gloopic.net
Artikel / Sosial Politik dan Hukum

Kalijodo : Dari Arung Pallaka hingga Dua Tesis Master

(Jakarta, Gloopic) Proses penggusuran Kalijodo berakhir sudah. Tidak ada lagi bangunan yang berdiri di kalijodo kecuali dua bangunan tempat ibadah yang tetap dibiarkan berdiri sebagai bagian dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) nantinya.
Namun nama Kalijodo akan tetap selalu menyisakan berbagai cerita. Sejarah kelekatan Kalijodo dengan sejarah suku bangsa Bugis dan Mandar yang menjadi bagian cerita anak bangsa dan dua tesis master yang dihasilkan oleh dua eks Kapolsek di wilayah hukum Kalijodo.

Leonard Y. Andaya dalam buku Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad Ke-17 menulis keberadaan orang Bugis dan Mandar di kawasan ini tercatat sejak abad ke-17. Tepatnya ketika Arung Palakka beserta pengikutnya harus menyingkir akibat desakan pasukan Kerajaan Gowa pada 1663. Tiga tahun kemudian, Arung Palakka kembali bersama pengikutnya, yang disokong tentara VOC, menuju Makassar untuk membalas Sultan Hasanuddin dari Gowa. Para prajurit Arung Palakka asal Batavia ini kemudian dikenal dengan sebutan “Toangke” atau “orang dari Angke” karena pernah bermukim di sekitar Kali Angke.

Pada 1965, orang-orang dari Makassar dan Mandar kembali berduyun-duyun ke kawasan Angke. Menurut ketua RW setempat Kunarso Suro Hadi Wijoyo, pensiunan marinir yang menetap di Kalijodo sejak 1968, orang-orang Makassar dan Mandar mulai banyak yang masuk ke daerah itu pada 1965. Kala itu mereka menjadi pekerja di pabrik-pabrik di Jalan Bidara dan Teluk Gong. Para pendatang itu mengontrak atau membeli rumah yang dijual oleh anak-cucu pegawai tata air. “Semua warga biasa mandi di kali karena airnya masih bersih,” ujar Kunarso.

Menurut Kunarso pada 1968, seorang tokoh Mandar bernama Kamelong merintis usaha judi koprok, yang digemari orang-orang Tionghoa di Kalijodo.

Sejak Kamelong berbisnis, hingga 1982 jumlah orang Mandar nyaris sebanding dengan orang Makassar. Hal ini membuat gesekan di antara kedua suku itu kerap terjadi. Mereka yang berasal dari Makassar merasa sebagai mayoritas dan masih berdarah ningrat ketimbang orang Mandar, yang dianggap dari pedalaman.

Sebaliknya, orang Mandar, yang secara ekonomi kondisinya lebih baik, menyebut orang Makassar tak lebih dari para kuli pelabuhan. “Mereka sama-sama keras, tak mau kalah kalau sudah saling ledek. Buntutnya ya saling tusuk dengan badik,” tutur Kunarso.

Kamelong menjalankan usaha perjudian hingga 1992. Ia memiliki dua orang kepercayaan asal Serang, Banten, yakni Agus dan Riri. Kamelong mengembuskan napas terakhir pada 1992 di pangkuan Riri. Bisnisnya kemudian dilanjutkan oleh keponakannya, Usman Nur

Sementara itu, Abdul Azis Emba atau yang kerap disapa Daeng/Karaeng Azis, yang semula cuma menjadi pemasok bir, turut membuka lapak perjudian di Kalijodo pada 1994. Dua tahun kemudian, menurut tesis Kompol Listyo Prabowo (eks Kapolsek Tambora Jakarta Barat), aparat TNI Angkatan Darat bernama Junaidi juga membuka lapak judi di wilayah barat Kalijodo. Ia mengajak Riri bergabung dengannya. “Tapi kiprah Junaidi di bisnis ini tak berlangsung lama karena Polisi Militer merazia lapak bisnisnya,” tulis Listyo.

Sejak itu, Azis menjadi pesaing utama Usman. Tapi Azis sepertinya lebih ambisius dalam berbisnis. Lelaki kelahiran Makassar, 10 Agustus 1967, itu menjalin relasi yang luas. Bukan cuma dengan para tokoh Makassar di Jakarta, ia juga berhubungan baik dengan pengurus partai politik tertentu hingga perwira tinggi kepolisian. 

Tentang hal ini, Krishna Murti saat menjadi Kepala Polsek Penjaringan pada 2001-2004 mengaku pernah mendapat semacam intervensi dari seorang perwira kepolisian dan elite partai tertentu. Kala itu mereka dengan cara dan gaya masing-masing mencoba mendekati Krishna agar Azis diberi izin membuka lapak perjudian di Kalijodo. Namun keponakan Sidarto Danusubroto, mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, itu kukuh dengan pendiriannya. Ia melarang segala bentuk perjudian beroperasi kembali di wilayah hukumnya. 

“Sampai kapan pun, selama saya menjadi Kapolsek Penjaringan, perjudian di Kalijodo tidak akan saya buka,” tulis lelaki kelahiran 15 Januari 1970 itu dalam bukunya, Geger Kalijodo

Komentar

Artikel Terkait
gloopic.net
Visitor Online :81
Visitor Today :3.031
Visitor Total :6.362.442

BERLANGGANAN NEWSLETTER

Dengan berlangganan NEWSLETTER anda akan menerima info tebaru dari situs kami.