gloopic.net
Artikel / Tokoh

Mata Hari : Mata-Mata Kelas Dunia Yang Besar di Indonesia

Ditembak matinya seorang penari erotis yang bekerja sebagai agen ganda yang berbahaya, dan menggunakan kelebihan seksualnya untuk mengorek rahasia militer dari para agen musuh yang dijadikan kekasihnya. Gambaran ini yang menjadikan Mata Hari sebagai ikon tokoh wanita berbahaya sepanjang masa.

Popularitas itupun kemudian diabadikan dalam bentuk film berjudul "Mata Hari", yang diluncurkan pada 1931 dan dibintangi Greta Garbo sebagai pemerannya. Alih-alih didasari oleh kisah nyata kehidupan Margaretha Zelle, kisah cerita itu malah lebih banyak fiksinya, demi memenuhi selera fantasi penonton agar seolah ceritanya berdasarkan fakta sejarah. Secara luar biasa kisah ini berhasil menjadi hiburan, karakter dalam kisah roman ini terus menginspirasi para penulis cerita dari generasi ke generasi.

Tentunya, kisah Mata Hari juga tersebar dalam berbagai versi film, serial televisi, serial animasi, dan serial video games. Banyak buku yang telah ditulis tentang Mata Hari; beberapa diantaranya mengklaim sebagai catatan sejarah bahkan beberapa diantaranya berupa biografi, namun kebanyakan diantaranya masih berupa rekaan.

Begitulah, pada 15 Oktober 1917, Mata Hari menolak diikat dan ditutup matanya, malah memberikan tiupan cium (blew a kiss) kepada regu penembak sesaat sebelum mereka menarik pelatuk. Rumor menyebutkan salah seorang penembak terpengaruh dan mengakibatkan sebuah tembakan ngawur! Apakah ia seorang mata-mata Jerman atau Perancis kah? Demikian legenda seorang mata-mata wanita yang amat terkenal yang pernah ada.

Mata Hari Besar di Indonesia

(Mata Hari terlahir dengan nama Margaretha Geertruida pada 7 Agustus 1876 di Leeuwarden Belanda.
Sebagai anak kedua dari Adam Zelle dan istrinya Antje van der Meulen (keturunan Indonesia-Belanda) dan putri semata wayang dari empat anaknya Zelle yang semuanya laki-laki. Ayahnya seeorang pedagang yang berhasil. Margaretha Geertruida (Mata-Hari), semasa remaja hidupnya biasa dilayani oleh para pembantu dan hidup penuh kecukupan dan kemewahan. Biasa dipanggil dengan nama kecilnya, M'greet. Ayahnya yang biasa memanjakan dirinya, biasa memanggilnya sebagai "sebatang anggrek di antara mangkuk-mangkuk."

Yang pasti, ia menikmati masa kanak-kanaknya. Namun ketika ia berusia 13 tahun, bisnis ayahnya bangkrut dan membuatnya menganggur di rumah. Ditambah lagi, dua tahun kemudian, ibunya meninggal.

Kemudian ia dititipkan untuk tinggal dengan kerabat keluarganya, dan ia mulai mengikuti pendidikan guru. Namun gagal, karena kecerobohannya terlibat affair dengan kepala sekolah. Kemudian, pada usia 18 tahun, ia mencoba merubah nasibnya dengan mengirim surat atas sebuah iklan yang di pasang di sebuah surat kabar, seorang tentara yang sedang mencari jodoh. Maka, ia bertemu seorang pria berusia 38-tahun, Kapten Rudolph MacLeod, seorang Belanda keturunan Skotlandia, dan pada 11 Juli 1895 mereka menikah.

Hidupnya akhirnya berubah juga, mereka memperoleh dua orang anak, seorang bayi laki-laki yang lahir pada 30 January 1897di Netherland diberi nama Norman. Sebungkah kegembiraan ini memberikan kebahagiaan bagi mereka berdua dan apalagi MacLeods kini selalu mendampingi, meskipun agak mengalami krisis keuangan karena pengeluaran untuk biaya pernikahan, dan bulan madu, serta biaya melahirkan pula.

Seperti diungkapkannya di kemudian hari, di saat perceraiannya, Margaretha menuding bahwa saat dirinya tengah melahirkan, Suaminya malah berhubungan dengan perempuan pribumi di ruangan lain rumah mereka. Lima bulan setelah kelahiran bayinya, akhirnya mereka memutuskan pindah ke Jawa Timur.

Waktu terus berlalu dan pengetahuan Margaretha juga bertambah. Seringkali di pesta-pesta yang diselenggarakan, ketika para tentara dan istrinya disuguhi pagelaran tarian lokal, Margaretha ikut pula menari sambil menghibur diri, ia pun tak risih untuk menyenangkan mata mereka yang memandangnya. Kepada sahabatnya, pada 1897, Margaretha menulis bahwa ia sempat diminta menari oleh para staf pegawai pemerintah Belanda di Jawa Timur, ia menngatakan bahwa ia memakai nama ‘Mata Hari’, yang diambil dari bahasa Melayu. Yang menarik adalah, bahwa Margaretha juga tertarik mendalami mitologi Hindu dan selalu berusaha menemukan orang yang bisa menterjemahkan berbagai kisah sendratari baginya. Rasa ketertarikannya ini membuat ia semakin melekatkan dirinya pada kepercayaan Hindu. Pada kesempatan ketika ia sedang sendiri di kamarnya, ia mempraktikkan tarian yang mampu menghipnotis, dan seringkali pula diiringi oleh suara musik orkestra yang berasal dari imaginasinya. Kini, seluruh jiwa raganya terpaut kepada tarian, dan mitologi Hindu, Margaretha seringkali merasa bahwa ia seperti seorang ‘Apsara’, atau seorang wanita Penari dari Kayangan, yang akan memperoleh kebahagiaannya hanya ketika ia menari bagi para Dewa.

Sementara suaminya, repot dengan hidupnya di Medan, ia pun tak mampu mengirimkan uang bagi istri dan anaknya. Margaretha tak mendapatkan bantuan finansial dari suaminya. Ia sangat merasa malu. Di satu sisi, John biasa menulis kepada sahabatnya, secara panjang lebar, komplain bahwa Margaretha tak memiliki sifat keibuan. Ia menulis secara detail bahwa ia seharusnya bisa bersih-bersih sendiri dan merapikan rumah.

Baru saja sebulan Margaretha tinggal di Medan, datang bencana, pada 25 June 1899, Norman anaknya yang berusia dua setengah tahun meninggal diracun makanannya, tapi anak perempuannya selamat karena kebetulan makannya tak banyak. Hasil investigasi membuktikan bahwa racun ditemukan pada saus yang terdapat pada nasi yang disantap anaknya. Suaminya menyalahkan Margaretha karena kurang memperhatikan anak-anaknya sehingga menyebabkan kejadian itu, akhirnya keduanya memutuskan bercerai secara resmi.

Margaretha kini benar-benar sendiri. Ia tersingkir dan tak beruang, tak memiliki kemampuan apapun untuk bekerja. Tak ada lagi masa depan bagi wanita 27 tahun ini. Ia teringat, di Jawa ia sempat membaca koran Belanda yang menawarkan kehidupan yang mudah di Paris, pusat budaya dan seni. Banyak penulis yang menulis berbagai keberhasilan tentang seni dan talenta, dan mereka semua amat dihargai di sana. Masih melekat dalam ingatannya pada sebuah foto sebuah tempat yang tak pernah ia tahu dan belum pernah ia lihat sebelumnya, tapi ia yakin bahwa mungkin ia memiliki masa depan di sana, akhirnya ia memutuskan pergi ke Paris dan mencoba peruntungannya di sana.

Ia pindah ke Paris, di mana ia bekerja sebagai pemain sirkus, dengan nama 'Lady MacLeod'. Berjuang memperoleh kehidupan, ia juga menjadi model pelukis potret Antonio de La Gandara.

Sejak 1905, ia terkenal sebagai penari eksotik bergaya Oriental. Sejak itulah ia menggunakan nama panggung Mata Hari, yang diambil dari bahasa Indonesia. Ia berperan, sebagai puteri dari tanah Jawa anak pendeta kelahiran India, mengaku hidupnya telah ditakdirkan bagi seni tari suci India sejak kecil. Meskipun alasan-alasan itu hanya karangannya, namun penampilannya memberikan kesuksesan baginya karena tariannya yang erotik itu dihargai bahkan memberikan status terhormat, mendobrak aliran yang ada, dan menjadi sebuah gaya hiburan yang membuat Paris dikenal ke seluruh dunia.

Mata Hari menjadi sosok yang berhasil dan memiliki banyak hubungan dengan tokoh-tokoh militer, politisi dan berbagai tokoh berpengaruh dari berbagai negara, termasuk Perancis dan Jerman.



Mata Hari, Sang Agen Ganda
Selama Perang Dunia I, Belanda berada pada posisi netral dan, sebagai orang Belanda, Margaretha Zelle dapat melintasi batas-batas kebangsaan. Untuk menghindari medan perang, ia harus melakukan perjalanan antara Perancis dan Belanda melalui Spanyol dan Inggris, dan tanpa terhindari gerakannya tentu akan mengundang perhatian dan curiga. Pada suatu kesempatan, saat diinterview oleh agen intelijen Inggris, ia mendaftar menjadi agen intelijen Perancis, meskipun kemudian tak ia tuliskan dalam biografinya.

Pada January 1917, atase militer Jerman di Madrid mengirimkan pesan radio ke Berlin menjelaskan tentang agen mata-mata Jerman yang dapat membantu, yang memiliki kode-panggilan H-21. Agen intelijen Perancis menyadap pesan itu dan, dari informasi yang mereka sadap itu, dikenali bahwa H-21 adalah Mata Hari. Sudah tentu, bahwa pesan yang dikirim oleh intelijen Jerman itu telah di tangkap oleh pihak Perancis, sebagian sejarawan menyebutkan bahwa dari pesan itu terungkap bahwa, pada saat Mata Hari bekerja untuk Perancis, rekan Perancis yang membayarnya mengidentifikasinya sebagai seorang agen ganda. Pada 13 February 1917, ia ditangkap di kamar hotelnya di Paris. Pada saat ia ditahan, Perancis tengah mengalami banyak kekalahan dalam peperangan. Ribuan tentaranya banyak yang mati, dan membutuhkan sesuatu untuk menjadi kambing hitam. Maka wanita Belanda yang tengah naik daun ini cocok untuk menjadi alasan. Ketenaran Mata Hari menjadi taruhan, ia dituduh sebagai mata-mata yang menyebabkan puluhan ribu tentara tewas. Meskipun merupakan spekulasi dan tak ada bukti nyata, tak terelakan ia dianggap bersalah dan dieksekusi di hadapan regu tembak pada 15 Oktober 1917, pada usia 41 tahun.

Dengan alasan demi keamanan negara, bukti-bukti dirahasiakan dan hingga kini, berkas-berkas tuntutannya tetap tertutup. Segala apa saja yang menjadi aktivitas Mata Hari di masa perang itu, yang diungkap melalui berkas-berkas pembuktian arsip lain, menjadi kabur. Para sejarawan tak menemukan apapun untuk membuktikan apakah Mata Hari memberikan suatu informasi kepada pihak lain, atau tidak.

Komentar

Artikel Terkait
gloopic.net
Visitor Online :45
Visitor Today :3.179
Visitor Total :6.526.008

BERLANGGANAN NEWSLETTER

Dengan berlangganan NEWSLETTER anda akan menerima info tebaru dari situs kami.