islam namun kesalahan manusia bukanlah kesalahan negara," tulisnya. "Di sini ada yang tak berfungsi dengan sempurna, kebersihan tak diperhatikan dan aturan lalu lintas tak ditegakkan. Namun kami akan perbaiki selangkah demi selangkah terutama dengan bantuan para pendatang" - istilah ISIS untuk pejuang asing.

Rasid Tugral, kiri, berdiri dengan seorang pejuang ISIS di Raqqa, Suriah, 19 Juli 2015.

Memasuki Pertempuran

Setelah sebulan di gua, ia dan lima anggota lain ditunjuk menjadi pasukan komando dan diundang untuk bergabung dengan sekelompok pejuang ISIS.

Kondisi hidup langsung membaik, demikian menurut Rasid. Pada tentara komando pindah ke rumah di luar kota Homs. Setiap orang diberi selimut baru. Dan koki mereka Tajik "memasak makanan sesuai hidangan kami," dan menyembelih kambing setiap minggu untuk dagingnya. "Pisang dan jeruk dihidangkan hampir setiap hari. Kami juga diberikan tiga hingga empat permen Snickers setiap hari."

Untuk fungsi tempurnya, Rasid diberi tugas memberi bantuan medis karena pelatihan gawat darurat yang pernah didapatnya di METU. "Sayalah 'sang dokter'," tulisnya. "Sedikit saja pengetahuan medis yang dimiliki pasti akan berguna di sini."

"Itulah pertama kali saya mendengar suara peluru demikian dekat: dor, dor," ingatnya. Ia dan yang lain "bersembunyi di balik bukit sambil kami mendengar bunyi tank dan artileri." Setelah berjam-jam diterpa angin dingin dan hujan, ia mendapat izin untuk mundur. Ia menulis bahwa tenda yang digunakan sebagai rumah sakit lapangan menampung dua tewas dan enam terluka dan "bau darah di mana-mana".

Kota Deir ez-Zor di Suriah telah menjadi kota hantu setelah pertempuran sengit antara pasukan pemerintah dan militan ISIS, demikian tulisan Rasid Tugral dalam foto di Facebook, 9 Agustus, 2015.

Membela barbarisme

Setelah semalaman bertempur Rasid Tugral dan militan lainnya kembali ke markas "dalam kemenangan", tulisnya dalam suratnya. Dua tank direbut bersama dengan sebuah truk ringan, beberapa granat yang diluncurkan dengan roket dan "tiga penggalan kepala."

Setelahnya ia membela pemenggalan ISIS dalam suatu perdebatan di Facebook dengan Utku Boratac, teman astronominya di Turki, yang menanyakan mengapa Rasid terlibat dengan "kelompok yang membunuh warga tak bersalah dan memenggal kepala? Itu tindakan psikopat."

Rasid Tugral membalas dengan menyatakan itu hukuman setimpal bagi pendukung rezim Suriah, "yang telah membunuh begitu banyak warga sipil tak bersalah" dan karena mereka "menolak" kekuasaan Islam dan "telah menjadi budak Amerika". Ia juga membela tentara ISIS yang menculik perempuan, khususnya perempuan agama minoritas Yazidi, sebagai budak seks.

Ia menyatakan pada Utku Boratac, pemenggalan memiliki fungsi strategis: "Hal ini hanya untuk TV untuk menakuti musuh. Ketika melihat ini, mereka akan ketakutan pada kami dan melarikan diri".

Pengantin jihad

Pada paruh pertama April 2015, Rasid Tugral terluka dalam pertempuran dengan tentara Kurdi di kota perbatasan Tal Abyad. Ia pergi ke Raqqa untuk memulihkan diri dari cidera tersebut.

Rasid Tugral yang cidera mendapat perawatan medis di kota Tal Abyad bagian utara Suriah. Foto ini diposting 17 April 2015. 

Bulan berikutnya ia menikahi Aisha Zevra Et-Turki, seorang perempuan pendukung ISIS dari Turki.

Dalam posting Facebook lebih awal ia menulis bahwa pejuang yang belum menikah mendapat gaji $100 (Rp. 1.300.000) dan tinggal di rumah bersama enam pejuang lainnya. Pejuang asing punya waktu empat bulan untuk menikah... ISIS memberikan tempat tinggal dan tunjangan dana tambahan untuk menghidupi istri-istri dan anak-anakmu."

Setelah menikah, Rasid secara drastis mengurangi aktivitasnya di media sosial. Utku Boratac menghubunginya di Facebook, menanyakan mengapa ia tiba-tiba diam dan berharap agar dapat membujuknya kembali ke Turki.

“Ia mengatakan baru saja menikah dan istrinya cemburu melihatnya menghabiskan terlalu banyak waktunya di media sosial," Utku mengatakan pada VOA. "Saya tak tahu apakah ia bercanda atau serius."

Posting Rasid Tugral selanjutnya di Facebook dan Twitter, meskipun semakin jarang, mengungkap aspirasinya yang semakin berkembang untuk jihad radikal dan ketaatan yang tak tergoyahkan. Ia memprotes serangan udara - oleh Suriah, Rusia dan koalisi pimpinan AS - dan tewasnya warga sipil. Ia menganjurkan melakukan semua hal sesuai dengan hukum Shariah, "mulai dari cara makan hingga ke kamar kecil."

Ia mengkritik warga Arab Suriah yang menurut komentarnya di Facebook, tak bisa membaca Al Quran dengan baik atau bahkan mengucapkan salam secara Islami: "Ketika saya ucapkan 'Assalamualaikum,' kepada warga Raqqa, mereka membalas, 'Halo, halo.' Saya muak melihatnya.

Bagi kafir, 'tiket menuju neraka'

Rasid Tugral yang dulu, yang terobsesi dengan sains, tak sepenuhnya hilang. Beberapa kali ia memposting ulang foto-foto astronominya yang lama. Ia berkomentar tentang geologi, perusahaan kimia, dan bagaimana nantinya memori komputer bisa tak terbatas ibarat bintang.

Di Twitter, ia memuji karya ahli sains seperti mendiang ahli fisika teoritis Richard Feynman – meski ia memperingatkan agar ia "beralih ke Islam sebelum ajal menjemputmu." Rasid pernah bertemu dan memotet ahli fisika Amerika pemenang hadiah Nobel, Walter Kohn. Namun setelah kematian Kohn tahun 2015, Rasid mencuit bahwa sebagai non-Muslim, ahli sains ini "mengambil tiket ke neraka, sayangnya."

Rasid Tugral bersama ahli fisika Amerika Walter Kohn dalam sebuah foto tak bertanggal di lokasi yang tak disebutkan.

Ajal menjemput Rasid Tugral awal Agustus, dalam pertempuran dengan pasukan Kurdi dukungan AS di utara Raqqa, menurut media sosial ISIS. Ia bertempur di situ seiring ISIS terpukul mundur.

Dalam wawancara singkat, ayah mendiang Rasid menyatakan kepada reporter VOA bahwa istri Rasid telah mengkonfirmasi kematiannya melalui hubungan telpon. Menurutnya, jenazahnya akan dikubur di Suriah.

Suleyman Tugral menyatakan kepada reporter VOA yang mengunjungi kediaman mereka di Ankara pertengahan Agustus bahwa ia berusaha menjemput jenazah putranya dan meminta aparat Turki untuk menyelidiki. "Kami tak tahu bagaimana ia meninggal," katanya. "Kami membawa kasus kematiannya ke kantor kejaksaan di Ankara dan kami masih menunggu tanggapan mereka."

Ia menolak membahas putranya lebih lanjut dan anggota keluarganya yang lain menolak diwawancara.

‘Semoga bertemu di alam baka’

Posting Rasid Tugral yang terakhir muncul tanggal 31 Agustus, hampir sebulan setelah ia meninggal:

“Jika saya tak menulis di sini setelah waktu lama, ketahuilah bahwa waktu saya di bumi ini telah berakhir dan saya telah berada di alam baka. Doakan bahwa Allah menerima saya sebagai syuhada. Pesan ini telah diatur secara otomatis. Sampai bertemu di alam baka."

Halaman Facebooknya terus aktif namun akun Twitternya baru-baru ini diblok. Dalam pernyataaan kepada VOA, Twitter menyatakan telah "memblok lebih dari 360000 akun yang mengancam atau mempromosikan aksi teror, sebagian besar terkait dengan ISIS" sejak pertengahan 2015.

Salih Doğan, seorang ahli politik, hubungan internasional dan keamanan Turki di Universitas Keele di Inggris memperkirakan "ribuan orang dari Turki telah bergabung dengan ISIS. Meski "semuanya mungkin terpengaruh oleh kekejaman di kawasan Damaskus di Suriah", demikian pernyataannya pada VOA, namun motifnya bervariasi. Beberapa anggota mungkin tertarik ke ideologi jihad radikal karena besar di keluarga konservatif, merasa menjadi sasaran secara tidak adil, ingin memberontak melawan status sosial yang rendah atau mengantisipasi keuntungan finansial.

"Sungguh sangat menyedihkan melihat mereka mengarah ke sini," demikian kata Salih Digan. "Menurut saya yang benang merahnya adalah untuk mengisi suatu rasa kekosongan di dalam dunia emosional seorang manusia yang terdalam."

Di kota Raqqa, Suriah yang dikuasai ISIS, Rasid Tugral mengajarkan anak-anak tentang teleskop. Ia memposting gambar ini di Twitter, 5 Mei 2016. 

Pertanyaan-pertanyaan terkait Rasid Tugral masih menghantui teman astronominya, Utku Boratac.

Mereka pernah suatu kali melihat di langit malam, cahaya terang yang tak diketahui dan Utku menspekulasi bahwa ini UFO. Rasid mendengarkan dan kemudian melakukan riset. 'Bukan tolol... itu satelit.' Ia mengajarkan pada saya "jangan pernah menyimpulkan tanpa menyelidiki terlebih dahulu."

Itu sebabnya Utku Boratac mempertanyakan, bagaimana mungkin Rasid termakan oleh propaganda dan kekejaman ISIS?

"Ini membuat saya bertanya-tanya... bagaimana ia bisa mencapai titik tersebut? Dulu ia pemuda jenaka yang tak pernah serius menghadapi apapun. Orang yang sama ini bisa menjustifikasi pemenggalan kepala?"

Teman sekelasnya di METU, Niht Celik, berteori bahwa Rasid tak dapat menemukan jembatan antara kedua dunia yang terpencar ini: "Saya rasa ia sangat bingung dan terbelah di pikirannya sendiri - agama di suatu sisi dan sains di sisi satunya."

“Menurut saya dunia pribadinya sangat kelam," kata NIhat. "Ini saya rasakan bahkan sebelum ia bergabung dengan ISIS."

(Dari Bintang ke Medan Teror/voanews.com/Gloopic.net).

 

Komentar

Artikel Terkait
gloopic.net
Visitor Online :49
Visitor Today :1.163
Visitor Total :6.539.701

BERLANGGANAN NEWSLETTER

Dengan berlangganan NEWSLETTER anda akan menerima info tebaru dari situs kami.