IATA/ICAO : PDG / WIPT
Nama Bandara : Internasional Minangkabau
Profil Bandara :

BANDAR UDARA INTERNASIONAL MINANGKABAU PADANG

Profil kota Padang Sumatera Barat

Sumatera Barat adalah salah satu Propinsi di Indonesia yang dikenal dengan nama Ranah Minang atau Minangkabau, nama Minangkabau berarti Kemenangan Kerbau. Propinsi ini mempunyai luas 42.297,30 Km2. Di sebelah Utara berbatasan dengan Propinsi Sumatera Utara disebelah Selatan berbatasan dengan Propinsi Bengkulu dan Jambi dan di sebelah Timur berbatasan dengan Propinsi Riau.

Sumatera Barat terletak di daerah khatulistiwa dengan dataran tinggi yang mempesona, hutan yang kaya, pegunungan dengan hutan yang lebat, danau-danau, sawah dan perkampungan yang damai dibawah bukit. Propinsi yang memiliki keindahan alami ini membuat Minagkabau menjadi sebuah taman yang besar. Ibukota Propinsi Sumatera Barat adalah Padang yang terletak di daerah pantai.

Terletak di Jalan utama antara Padang dan Bukit Tinggi, terdapat Anai Resort yang berlokasi di ketinggian 550 meter di atas permukaan laut. Tempat ini merupakan lapangan golf terbaik di Sumatera Barat dengan standar internasional, didesain oleh arsitek lapangan golf terkenal di dunia Thomson and Perret. Hanya beberapa kilometer dari Anai Resort terdapat ngarai dan air terjun yang sejuk dan bersih pada ketinggian 40 meter di sisi jalan utama.

Di kota Bukit Tinggi terdapat sebuah jam besar yang disebut Jam Gadang. Jam ini dibuat oleh Pemerintah Belanda tahun 1827 yang dapat dilihat dari beberapa tempat dan pada atapnya menggunakan atap Bagonjong. Lima kilometer dari pusat kota Bukit Tinggi, terdapat Ngarai Sianok, dengan dinding setinggi 100 sampai 200 meter membentang sejauh 13 kilometer dengan dipenuhi oleh semak belukar. Arah Timur dari kota Bukit Tinggi kita akan sampai pada kota Batusangkar dimana terdapat komplek Istana Pagaruyung yang dahulu merupakan pusat kerajaan Minagkabau. Disana ada sebuah rumah besar atau rumah Gadang yang indah, replika dari istana asli yang terdiri dari tujuh ruang. Arsitektur bangunan mengikuti bentuk asli dan berhiaskan ukiran pada eksteriornya. Atap yang runcing merefleksikan tanduk kerbau, yang menjadi referensi beberapa gedung dan juga Bandar Udara Internasional Minangkabau.

Secara administratifif Bandar Udara Minagkabau terletak di Kabupaten Padang Pariaman yang mayoritas penduduknya petani dan nelayan. Kabupaten ini merupakan penghasil ikan dan kelapa terbesar du  Sumatera Barat. Padang Pariaman memiliki pantai yang indah antara lain, Pantai Gandoriah yang terletak didepan stasiun kereta api Kota Pariaman, dikenal dengan deretan pohon-pohon pinusnya yang indah di sepanjang pantai. Juga terdapat Pantai Kata yang berlokasi kira-kira 15 km dari pusat kota Pariaman, pantainya yang berpasir putih, airnya yang bersih dan sinar matahari yang cerah merupakan tempat yang baik untuk berenang dan berjemur.

Di Padang Pariaman ada Perayaan yang unik yang bernama Tabuik diadakan setiap tahunnya antara tanggal sampai 10 muharram tahun hijiriyah. Perayaan ini diadakan berdasarkan simbolisasi cerita tentang kejadian yang dialami oleh cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husein yang wafat dalam Perang Karbala.

Yang tidak kalah menariknya dari Propinsi Sumatera Barat adlaah Mentawai. Kepulauan Mentawai terdiri dari pulau-pulau seperti Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan. Pulau Siberut merupakan pulau terbesar , dikenal dengan hutan lindung seluas 195.000 Ha. Pada hutan ini terdapat jenis mamalia dan binatang khas Indonesia lainnya serta memiliki lebih dari 1000 jenis burung. Kepulau Mentawai bisa dicapai dengan menggunakan perahu motor kira-kira 5-6 jam dari pelabuhan muara atau Bungus di Padang. Kebudayaan Mentawai yang unik dan eksotis, terdiri dari banyak ritual, kebanyakan penduduknya memiliki Tato pada tubuhnya.

Dengan batu karang yang indah dan ombak yang besar, aktifitas seperti berselancar dan menyelam sangat mengasyikkan bagi wisatawan mancanegara. Ada 5 lokasi pantai untuk berselancar, Nyang-nyang, Tua Pejat, Sibigau, Katia dan Silabu-labu.

Disamping itu di setiap kabupaten dan kotamadya yang ada di Propinsi Sumatera Barat terdapat tempat wisata yang sudah dikelola maupun berpotensi untuk dikembangkan, seperti Danau Maninjau, Kelok 44, dan Puncak Lawang di Kabupaten Agam, Danau di atas dan di bawah di Kabupaten Solok serta Ngalau dan Harau Payakumbuh. Di Kapubaten Pesisir Selatan terdapat Pantai Carocok, Pantai Mande, Jembatan Akar dan Air Terjun Bayang Sani. Sedangkan di Kota Padang, tidak kalah menariknya, juga terdapat objek wisata Pantai Bungus, Pantai Padang, Pantai Caroline, Batu Malin Kundangdi Pantai Air Manis, Resort Sikuai dan Museum Budaya Sumatera Barat. Selain itu, masih banyak objek-objek wisata budaya, wisata alam, dan wisata religius yang menjadi kebanggan masyarakat Sumatera Barat.

Profil Bandar Udara Internasional Minagkabau Padang

Penantian panjang masyarakat Sumatera Barat untuk hadirnya sebuah bandara bertaraf internasional di Bumi Ranahminang terwujud sudah. Bandara baru di Ketaping yang diberi nama Bandara Internasional Minangkabau (BIM) telah dioperasikan sejak 22 juli 2005. bandara ini didesain dengan arsitektur tradisional Minangkabau dengan ciri khas Bagonjong atau atap berbentuk tanduk dan interior terminal penumpang yang dihiasi dengan ukiran Minangkabau tradisional sebagai aksen interior modern yang penuh imajinasi.

Bandara Internasional Minangkabau merupakan bandara pertama dan satu-satunya di negara ini bahkan di dunia yang menggunakan nama etnik sebagai nama bandaranya. Fasilitas pendukungnya yang semuanya menggunakan nama dan istilah Minang dan gedung terminal penumpangnya merupakan gedung terbesar di Indonesia dengan arsitektur Minangkabau.

Bandara Internasional Minangkabau terletak 23 km dari pusat Kota Padang, menempati lahan seluas ± 427 hektare sebagai pintu gerbang utama Sumatera Barat. Bandara ini mulai dibangun tahun 2001 menggantikan Bandara Tabing yang telah beroperasi selama 34 tahun. Dipindahkannya Bandara Tabing ke Bandara Internasional Minangkabau karena sudah tidak lagi memenuhi persyaratan dari segi keselamatan penerbangan. Bandara baru yang pembangunannya menghabiskan dana sekitar 9,4 miliar Yen yang merupakan pinjaman lunak dari Japan Bank Internasional Coorporation (JICB) dan APBN sekitar Rp. 97,6 miliar (10%-nya) melibatkan kontraktor Shimizu dan Marubeni JO dari Jepang serta Adhi Karya dari Indonesia.

Jumlah penerbangan yang melayani rute dari dan ke Bandara Internasional Minangkabau seperti di Bandara Tabing menghubungkan Padang dengan Jakarta, Medan, Batam dan Pekanbaru untuk domestik, sedangkan untuk pelayanan transportasi udara ke luar negeri (internasional) yaitu Singapura dan Kuala Lumpur. Hingga saat ini tercatat sebanyak sepuluh maskapai penerbangan nasional dan dua maskapai penerbangan asing beroperasi di Bandara Internasional Minangkabau. Bandara Internasional Minangkabau dapat menampung pesawat udara berbadan lebar seperti A 330 atau MD 11 dan kelengkapan fasilitas yang jauh berbeda dengan Bandara Tabing dapat lebih menggairahkan aktifitas penerbangan di bandara ini.

Bandara Internasional Minangkabau merupakan bandara kedua setelah Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng yang pembangunannya benar-benar dari awal. Rencana induk (masterplan) bandara ini akan dibangun dalam tiga fase, fase keduanya akan dimulai pada tahun 2010. bila seluruh fase telah diselesaikan panjang landasan Bandara Internasional Minangkabau akan bertambah hingga 3.600 meter yang dilengkapi dengan parallel taxiway disertai dengan pembangunan fasilitas pendukung lainnya, seperti gedung terminal penumpang. Mengingat kondisi saat ini, jumlah penumpang yang sudah mencapai 1,3 juta pertahun, sudah dua kali lipat lebih dari yang direncanakan dulu, yang menargetkan 622.000 penumpang pertahun untuk dapat dipenuhi pada tahun 2010. Bandara Internasional Minangkabau harus secepatnya dikembangkan agar dapat menampung peningkatan jumlah penumpang dan barang dimasa yang akan datang, sehingga kenyamanan dan kepuasan pengguna jasa dapat tercapai.

Bersamaan dengan pembangunan bandara, Pemerintah daerah membangun sebuah jembatan layang (fly over) di perempatan jalan masuk ke bandara, yang sampai saat ini belum selesai pengerjaannya, serta pelebaran ruas jalan Tabing – Duku sepanjang 10 km yang terletak pada ruas jalan Padang – Bukit Tinggi. Dengan status jalan Nasional ini, merupakan bagian dari upaya Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang bertujuan disamping untuk meningkatkan kapasitas pelayanan mobilitas penumpang dan barang, juga dalam rangka menunjang Bandara Internasional Minangkabau. PT. (Persero) Kereta Api juga berencana membuka akses kereta api masuk ke Bandara Internasional Minangkabau dengan menambah rel baru sepanjang 4 km masuk ke bandara ini. nantinya dengan dukungan prasarana yang memadai, Bandara Internasional Minangkabau mudah dicapai dengan bermacam moda transportasi. Untuk public transportation saat ini baru tersedia bus dan taksi yang melayani rute Bandara Internasional Minangkabau – Kota Padang dan kota – kota lain di Sumatera Barat.

Bandara Internasional Minangkabau membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat, yang sekaligus merupakan tantangan baru yang harus dihadapi. Dalam konsep ekonomi pembangunan, prasarana publik harus lebih dulu dipersiapkan. Karena nantinya prasarana pendukung lainnya akan terstimulator dengan sendirinya. Sumatera barat memiliki keunggulan dari segi alam dan Budayanya serta pendidikan yang tinggi, menjadi suatu prospek yang bagus untuk mengembangkan perekonomian Sumatera barat. Terlebih lagi dari segi pariwisata Sumatera Barat yang memang cukup potensial untuk menumbuh kembangkan daerah.

Latar Belakang Bandar Udara Internasional Minagkabau

Wilayah teritorial Sumatera Barat merupakan daerah perbukitan. Bukit Barisan membelah Sumatera barat menjadi dua bagian membentang dari Utara ke Selatan. Kondisi geografis ini tidak menguntungkan dari segi ekonomi bagi transportasi darat dan laut.

Transportasi udara menjadi solusi atas masalah geografis ini dan Propinsi Sumatera Barat memerlukan sebuah bandar udara yang bisa memwakili daerah ini serta berfungsi memajukan perkembangan perekonomian. Saat itu, transportasi udara dilakukan dengan menggunakan Bandar Udara Tabing di Padang.

Namun karena meningkatnya permintaan penumpang, Bandar Udara Tabing berpotensi mengalami masalah di masa yang akan datang. Karena faktor keselamatan penerbangan Bandar Udara Tabing tidak dapat didarati oleh pesawat berbadan lebar/besar begitu juga dengan penggunaan Instrument Landing System (ILS).

Karena adanya halangan (Obstacle) berupa Gunung Pangilun dan Bukit Sariak, pengembangan arela Bandar Udara Tabing menjadi terbatas. Pemenuhan persyaratan keselamatan penerbangan dan dampak lingkungan atas pengoperasian bandar udara akan mengganggu pengembangan kota di masa yang akan datang. Untuk mengatasi masalah tersebut dan memenuhi permintaan arus penumpang di masa yang akan datang, diperlukan bandar udara yang memadai.

Setelah diadakan beberapa studi perbandingan atas Bandar Udara Tabing dan kemungkinan dibangunnya bandar udara baru, Pemerintah Republik Indonesia memutuskan untuk membangun bandar udara baru di Ketaping Batang Anai Padang Pariaman Sumatera Barat. Proyek ini dilaksanakan oleh Departemen Perhubungan, Direktorat Jenderla Perhubungan Udara dengan bantuan luar negeri dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC).

Tujuan proyek ini adalah untuk pekerjaan kontruksi Tahap I pengembangan rencana induk bandar udara baru. Studi kelayakan atas bandar udara baru ini dimulai pada tahun 1981, hasilnya, merupakan rencana induk bandar udara baru di Ketaping Batang Nai Padang Pariaman – Sumatera Barat.

Detail desain pengembangan Tahap I dilakukan pada tahun 1987. Review Design dilakukan pada atahun 1996, untuk menyesuaikan dengan persyaratan terbaru atas pengoperasian bandar udara baru. Tahap kontruksi dimulai pada tahun 2002 dan selesai pada tahun 2005.

Bandar Udara Internasional Minagkabau memiliki lahan seluas ± 430 Ha terletak di sepanjang pantai di Ketaping, Padang Pariaman sekitar 23 Km dari arah Utara kota Padang.  Diharapkan pembangunan bandar udara ini bisa mengantisipasi permintaan lalu lintas udara pada tahun 2010 dan akan mengakomodasi pesawat berbadan lebar sejenis A-330.

Data Umum Bandara :

DATA BANDARA INTERNASIONAL MINANGKABAU

Nama Bandara

:

Minang Kabau   

Kode IATA / ICAO

:

PDG/WIPT

Alamat

:

Bungo Pasang, Koto Tangah

Padang 25171 Sumatera Barat

Telepon

:

(0751) 819123

Fax

:

 

Kabupaten / Kota - Propinsi

:

Padang - Sumatera Barat

Kelas

:

I (satu)

Koordinat

:

00.47.03.S 100.17.05.E

Elevasi

:

79

Azimuth

:

15 - 33

PCN

:

83  FCXT

Dimensi Runway

:

2750 m x 45 m

Dimensi Taxiway

:

448 m x 30 m ; 334 m x 30 m ;305 m x 30 m ;

Dimensi Apron

:

315 m x 120 m ;

TORA

:

 

TODA

:

 

Luas Terminal Penumpang

:

12567 m2

Pengelola

:

PT. Angkasa Pura II

Jenis Pesawat

:

767, A 330

Fasilitas  Bantu Pendaratan

:

 

Visual

:

PAPI, RWE, PALS

Instrument

 

ILS (ident : IMKB)

Fasilitas Navigasi

:

NDB (ident : OQ), DVOR (ident : MKB)

Jenis Pelayanan Lalu Lintas Udara

:

ADC, APP

Kategori PK-PPK

:

0

Photo Gallery