gloopic.net
Berita / Penerbangan

Semua Pemangku Kepentingan Penerbangan Harus Bekerjasama Hadapi Cuaca Ekstrem

(Jakarta, Gloopic) Kementerian Perhubungan meminta semua pihak atau pemangku kepentingan di penerbangan bekerja sama dalam menghadapi dampak cuaca ekstrem

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso meminta semua pihak dalam penerbangan untuk bersatu dan bekerjasama dalam mematuhi peraturan yang berlaku terkait dengan adanya cuaca ekstrem yang diperkirakan akan melanda wilayah Indonesia mulai awal hingga akhir Februari.

Adapun semua pihak yang dimaksud adalah regulator yaitu otoritas bandar udara setempat; operator seperti maskapai penerbangan, pengelola bandara, pengelola navigasi penerbangan dan BMKG; serta juga masyarakat dalam hal ini penumpang pesawat.

"Yang bisa kita lakukan adalah mengakrabi alam sehingga dalam keadaan apapun cuacanya, kita tetap bisa beraktivitas dengan selamat, aman dan nyaman. Jadi saya harap semua pihak harus maklum dan bekerjasama jika menghadapi cuaca ekstrem tersebut," ujar Agus.

Agus melanjutkan bahwa begitu pula dengan aktivitas penerbangan. Jika ternyata cuacanya sangat ekstrem dan tidak memungkinkan melakukan penerbangan sesuai dengan standar prosedur operasi yang berlaku dalam keselamatan dan keamanan penerbangan, maka penerbangan tersebut harus ditunda atau bahkan dibatalkan.

Untuk itu, semua pihak harus mematuhi hal tersebut, karena hal ini ditempuh demi keselamatan para penumpang.

Adapun untuk kenyamanan penumpang, Ditjen Perhubungan Udara selaku regulator penerbangan juga sudah membuat peraturan seperti misalnya Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 89 tahun 2015 tentang Penanganan Keterlambatan Penerbangan (Delay Management).

"Jadi kalau ada cuaca ekstrem, maka BMKG, Airnav dan maskapai serta pengelola bandara harus cepat berkoordinasi sehingga didapat kesimpulan penerbangan akan ditunda atau dibatalkan," tutur Agus.

Setelah itu pengelola bandara dan maskapai juga harus memberikan informasi yang transparan kepada penumpang terkait hal yang terjadi sehingga penumpang menjadi maklum.

"Penumpang dan operator harus bekerjasama membuat kondisi yang nyaman bagi semua pihak tanpa merugikan salah satu pihak. Dan semua kegiatan tersebut harus dalam koordinasi dan pengawasan dari otoritas bandara setempat," kata Agus.

Agus mencontohkan kejadian cuaca ekstrem yang terjadi sepanjang hari di Jakarta dan sekitarnya pada 15 Februari 2018 lalu.

Hujan dan cuaca ekstrem terjadi sejak pukuk 23.30 UTC (06.30 WIB) sampai dengan sore hari. Visibility (jarak pandang) di Bandara Soekarno Hatta pada pkl. 00.00 s.d 01.00 UTC (07.00 - 08.00 WIB) bahkan hanya sampai 300 meter sehingga tidak memungkinkan pesawat untuk take off atau mendarat. Kondisi tersebut membuat banyak traffic yang delay departure dan holding untuk arrival.

Dari data laporan JATSC AirNav, mulai pukul 00.00 UTC (07.00 WIB ) pada 15 februari sampai dengan dini hari pada 16 februari, sebaran traffic bervariasi antara 22 sampai dengan 73 movement per jam.

Adapun oeak hour terjadi pada pukul 16.00 - 17.00 WIB yang mencapai 73 movement (take off - landing pesawat) dalam satu jam. Rata-rata traffic movement dari pagi sampai dengan pukul 23.00 WIB berkisar 65 movement per jam, lebih rendah dari hari sebelumnya.

"Jadi semua maskapai terkena dampak karena rotasi pesawat menjadi terganggu dan berakibat delay. Untuk meminimalisirnya, AirNav Indonesia sudah melakukan open slot, sehingga siapa maskapai yang siap berangkat, langsung di-released oleh ATC," kata Agus.

Dengan demikian, delay yang terjadi pada 15-16 Februari lalu terutama di Bandara Soekarno-Hatta memang murni karena faktor cuaca, bukan karena pelayanan operator penerbangan yang menurun.

"Kami mengharapkan semua pihak untuk maklum serta tetap bekerjasama sehingga tercapai penerbangan yang selamat, aman dan nyaman," tegas Agus.

Komentar

Berita Terkait
gloopic.net
Visitor Online :44
Visitor Today :2.879
Visitor Total :6.273.418

BERLANGGANAN NEWSLETTER

Dengan berlangganan NEWSLETTER anda akan menerima info tebaru dari situs kami.