gloopic.net
Artikel / Sosial Politik dan Hukum

Quo Vadis Salempang? : Keriuhan Pilkada Sulawesi Selatan 2018

Di berbagai pojok kota Makassar Sulawesi Selatan akan dapat kita temui ucapan selamat idul fitri dalam bentuk baliho raksasa dari Mathius Salempang. Tentunya akan menyita perhatian dan mengundang tanya sebagian dari kita. Mengapa ada banyak baliho tersebut mengingat Mathius Salempang sudah tidak lagi menduduki kursi Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulawesi Selatan lagi.

Salempang sendiri memang menjadi tokoh masyarakat Sulawesi Selatan dan Toraja khususnya. Jadi wajar saja kalau sosok satu ini menyapa warga Sulawesi Selatan apalagi masih di suasana hari raya idul fitri. Namun sosok Mathius Salempang selama ini dikenal bukan sebagai orang yang suka menonjolkan diri apalagi senang diekspos atau disoroti.

Hal ini akhirnya terjawab. Baliho-baliho tersebut bukan dipasang oleh Mathius Salempang atau orang suruhannya. Yang memasang adalah kelompok orang yang menamakan diri Sahabat Mathius Salempang atau SMS. Tujuannya tak lain untuk mendorong Mathius Salempang maju menjadi calon gubernur dalam Pilkada Sulawesi Selatan 2018 mendatang.

Lalu bagaimana dengan Salempang sendiri? Apakah dia berminat untuk maju? Dari rekan-rekan dekatnya dapat diketahui Salempang tidak memiliki obesesi untuk maju menjadi orang nomor satu di Sulawesi Selatan. Salempang berulang kali menyebutkan dia sudah melengkapi karirnya saat di kepolisian dan tidak berminat terjun di politik.

Lalu bagaimana kalau ada kelompok masyarakat yang mendukungnya untuk maju? Hanya Tuhan dan Salempang sendiri yang bisa menjawab mau atau tidak tentunya. Tapi penulis tidak terlalu tertarik untuk mengetahui jawaban ini. Penulis lebih ingin tahu, layakkah Salempang kalau maju menjadi calon pemimpin di Sulawesi Selatan?

Penulis mengenal langsung sosok Salempang saat menjabat Kepala Kepolisian Resor Jakarta Pusat. Kala itu penulis masih menjabat koordinator liputan sebuah tv berita nasional di Jakarta. Bagi penulis, Salempang bukan termasuk sosok yang ramah tamah dan suka berbicara. Namun setelah diingat-ingat Salempang selalu memberikan izin bahkan bantuan bagi penulis yang menjalankan profesi wartawan. Dan di era Salempang, jumlah berita kepolisian di Jakarta Pusat bisa dikatakan di atas rata-rata. Bagi kami jurnalis itu menjadi hal utama, polisi yang suka membuka akses bagi wartawan. Dan tentunya harus ada penyelesaian perkara kriminal yang bisa dibuka.

Tapi tentunya tidaklah cukup pengalaman penulis dari kurun waktu terbatas tersebut untuk menggambarkan sosok Salempang. Oleh karena itu penulis melakukan pencarian seputar sosok Salempang. Akhirnya penulis mendapatkan tulisan yang dibutuhkan dari rubrik Kompasiana di internet. Untuk adilnya berikut sosok Salempang yang digambarkan di http://www.kompasiana.com/heriyanto_rantelino/mengenal-27-tokoh-inspiratif-dari-toraja-sulawesi-selatan_54f39c40745513a42b6c7b4d . Penulis tidak mengeditnya melainkan hanya mempersingkat agar bisa lebih enak dibaca.

Profil Salempang di Kompasiana

Mathius Salempang Lulusan terbaik AKABRI 1981. September 2010 saat menjadi Kapolda Kalimantan Timur, ia berhasil menyelesaikan pertikaian antar etnis di Tarakan hanya dalam 3 hari. Sebuah prestasi yang luar biasa dan menjadi catatan sejarah dalam Kepolisian Republik Indonesia sebagai penyelesaian konflik tercepat.

Di bawah kepemimpinannya sebagai KAPOLDA Kalimantan Timur, POLRI berhasil mengembalikan pengungsi 40.100 jiwa ke rumah masing-masing. Tahun 2006/2007, ia juga berhasil mengungkap kasus pertanahan. Sejumlah prestasi telah ditorehkan, pada umumnya kasus-kasus besar yang ditangani Polri selalu dipercaya menjadi ketua tim.

Salempang menjadi Kapolda Sulawesi Selatan saat dilaksanakan pemilihan umum dan pemilihan Presiden, kala itu Salempang berhasil menjadikan Sulawesi Selatan menjadi daerah yang aman. Meskipun hanya 6 bulan menjadi Kapolda Sulawesi Selatan, sejumlah prestasi telah di torehkan, ia berhasil membongkar beberapa kasus narkoba yang melibatnya beberapa oknum polisi, ia mencatat telah memecat 8 oknum polisi yang terbukti memakai dan mengedarkan narkotika sepanjang tahun 2009.

Selain dikenal sebagai Kapolda yang sangat tegas dan tidak pernah kompromi terhadap bawahannya. Salempang juga berhasil membangun komunikasi baik dengan mahasiswa yang ada di Makassar. Selama Salempang menjabat Kapolda tidak ada keributan mahasiswa di Makassar. Saelmpang menempatkan dirinya sebagai mitra mahasiswa dalam menjaga keamanan, ia turun langsung dan berdialog dengan mahasiswa di kampus masig-masing.

Saat masih menjabat Kapolda Kalimantan Timur, Salempang menjadi Ketua Tim Independen Kasus Mafia Hukum Polri. Ia ditugaskan oleh negara membongkar kasus besar yang melibatkan beberapa petinggi Direktorat Pajak, POLRI, Hakim dan Jaksa. Hanya dalam 4 bulan, kasus mafia pajak Gayus Tambunan terungkap semua.

Selain Gayus Tambunan yang ditangkap, ada beberap pegawai direktorat pajak termasuk direktur pajak dicopot dan diperiksa. Beberapa petinggi polri, hakim dan jaksa juga dicopot dari jabatannya dan diperiksa. Setelah kasus mafia pajak berhasil dibongkar oleh tim independen, tim ini dibubarkan dan kasus diserahkan ke Bareskrim Polri.

Salempang adalah anak yang sangat cerdas di masa kecilnya. Semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar, Matius sudah menunjukkan kepandaiannya itu. Ia mampu menjadi bintang pelajar dan mengalahkan rekan-rekan palajar lainnya.

Era tahun 60 an hingga 70 an adalah era dimana Toraja memasuki zaman keemasan dalam bidang pendidikan, begitu banyak orang tua dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Tengah menitipkan anaknya untuk menimba ilmu di Toraja. Di masa itu, Matius sudah berhasil menjadi juara satu dalam berbagai jenjang pendidikan.

Saat mengenyam pendidikan di SPG, semua guru-guru nya mengatakan bahwa Saelmpang merupakan siswa yang paling cerdas dan pintar dan ada keinginan dari sekolahnyaYayasan Pedidikan Kristen Toraja (YPKT) untuk menyekolahkan dan akan memberikan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Namun yang terjadi, saat dinyatakan lulus di SPG, bukan Salempang yang diberangkatkan melainkan orang lain.

Kejadian ini rupanya mengubah keseluruhan jalan hidup Salempang. Begitu ayahnya mengetahui bahwa bukan Salempang yang diberangkatkan, ayahnya kecewa. Salempang pun di arahkan masuk sekolah pendeta, sempat mendaftar di STT Rantepao dan dinyatakan lulus. Memang Matius tidak ditakdirkan menjadi seorang pendeta, ia lebih memilih berangkat ke Makassar ketimbang kuliah di STT.

Tahun 1971, ia masuk menjadi polisi dengan pangkat Bhayangkara Dua (setingkat dengan prajurit). Dari semua yang dinyatakan lulus polisi, mereka di test lagi untuk sekolah khusus di Bandung bidang perhubungan (Markoni) , Matius mendapat nilai terbaik dari semua yang ikut tes itu. Tahun 1972 setelah menyelesaikan sekolahnya 9 bulan, ia kembali ke Makassar menjadi polisi biasa selama 5 tahun.

Matius Salempang adalah tipikal orang yang tidak pernah puas dan pasrah dengan apa yang dijalaninya. Ia berpikir tidak mungkin hidupnya begini-gini terus. Sambil menjadi polisi, dengan biaya sendiri ia kuliah di IKIP Makassar sekarang UNM mengambil jurusan Hukum, bersamaan dengan itu ia juga kembali sekolah sore di SMA Amanagappa mengambil jurusan ilmu pasti (PAS). Bagi orang lain mungkin berpikir bahwa apa yang dijalani Matius adalah sebuah perbuatan yang konyol, bayangkan saja dalam waktu yang bersamaan, ia melakukann 3 kegiatan yaitu kerja menjadi seorang polisi, sekolah SMA dan kuliah. Bagi Matius memang ini pekerjaan yang cukup melelahkan dan menguras banyak tenaga, untuk mencapai sebuah tujuan dan cita-cita harus membutuhkan sebuah pengorbanan dan tidak boleh instan.

Kuliah di IKIP dari tahun 1972-1976, SMA di Amanagappa tahun 1972-1975. Semua berjalan baik dan lancar, setelah lulus SMA dan mendapat gelar sarjana muda, ia beberapa kali ikut test AKABRI Polisi, namun gagal. Tahun 1975 pernah lulus test AKABRI Angkatan Darat, begitu mau diberangkatkan, KAPOLDA tidak mengijinkan, lagi-lagi Matius gagal. Ia tidak pernah putus asa. Tahun 1977 kembali ikut test dan dinyatakan lulus AKABRI polisi, kali ini KAPOLDA mengijinkan.

Pada saat naik ke tingkat 2, dari 385 siswa cuma 45 orang yang dinyatakan lulus murni naik kelas, salah satunya adalah Matius Salempang. Naik ke tingkat 3, Matius dinyatakan peringkat 1, naik tingkat 4 juga dinyatakan peringkat 1, dan begitu lulus tahun 1981 di nyatakan lulusan AKABRI Polisi terbaik

Saat berpangkat Mayor, tahun 1994, ia ke Jepang sekolah reserse. Di sana Matius Salempang diberikan tugas menyelidiki organize crime. Indonesia saat itu belum memiliki bidang organize crime, Lagi-lagi ia menyelesaikan pendidikannya dengan baik. Tahun 2004, Matius Salempang mengikuti pelatihan di Inggris khusus anti teror senjata NUBIKA (nuklir biologi kimia). Kemudian Tahun 2007 saat itu masih ia berpangkat Kombes, Matius mengikuti pelatihan anti teror di Washington DC Amerika Serikat.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/heriyanto_rantelino/mengenal-27-tokoh-inspiratif-dari-toraja-sulawesi-selatan_54f39c40745513a42b6c7b4d .

Quo Vadis Salempang?

Setelah mendapatkan sekilas sosok Salempang dan berdasarkan pengalaman pribadi penulis, kiranya penulis bisa mendapatkan jawaban. Secara track record atau rekam jejak, Salempang bisa dikatakan mempunyai kapasitas, kapabilitas dan tentunya elektabilitas untuk maju dalam Pilkada Sulawesi selatan 2018.

Kalau sudah begini, berarti kita harus kembali lagi ke pertanyaan awal: mau atau tidaknya Salempang? Dan lagi-lagi penulis harus berhadapan dengan pertanyaan yang hanya Tuhan dan Salempang yang tahu jawabannya. Bagi penulis, ketidak tahuan apalagi rasa penasaran akan menjadi hal yang sangat menyiksa. Oleh karena itu penulis mengganti pertanyaannya agak tidak perlu lagi dijawab.

Pertanyaannya patut kita ubah menjadi : Mau Kemana lagi Salempang? Kalau warga sudah memintamu untuk maju. Meminjam penggalan cerita di Alkitab, kalimat yang merupakan pertanyaan yang dilontarkan Santo Petrus pada Yesus Kristus dalam perjalanannya dari resiko disalib di Roma. Quo Vadis?, tanya Santo Petrus saat itu. Jawaban Yesus mengatakan, "Aku hendak kembali ke Roma untuk disalibkan kembali" (Eo Romam iterum crucifigi) . Jawaban ini membuat Petrus menyadari panggilannya dan ia pun berbalik kembali ke Roma; kemudian ia disalibkan dan menjadi martir di sana.

Pertanyaannya sekarang menjadi Quo Vadis Salempang? Sebelum Salempang menjawab, sekelompok orang sudah melakukan tindakan mendukung Salempang maju di Pilkada Sulawesi Selatan dan "berkorban" dengan sukarela membuat bentuk dukungan seperti baliho-baliho yang tersebar di pelosok kota Makassar tadi. (Ferry Putra Utama. Jurnalis TV dan Penulis Tetap gloopic.net)

Komentar

Artikel Terkait
gloopic.net
Visitor Online :76
Visitor Today :3.034
Visitor Total :6.362.445

BERLANGGANAN NEWSLETTER

Dengan berlangganan NEWSLETTER anda akan menerima info tebaru dari situs kami.